Ketika Eropa Berada dalam Kegelapan, Islam Justru Berjaya


Islamedia Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Jakarta Angkatan 6 hampir memasuki penghujung masa perkuliahannya. Pada pertemuan ke-19 (11/10), kembali Akmal Sjafril selaku kepala SPI Pusat hadir sebagai narasumber. Membawakan tema “The Golden Age of Islam”, Koordinator Pusat #IndonesiaTanpaJIL ini menuturkan betapa hebatnya kejayaan Islam pada masa ketika kemunduran Eropa terjadi. 

Islam mengangkat harkat dan martabat masyarakat jazirah Arab yang tadinya terisolir dan sibuk dengan dirinya sendiri, kemudian Islam menghapus kejahilan dan menggantinya dengan kecintaan terhadap ilmu. Tadinya, sains tidak berkembang di Arab, negeri yang tidak menarik dan susah untuk berkembang,” terang penulis buku Islam Liberal 101 itu saat menjelaskan peradaban ilmu yang bangkit di tanah Arab setelah Islam datang.

Pengurus Aliansi Cinta Keluarga (AILA) Indonesia ini kemudian menjelaskan tentang kemunduran bangsa Eropa yang dikenal dengan jaman kegelapan atau The Dark Age. Sejatinya, jaman kegelapan ini hanya dialami oleh bangsa Eropa saja, sedangkan Islam saat itu justru tengah berjaya. 

Berawal dari keruntuhan Romawi Barat, diikuti dengan perang berkepanjangan yang mengakibatkan masyarakat urban berpindah ke daerah pedalaman dengan fasilitas sangat terbatas dan kualitas hidup yang buruk. Begitulah keadaan Eropa di abad kegelapan,” tutur Akmal.

Antara 1347-1350, sepertiga populasi populasi Eropa terbunuh akibat wabah. Peristiwa ini dikenal dengan sebutan ‘the black death’. Pada periode akhir dari jaman kegelapan ini, Gereja menghemogemoni kehidupan masyarakat Eropa, dan malah menambah rumit kehidupan masyarakat,” ujarnya lagi.

Akmal melanjutkan tentang kejayaan Islam dalam berbagai bidang, di antaranya pendidikan, astronomi, rekayasa teknik, kesehatan, eksplorasi dan sebagainya. Pada jaman tersebut terdapat ilmuan-ilmuan yang sangat hebat, salah satunya adalah seorang muslimah yang sangat berbakat di bidang astronomi yang bernama Maryam Al-Ijliya. 

Dengan berbekal aqidah yang lurus, Muslim sejak dulu sudah memisahkan astronomi dari astrologi. Mariam Al-Ijliya membuat astrolabe pada abad ke-10 Masehi. Astrolabe pada jaman itu bekerja seperti GPS pada jaman sekarang,” ungkap ayah satu anak itu.

Menutup materinya, Akmal mengatakan bahwa peradaban ilmu bermula dari Tauhid. “Tauhid menjelaskan jadi diri manusia dan hakikat hidupnya. Muslim mencintai ilmu karena jiwanya ingin mengenal Al-’Aliim. Peradaban berbasis ilmu inilah yang mampu berjaya dan memberikan pencerahan kepada dunia,” pungkasnya. [islamedia/ony/abe]
close
Banner iklan disini