Nativisasi: Deislamisasi dan Klaim Keaslian yang Dipaksakan


Islamedia  Hingga kini kita tengah mengalami tiga bentuk tantangan dakwah yang sebenarnya telah berlangsung sejak zaman kolonial. Ketiganya adalah kristenisasi, sekularisasi, dan nativisasi.”

Pernyataan itu dilontarkan oleh Dr. Tiar Anwar Bachtiar dalam perkuliahan Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Jakarta ke-12 yang digelar Rabu (23/08) kemarin. Kegiatan yang berlangsung di Aula INSISTS Kalibata ini mengangkat tema Nativisasi.

Nativisasi berasal dari kata ‘native’ yang berarti  asli, orang asli atau pribumi. Nativisme berarti paham atau gagasan untuk mengambil kebudayaan sendiri dan menolak gagasan, pengaruh, atau kaum pendatang,” ungkap Tiar.

Penulis dan peneliti INSISTS ini menjelaskan bahwa nativisasi merupakan usaha untuk mengembalikan keaslian masyarakat Indonesia berupa nilai-nilai tradisi pra-Islam dan mengesampingkan nilai-nilai Islam. “Nilai ‘asli’ ini yang diangkat-angkat, sedangkan Islam diposisikan sebagai ‘benda asing’ yang tidak sesuai dengan masyarakat,” tambahnya.

Namun, klaim asli ini sebenarnya problematis. Apabila kriteria asli adalah yang paling awal eksis, maka akan semakin terbatas dan sulit ditemukan peninggalan dan bukti empirisnya. Di samping itu ‘titik awal’ itu sendiri cenderung relatif dan samar,” jelas Doktor Sejarah jebolan Universitas Indonesia (UI) ini.

Pada akhirnya, nativisme lebih tepat dipandang sebagai gerakan kebatinan. Secara faktual, metode untuk menemukan ‘keaslian’ itu lebih banyak dicapai melalui aktivitas kebatinan,” tambahnya. Tiar menjelaskan bahwa nativisme bukanlah tentang keaslian, tetapi merupakan klaim asli terhadap tradisi yang dipegang penganutnya.

Dosen Universitas Ibn Khaldun Bogor ini juga mengungkapkan bahwa Nativisme memiliki kedekatan dengan Spiritualisme yang berkembang di Barat, dan keduanya sama-sama mengarah pada Pluralisme. Selain itu, nativisme menjadi pelengkap Sekularisme yang berpusat pada manusia sebagai sumber kebenaran, atau antroposentris, dalam upayanya menolak agama yang teosentris.

Bila sekularisme fokus pada materialisme yang anti kebatinan, maka nativisme bergerak dalam spiritualitas yang anti ragawi,” tambahnya.

Salah seorang peserta kuliah, Ananto Widigdo, memberikan tanggapan positif terhadap perkuliahan ini. “Materi ini membuat saya semakin yakin bahwa pada dasarnya sekularisme, nativisme, dan pemurtadan memiliki landasan yang sama. Kelihatan berbeda, padahal satu kesatuan,ungkapnya. [islamedia/ali/abe]