Di Mana Posisi Kita dalam Perang Pemikiran?


Islamedia Akmal Sjafril, dalam kuliah Sekolah Pemikiran Islam (SPI) pada Rabu (13/12/17) di Aula Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS), menyampaikan materi Ghazwul Fikri (perang pemikiran) yang kian hari kian banyak dikaji, baik di kalangan intelektual maupun masyarakat kecil.

Materi Ghazwul Fikri  ini diberikan di awal perkuliahan untuk meningkatkan sense of urgency kita dalam menghadapinya,” tuturnya di awal kuliah.

Akmal menjelaskan bahwa ghazwul fikri ini sudah terjadi awal permulaan kisah Nabi Adam. Setelah Iblis menolak untuk sujud kepada Nabi Adam, lalu Allah mengusir Iblis keluar dari surga, kemudian Iblis bersumpah akan mengajak umat manusia untuk sesat dan menemaninya di neraka melalui penghancuran logika manusia, yaitu dengan menjadikan maksiat nampak indah di muka bumi. Hal ini bisa dilihat di ayat ke-39 dalam Surah Al-Hijr,” ujar Akmal.

Ghazwul fikri yang identik dengan serangan konfrontatif dan terencana ini tidak hanya membahayakan dalam satu sisi, akan tetapi juga menimbulkan berbagai macam persoalan bahkan perpecahan ummat Islam, lanjutnya. Di awal kuliah, seorang pengurus SPI, Taufik Zain, membacakan Surat Al-Baqarah ayat 120 yang menjelaskan bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada umat Islam sebelum umat Islam mengikuti langkah-langkah mereka.

Merespon ayat suci Al-Quran yang telah dibacakan oleh Taufik, Ustadz Akmal menuturkan,Muslim itu secara nyata diperangi bukan hanya oleh Yahudi dan Nasrani. Kita juga harus menaruh perhatian pada musuh yang ketiga, yaitu mereka yang mengikuti langkah-langkah mereka.

Akmal kemudian memetakan fenomena ghazwul fikri ini dengan menjelaskan ketiga modus yang paling berbahaya, yaitu media massa, pendidikan dan sosial budaya. Media massa adalah alat propaganda paling fenomenal yang kerap digunakan. “Rakyat Indonesia mudah diserang karena daya literasinya kurang. Hanya semangat dalam membaca judul, namun tidak cermat membaca konten,” ujarnya.

Pada awal dekade 2000-an, peristiwa 9/11 telah memojokkan Islam sebagai agama teroris. “Padahal bagi para engineer tidaklah masuk akal bila bangunan berkonstruksi baja seperti WTC bisa runtuh seperti kerupuk, padahal sifat baja tidak seperti itu,  ungkapnya seraya menambahkan bahwa sangat banyak ahli yang meragukan penjelasan dari pemerintah AS perihal kejadian tersebut.

Dalam sesi tanya jawab, Binar, salah seorang peserta kuliah, bertanya pada Ustadz Akmal. “Perlukah kita belajar dan terus membaca buku-buku karangan para penulis non-Muslim?” Terhadap pertanyaan ini, Akmal menjawab, “Perlu. Buku atau literasi lainnya yang bisa menambah pengetahuan pergerakan Islam dan dunia tetap perlu dibaca. Yang penting, kita punya pegangan yang kuat.

Kondisi dunia masa kini semakin meyakinkan umat Islam bahwa pemahaman yang benar akan fenomena ghazwul fikri itu sangatlah urgen. Karena itu, ilmu kita perlu terus ditambah. Dengannya kita bisa mengolah strategi dan perencanaan untuk melawan musuh demi meraih kembali kejayaan peradaban Islam,pungkas Akmal. [islamedia/richarunia/abe]