Semester Kedua Baru Dimulai, Peserta SPI Jakarta Minta Tambahan Materi Ini


Islamedia  Kuliah perdana Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Jakarta semester kedua dibuka dengan materi Sekularisme. Peserta kuliah SPI kali ini lebih sedikit dibandingkan dengan semester sebelumnya. Pasalnya, banyak dari peserta yang tidak bisa melanjutkan karena tidak memenuhi tugas yang diberikan maupun yang memilih menundanya tahun depan disebabkan prioritas lain.

Akmal Sjafril membuka kuliah perdana ini tentang Kristen yang ter-Barat-kan.

Kristen sebenarnya sudah mati di Barat, sebab ia terpaksa mengikuti arus sekularisme. Bahkan banyak orang Kristen yang menganggap bahwa sekularisme adalah konsekuensi dari ajaran Kristen,ucap Akmal di awal perkuliahan.

Kuliah perdana ini berjalan dengan khidmat hingga pada sesi tanya jawab ada salah seorang peserta yang bertanya tentang zionisme dan Yahudi. “Kalau mau membahas tentang zionisme, memang kita perlu satu sesi sendiri, karena tidak akan cukup jika hanya pada sesi tanya jawab.” jawab Akmal Syafril setelah menyampaikan secara singkat apa yang dipahaminya tentang kedua hal tersebut.

Kalau begitu, bagaimana jika ada satu materi tambahan tentang zionisme ini agar kami juga paham tentang zionisme lebih dalam, tidak hanya sepintas saja,” usul Rahmawati setelah mengajukan pertanyaan.

Akmal Syafril mengatakan bahwa sebenarnya ia telah berdiskusi dengan seorang rekan yang aktif di Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP) untuk membuka kursus singkat tentang Palestina dan segala permasalahannya.

Yang saat ini kembali banyak dibicarakan orang, misalnya, adalah tentang Masjid Al-Aqsha. Ada yang mengatakan, yang kubah emas itu bukan Masjid Al-Aqsha. Nah, kalau kita belajar dari yang pernah kesana tentu akan terasa lebih menggetarkan, dan semangat untuk bisa berkunjung ke sana jadi lebih kuat. Insya Allah nanti kami akan usahakan waktu untuk kursus singkat tentang Palestina ini,pungkas Akmal. [islamedia/lisana/abe]

close
Banner iklan disini