Nativisasi Berkedok Kearifan Lokal


Islamedia  Tokoh Islam Mohammad Natsir menyebutkan ada tiga tantangan dakwah yang dihadapi umat Islam Indonesia, yaitu pemurtadan, sekularisasi dan nativisasi,demikian ungkap Dr. Tiar Anwar Bachtiar di awal presentasinya.

Rabu, 23 Agustus 2017, bertempat di bilangan Kalibata, perkuliahan Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Jakarta angkatan 2017 kembali digelar. Tiar hadir sebagai pembicara pada pertemuan ke-12 perkuliahan yang mengangkat tema Nativisasi.

Hasil nativisasi itu secara sederhana seperti aliran kebatinan, seperti Sunda Wiwitan, Kejawen dan semacamnya. Mereka mengagungkan pengalaman spiritual, tapi menolak mentah-mentah pembuktian terukur atau empirisme. Jadi akan sulit mengajak mereka berdiskusi, karena pengalaman spiritual itu sangat subjektif,” ungkap salah seorang peneliti INSISTS ini.

Islam dibuat seperti barang asing yang tidak sesuai dengan kearifan lokal. Maka dari itu kita harus melihat perjuangan wali songo yang berhasil mengakulturasi budaya tanpa meninggalkan syariat,” tambah pria yang meraih gelar doktoralnya di Universitas Indonesia (UI) ini.

Perkuliahan ditutup dengan kesimpulan yang membuktikan gelar Islam sebagai ‘umat pertengahan’. Islam berhasil mengakomodasi pengalaman spiritualisme yang diagungkan nativisme dengan pengalaman empiris yang menjadi kiblat sekulerisme secara seimbang,” pungkas Tiar.

Perkuliahan yang berlangsung selama kurang lebih 90 menit ini berbuah tanggapan positif dari Bernardo Okta, salah seorang peserta SPI yang juga memiliki kesibukan pengajar di sebuah rumah Tahfidz di bilangan Jakarta Pusat.

Nativisasi adalah penyakit lama yang dihadapi di jalan dakwah, tapi tidak banyak dari kita yang sadar bahwa antara nativisasi, kristenisasi dan sekularisasi satu sama lainnya saling beririsan,” Ungkap Bernardo. [islamedia/widigdo/abe]