Indahnya Toleransi di Jakarta, Masjid Istiqlal-Gereja Katedral Berdiri Berdampingan dan Damai


Masjid Istiqlal Gereja Katedral
Islamedia Jika ingin merasakan dan menyaksikan langsung kehidupan toleransi antar umat beragama, datanglah ke Ibukota negara Indonesia Jakarta, beragam agama hidup damai dan berdampingan. Meskipun Islam sebagai agama mayoritas di Jakarta, tak ada pemaksaan kepada pemeluk agama lain.

Salah satunya dalam hal rumah Ibadah, bangunan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral yang berdiri berdampingan tanpa saling mengganggu antara pemeluknya.

Dalam peringatan hari-hari besar Agama Islam maupun Kristen, antara Istiqlal dan Katedral seringkali saling memperbolehkan lahan parkirnya untuk parkir kendaraannya. 

Saat Idul Fitri tiba, jamaah Masjid Istiqlal diberikan kesempatan untuk memarkir kendaraanya di area Gereja Katedral. Sebaliknya saat Natal tiba, pihak Masjid Istiqlal juga memberikan kesempatan kepada para jemaat Katedral untuk memarkir kendaraannya diarea Istiqlal.

MASJID ISTIQLAL

Masjid Istiqlal merupakan masjid negara Indonesia yang mewakili jutaan umat muslim Indonesia. Karena menyandang status terhormat ini maka masjid ini harus dapat menjadi kebanggaan bangsa Indonesia sekaligus menggambarkan semangat perjuangan dalam meraih kemerdekaan. Masjid ini dibangun sebagai ungkapan dan wujud dari rasa syukur bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam, atas berkat dan rahmat Allah SWT yang telah menganugerahkan nikmat kemerdekaan, terbebas dari cengkraman penjajah. Karena itulah masjid ini dinamakan “Istiqlal” yang dalam bahasa Arab berarti “Merdeka”.

Masjid Istiqlal adalah masjid nasional negara Republik Indonesia yang terletak di pusat ibukota Jakarta tepatnya di di bekas Taman Wilhelmina, di timur laut lapangan Medan Merdeka yang di tengahnya berdiri Monumen Nasional (Monas). Pembangunan masjid ini diprakarsai oleh Presiden Republik Indonesia saat itu yaitu Ir. Soekarno. Peletakan batu pertama, sebagai tanda dimulainya pembangunan Masjid Istiqlal dilakukan oleh Ir. Soekarno pada tanggal 24 Agustus 1951. Arsitek Masjid Istiqlal adalah Frederich Silaban, seorang Kristen Protestan.

Masjid Istiqlal berada Bangunan utama masjid ini terdiri dari lima lantai dan satu lantai dasar. Masjid ini memiliki gaya arsitektur modern dengan dinding dan lantai berlapis marmer, dihiasi ornamen geometrik dari baja antikarat. Bangunan utama masjid dimahkotai satu kubah besar berdiameter 45 meter yang ditopang 12 tiang besar. Menara tunggal setinggi total 96,66 meter menjulang di sudut selatan selasar masjid. Masjid ini mampu menampung lebih dari dua ratus ribu jamaah.

Masjid ini mempunyai arsitektur yang bergaya modern. Jamaah dan wisatawan yang berkunjung ke masjid ini dapat melihat konstruksi kokoh bangunan masjid yang didominasi oleh batuan marmer pada tiang-tiang, lantai, dinding dan tangga serta baja antikarat pada tiang utama, kubah, puncak menara, plafon, dinding, pintu krawangan, tempat wudhu, dan pagar keliling halaman. Selain sebagai tempat ibadah, Masjid Istiqlal juga merupakan obyek wisata religi, pusat pendidikan, dan pusat aktivitas syiar Islam. Dengan berkunjung ke masjid ini, jamaah dan wisatawan dapat melihat keunikan arsitektur masjid yang merupakan perpaduan antara arsitektur Indonesia, Timur Tengah, dan Eropa. Arsitektur Indonesia  pada bangunan yang bersifat terbuka dengan memungkinkan sirkulasi udara alami sesuai dengan iklim tropis serta letak masjid yang berdekatan dengan bangunan pusat pemerintahan. Kemudian pada bagian dalam kubah masjid yang berhiaskan kaligrafi merupakan hasil adopsi arsitektur Timur Tengah. Masjid ini juga dipengaruhi gaya arsitektur Barat, sebagaimana terlihat dari bentuk tiang dan dinding yang kokoh.




GEREJA KATEDRAL

Gereja Katedral adalah sebuah gereja katolik di Jakarta. Gedung gereja ini diresmikan pada 1901 dan dibangun dengan arsitektur neo-gotik dari Eropa, yakni arsitektur yang lazim digunakan untuk membangun gedung gereja beberapa abad yang lalu. Gereja yang sekarang ini dirancang dan dimulai oleh Pastor Antonius Dijkmans dan peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Pro-vikaris, Carolus Wenneker. Pekerjaan ini kemudian dilanjutkan oleh Cuypers-Hulswit ketika Dijkmans tidak bisa melanjutkannya, dan kemudian diresmikan dan diberkati pada 21 April 1901 oleh Mgr. Edmundus Sybradus Luypen, S.J., Vikaris Apostolik Jakarta. Gereja Katedral yang kita kenal sekarang sesungguhnya bukanlah gedung gereja yang asli karena Katedral pada 27 Juli 1826  itu terbakar bersama 180 rumah penduduk di sekitarnya.

Arsitektur gereja dibuat dengan gaya neo gothic. Denah dengan bangunan berbentuk salib dengan panjang 60 meter dan lebar 20 meter. Pada kedua belah terdapat balkon selebar 5 meter dengan ketinggian 7 meter. Konstruksi bangunan ini dikerjakan oleh seorang tukang batu dari Kwongfu, China. konstruksi bangunan ini terdiri dari batu bata tebal yang diberi plester dan berpola seperti susunan batu alam. Dinding batu bata ini menunjang kuda-kuda kayu jati yang terbentang selebar bangunan.

Ada 3 menara di Gereja Katedral, yaitu: Menara Benteng Daud, Menara Gading dan Menara Angelus Dei. Menara ini dibuat dari besi. Bagian bawah didatangkan dari Nederland dan bagian atas dibuat di bengkel Willhelmina, Batavia.

Dengan interior yang begitu indah dan megah ini, Gereja Katedral juga sering dijadikan sebagai tempat pemberkatan pernikahan. Seperti dua pernikahan pasangan selebriti Indonesia yaitu Chealsea Olivia-Glenn Alinskie dan Sandra Dewi-Harvey.

sumber tulisan media.rooang.com


[islamedia].