Mahathir Muhammad Kembali Maju di Pemilu Perdana Menteri Malaysia


Islamedia Negara tetangga Indonesia, Malaysia hari ini sedang melangsungkan pemilihan perdana menteri baru, Rabu 9 Mei 2018. Pemilihan kali ini terbilang menarik karena mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Muhammad maju melawan calon Perdana Menteri Petahana, Najib Razak.

Dilansir Straits Times, Pemilihan ini juga dijuluki 'Ibu dari semua pemilu'. Sebabnya, terjadi perubahan pola administrasi penyelenggaraan pemilu setelah 60 tahun dan bakal menjadi rujukan.

Pada jajak pendapat terakhir, elektabilitas antara Barisan Nasional (BN), partai pengusung Najib, dengan Pakatan Harapan (PH), pengusung Mahathir, saling susul menyusul.

Pemungutan suara dimulai pukul 08.00 waktu setempat. Ada 8.253 Tempat Pemungutan Suara (TPS) dibuka hingga pukul 17.00 waktu setempat untuk melayani 15 juta pemilih.

Diprediksi hasil mulai dapat diketahui pada pukul 21.00 waktu setempat. Namun demikian, hasil yang mendekati pasti baru bisa diketahui usai tengah malam nanti.

Di lapangan, antrean warga mengular di sejumlah TPS. Ada beberapa warga yang dilaporkan menerima surat suara tanpa stempel sehingga dinyatakan tidak sah.

Sebelumnya, beberapa lembaga survei menyebut kedua kandidat tidak ada yang mampu mengamankan posisi meski sudah berupaya keras lewat kampanye selama 11 hari. Najib dan Mahathir bersaing ketat untuk menduduki kursi Malaysia 1.

Lembaga riset terkemuka Merdeka Center dan Ilham Center sama-sama mengakui PH memang lebih populer. Meski demikian, partai oposisi tersebut membutuhkan momentum untuk mengantisipasi gelombang suara pemenangan dari Malaysia Timur untuk kubu BN.

" Kami mendapat temuan BN mendapat keuntungan dengan jumlah perolehan kursi yang cukup besar. Tingginya selisih kursi menunjukkan partisipasi pemilih menjadi faktor utama yang menentukan perolehan," demikian pernyataan Merdeka Center seperti dilansir dream.co.id.

Kedua kandidat saat ini tengah menghadapi persoalan hukum. Najib diduga terlibat dalam kasus megakorupsi 1MDB dengan nilai mencapai 2,76 miliar ringgit, setara Rp9,4 triliun. Sedangan Mahathir tengah diperiksa terkait dugaan penyebaran berita palsu mengenai pembajakan pesawat yang ditumpanginya.[islamedia].

Baca Ini Juga ...: