Ramadhan Bulan Kemerdekaan


IslamediaPagi itu benar-benar pagi yang bersejarah bagi bangsa Indonesia, dimana rakyat yang memanggul bambu runcing dan senjata tajam sudah berkumpul untuk mendengarkan dibacakannya teks Proklamasi.  Tujuh puluh prajurit dan lima perwira  Tentara Pembela Tanah Air pun siaga penuh , bersiap menghadang kalau bala tentara jepang datang menyerang (Suryanegara, 2010).

Hingga momentum yang diharapkan pun tiba.  Jum’at Legi  pukul 10.00 pagi, 17 Agustus 1945, bertepatan dengan tanggal 09 Ramadhan 1364 H, dibacakanlah Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.  Jalan pegangsaan Timur 56 Jakrta, merupakan saksi atas lahirnya sebuah bangsa yang merdeka, “Indonesia”.

Pejuang ‘45 yakin ini bukan sekedar kebetulan, tapi ini merupakan rahmat terbesar di Bulan Ramadhan yang terakumulasi dari peluh perjuangan mereka selama ini. Tak ayal rasa syukur dan kebahagiaan begitu memuncak, karena bukan lapar dan dahaga fisik yang menjadi masalah terbesar mereka saat itu, tapi “lapar dan dahaga” menjadi bangsa yang merdekalah yang mereka idam-idamkan. Kondisi dimana tidak ada lagi perbedaan ras dan warna kulit, tapi yang membedakan hanyalah Ketaqwaan di sisi Allah swt.

Keberhasilan perjuangan angkatan ‘45 bukan berarti akhir. Lebih tepatnya ini merupakan awal dari perjalanan sebuah bangsa yang merdeka. Oleh karena itu, kita sebagai generasi penerus perjuangan memiliki kewajiban yang lebih besar, yakni menata kemerdekaan, mempertahankannya, memajukan eksistensi di mata dunia dan di hadapan Allah swt.

Sejarah berkata bahwa generasi pendahulu kita tidak mengeluhkan, betapa beratnya mereka  harus mempersiapkan kemerdekaan sambil menahan lapar dan dahaga berpuasa.  Jadi, alangkah naifnya kita yang saat ini menjadikan puasa sebagai alibi untuk tidak beraktifitas secara maksimal dalam menjalani kehidupan. Kita pun sebagai generasi intelektual seharusnya bisa lebih merasakan spirit kemerdekaan dan rasa syukur yang dahulu Bung Karno, Moh. Hatta, dan seluruh pejuang kemerdekaan rasakan.  

Wallahu a’lam bi shawab.

 “Ramadhan adalah bulan rahmat, bulan kemenangan, bulan kemerdekaan”.


Khairil Azhar
Komisi B BP Nasional Jawa Barat
FSLDK Indonesia