Tenggelamnya Kristen dan Lahirnya Sekularisme di Barat




Islamedia Anggapan bahwa Barat identik dengan Kristen dinyatakan keliru oleh Prof. M. Naquib Al-Attas, sebagaimana yang disampaikan oleh Akmal Sjafril pada kuliah perdana Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Bandung di Semester 2, Sabtu (09/09). Dalam kuliah yang digelar di D’Best Sofia Hotel, Jl. Teuku Angkasa, Bandung itu, Akmal memulai uraiannya dengan sebuah penegasan. 

Barat kini tidak lagi identik dengan Kristen. Barat sekarang ini identik dengan sekularisme,” ujarnya.

Sekularisme lahir di Barat sebagai produk spesifik dari pengalaman beragama masyarakat Barat sendiri. Berbagai problem internal Kristen selaku agama mayoritas di Eropa turut andil dalam melahirkan paham yang sarat dengan cara berpikir dualis tersebut. Dijelaskan Akmal, setidaknya ada tiga latar belakang yang menyebabkan Barat menjadi sekuler, sebagaimana yang telah diulas oleh Dr. Adian Husaini dalam bukunya, Wajah Peradaban Barat. 

Pertama, sejarah Kristen di Eropa sarat dengan kekerasan yang diinstruksikan oleh Gereja, terutama pada abad pertengahan. Hal ini menyebabkan adanya trauma masyarakat Eropa dalam memandang agama. Dalam pandangan mereka, agama identik dengan fanatisme dan pembenaran atas kekerasan,” ungkapnya.

Masalah kedua adalah problem teks Bibel, yaitu ketika masyarakat Barat mengetahui betapa ayat-ayat Bibel banyak yang saling bertentangan dan berlawanan dengan fakta sains. Terakhir, problem pada teologi Kristen, yaitu pada konsep-konsep utama dalam agama Kristen yang merupakan hasil kesepakatan. Semua itu menimbulkan keraguan masyarakat Eropa terhadap agama,” ujarnya.

Di akhir kajian, Akmal menjelaskan tiga tabiat sekularisme yang diakui oleh para cendekiawan Barat sendiri. “Ketiganya adalah disenchantment of nature, atau menghilangkan pesona Ilahi dari alam, desacralization of politics, memisahkan agama dari urusan kemasyarakatan, dan deconsectration of value, memiliki pandangan bahwa tak ada nilai yang abadi,” ungkapnya lagi. 

Karena itu, dapat dipahami bahwa inti dari sekularisme itu adalah memutuskan hubungan dari Tuhan dan agama, walaupun tidak semua orang sekuler berani serta-merta menjadi ateis,” pungkasnya. 

Kuliah perdana semester kedua SPI Bandung ini disambut hangat oleh salah satu peserta. “Senang banget SPI mulai lagi, udah lama nggak dapet kajian yang meng-‘otak’. Ga pernah kecewa dengan SPI, penjelasannya lengkap dan mendalam,” ujar Dini Dwi Mutia Lestari. [ islamedia/ivanie/abe]