Mencapai Taqwa dengan Menjauhi Hal yang Syubhat


Mencapai Taqwa dengan Menjauhi Hal yang Syubhat
Islamedia - Setelah beberapa hari lepas dari Ramadhan, sudah seharusnya seorang muslim memeriksa apakah target utama yang dicanangkan Allah swt dalam event yang bernama Ramadhan itu tercapai. Target utama itu seperti yang disitir dalam akhir ayat Al-Baqarah 183, "La'allakum tattaquun." Agar kamu bertaqwa.

Inti pengertian taqwa sesungguhnya adalah mengerjakan setiap perintah Allah swt dan menjauhi segala larangannya. Untuk mencapai derajat ini perlu latihan, konsistensi, dan disiplin. Selain itu, diperlukan juga ilmu agar dapat mengetahui hal apa saja yang diperintahkan dan dilarang. Tak cukup dengan itu, pengetahuan seorang muslim mengenai yang halal dan yang haram kadang kala terbatas sehingga menemui hal yang dinamakan dengan syubhat, sesuatu yang tidak dapat ditentukan halal atau  haramnya oleh orang awam sehingga harus ditanyakan kepada orang yang berilmu.

Untuk menuju kepada derajat taqwa, penyikapan seorang muslim untuk masalah syubhat yang ia belum tahu hukumnya adalah dengan menghindari hal tersebut. Sikap ini seperti yang diperintahkan oleh Rasulullah saw,

"Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya ada yang syubhat, manusia tidak banyak mengetahui. Siapa yang menjaga dari syubhat, maka selamatlah agama dan kehormatannya. Dan siapa yang jatuh pada syubhat, maka jatuh pada yang haram. " (HR Bukhari dan Muslim).

Imam Sufyan Ats-Tsauri menjelaskan, "Tidaklah seseorang mencapai hakekat taqwa, sehingga dia menjauhkan diri dari segala yang diharamkan dan hanya mencari yang halal. Dan hendaknya dia meninggalkan segala dosa serta hal-hal yang syubhat." (Hilyatul awliya', jld 3, hlm 289)

Memang, hal yang syubhat ini biasanya sangat menggoda. Yang paling mudah contohnya adalah dalam hal makanan, sering ditemui produk yang belum memiliki sertifikat halal namun menggoda untuk dicicipi. Atau sering kali ada selentingan pertanyaan apakah sesuatu yang dikerjakan itu Allah ridhoi atau tidak. Sedangkan untuk bertanya kepada seorang ustadz pun butuh waktu. Maka tidak ada lain yang perlu dilakukan adalah menghindari perbuatan atau hal yang diragukan hukumnya.

Sikap hati-hati menghindari hal yang syubhat ini sangat mirip dengan jawaban seorang sahabat yang ditanyai Umar bin Khattab r.a. tentang arti taqwa. Yang sahabat itu menjawab dengan sebuah pertanyaan balik, "Apa yang kamu lakukan saat menyusuri jalan yang penuh berduri?" Saat Umar r.a. menjawab "Aku melangkah hati-hati," tepatlah metafora itu menjadi jawaban sahabat yang ditanyai Umar r.a. Taqwa itu bersikap hati-hati.

Memang awalnya berurusan dengan hal yang syubhat ini berat. Karena itu orang yang bertaqwa memiliki tuntutan dalam hidupnya untuk terus menambah pengetahuan agamanya sehingga bisa membedakan mana yang halal dan haram. Usaha ini dijamin sukses oleh Allah swt karena Ia ta'ala telah berfirman,

"Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan. Dan kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar." (QS Al-Anfaal : 29)

Furqon yang dimaksud adalah kemampuan membedakan yang haq dan bathil. Haram dan halal.

Wallahua'lam bish-showab.