Mama Jaman Now di Kuliah Perdana SPI Jakarta




Islamedia - Rabu (16/12) malam, Gedung INSISTS di Jl. Kalibata Utara II No. 84, Pancoran, Jakarta Selatan, diramaikan oleh peserta Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Jakarta angkatan ke-7 yang berasal dari berbagai latar belakang, baik status, usia, dan pendidikan. Kelas perdana yang digelar pada malam itu dimanfaatkan untuk mendiskusikan Peraturan dan Tata Tertib SPI Jakarta, dipimpin langsung oleh Kepala SPI Pusat, Akmal, ST., M.Pd.I.

Kuliah pada malam itu sempat dibuat gagal fokus oleh tangis seorang bayi berumur 11 bulan yang digendong oleh Ajeng Wismiranti, alumni SPI Jakarta angkatan pertama yang kini menjadi pengurus SPI Pusat. Ibu muda yang membawa bayi ditengah kumpulan pemikir yang haus akan ilmu itu memberikan warna tersendiri dalam kelas perdana SPI. 

Alhamdulillaah, sampai saat ini anakku nggak apa-apa. Awalnya kepikiran sih takut kenapa-kenapa. Tapi bismillaah aja, karena aku merasa anakku udah besar, walaupun belum 1 tahun. Tapi insya Allah baik-baik saja,” ujarnya.

Ajeng menambahkan bahwa dirinya ingin mengajari anak agar tidak lemah dan loyo. “Jangan Cuma mendekam di rumah saja. Kudu banyak silaturrahim, kenal lebih banyak orang. Harus lebih sering belajar, supaya dia paham dan terbiasa kalau keseharian kita sebagai muslim ya seperti itu. Biar jadi mindset dia kelak, Aamiin…” ujar Ajeng saat ditanya alasannya membawa anak ke kuliah SPI.

Ajeng berpendapat bahwa pendidikan anak harus dilakukan sedini mungkin, termasuk dengan diajak mampir ke perkuliahan SPI. Alasannya, SPI bukan hanya wadah menuntut ilmu semata, melainkan merupakan tempat pembentukan karakter, bersilaturahmi dan tempat bertukar pikiran. Ketangguhan Ajeng dalam mengambil risiko membawa bayi di malam hari untuk menghadiri kelas perdana SPI merupakan alasan yang cukup untuk membuat beliau dijuluki ‘Mama Jaman Now’ yang menginspirasi.

SPI buat saya adalah wadah menuntut ilmu. Di SPI, saya bisa meraup ilmu sebanyak-banyaknya, dengan biaya semurha-murahnya, dibandingkan di tempat lain yang pastinya lebih mahal. Tapi bukan berarti ilmunya juga sederhana, justru di SPI ini ilmunya sangat luar biasa karena diisi oleh pemateri yang sangat ahli di bidangnya. Bahkan banyak dari mereka yang ilmunya menjadi rujukan kita. Masya Allaah semoga Allah menjaga ilmu mereka, Aamiin…” pungkas Ajeng. [islamedia/abe/aulia]