Islam Selamanya Bertentangan dengan Sekularisme


Islamedia Gelora semangat perjuangan peserta Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Jakarta angkatan 2017 kembali terasa tatkala dimulainya semester kedua pada Rabu, 16 Agustus 2017. Bertempat di Aula INSISTS, Kalibata, Jakarta Selatan, Kepala SPI Pusat, Akmal Sjafril membuka materi di awal semester dengan tema “Sekularisme”. 

Akmal membahas tentang sekularisme yang terjadi pada masyarakat Kristen di Barat. Ia mengatakan bahwa kristen telah mati di Barat, sebab terpaksa mengikuti arus sekularisme. “Menurut Prof. Al-Attas, Kristen di Barat semakin tersekulerkan dan orang kristen menganggap bahwa sekularisme adalah konsekuensi ajaran kristen. Kristen-lah yang ter-Barat-kan, artinya Kristen itu sudah kelar dengan sekularisme,” tegas Kordinator Pusat #IndonesiaTanpaJIL (ITJ) itu.

Penulis buku fenomenal Islam Liberal 101 itu menerangkan penyebab Barat memilih sekularisme ketimbang Kristen. “Ironisnya, kekuasaan Gereja yang menghegemoni di seluruh Eropa justru berkontribusi di dalam kemunduran yang terjadi pada jaman kegelapan atau The Dark Age. Sejarah Kristen di Eropa sarat kekerasan, dan itu diinstruksikan oleh Gereja, juga banyak penyimpangan dilakukan oleh pemuka agamanya. Pada saat itu orang paling jahat adalah orang yang paling beragama. Akibatnya, orang Eropa melihat galau jika melihat sejarahnya dengan Kristen,” ujar Akmal.

Akmal melanjutkan alasan berikutnya Barat memilih sekular, yaitu permasalahan teks pada Bibel yang ayat-ayatnya saling bertentangan, tidak mengajarkan moralitas yang baik, dan Bibel bertentangan dengan sains. “Orang Kristen galau dengan kitab Bibelnya, sedangkan yang terjadi di sini, orang sekuler menginginkan muslim juga galau dengan Kitab Sucinya,” tuturnya lagi.

Akmal memberikan perbandingan worldview Islam dengan Sekularisme. “Dalam Islam, konsep nilai adalah ketetapan Allah, dunia adalah persinggahan, hidup untuk ibadah, ilmu berfungsi untuk mengenal Al’Alim, manusia adalah hamba dan khalifah Allah, dan Tuhan adalah Ilah Manusia. Berbeda dengan sekularisme, di mana nilai hanyalah hasil kesepakatan manusia, dunia terpisah dengan akhirat, hidup hanya untuk aktualisasi diri, manusia dinilai dengan kemewahan hidupnya, sedangkan Tuhan hanya sebatas penguasa akhirat. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa Islam selamanya bertentangan dengan sekularisme,” pungkasnya.

Koriyah, Salah seorang peserta yang sangat antusis dalam pertemuan pertama di semester kedua ini mengatakan, “Saya baru tahu ternyata pemicu sekularisme itu karena agama Kristen yang membuat mereka galau. Anehnya, di sini kaum sekularis ingin membuat umat Muslim galau juga terhadap agamanya. Harus banyak belajar lagi, jangan sampai kita terpengaruh dengan orang-orang sekuler ini,” katanya. [islamedia/ony/abe]