Inilah Penjelasan Lengkap Mengapa Setiap Muslim Harus Belajar Bahasa Arab


Islamedia  -  Saat ini banyak orang bilang: “Tidak setiap muslim harus belajar bahasa Arab, itu kan hanya untuk para ulama. Saya kan hanya muslim biasa saja, yang penting saya shalat.”

“Saya tidak perlu belajar bahasa ini, kalau Allah mau saya paham bahasa ini, maka ia pasti jadikan saya orang Arab.”

“Pasti ada hikmah dari Allah, ia jadikan sebagian kita orang Turki, Pakistan, Bangladesh, Eropa atau orang manapun juga.”

“Allah kan tidak menciptakan semua orang itu dari Arab, lalu mengapa saya harus belajar bahasa Arab? Bukan salah saya dong kalau saya tidak paham.” Atau ada juga pendapat lain yang mengatakan,

“Allah kan menurunkan Al-Qur’an bukan hanya untuk orang Arab. Lalu kepada siapa Ia berikan al-Qur’an? Ia berikan Al-Qur’an sebagai petunjuk untuk seluruh umat manusia.”

Kalau kita dengar pendapat-pendapat seperti ini, anda mungkin akan berfikir: “Yah..itu masuk akal, tidak ada masalah baca Al-Qur’an terjemahan bahasa Urdu, terjemahan bahasa Persia, terjemahan bahasa Inggris dan lain-lain. Karena si penterjemah pasti paham apa yang ia lakukan, ia pasti bukan orang yang sembarangan. Kok kamu sepelekan hasil kerja mereka? Dan bagaimana bisa kamu justru berkata ‘Tidak ada yang sebanding dengan Al-Qur’an dalam bahasa Arab, karena itu kamu harus belajar bahasa Arab’.

Kita akan menjawab permasalahan ini, insha Allah.


Ini memang pemikiran yang banyak dimiliki muslim saat ini, banyak muslim berfikir seperti itu. Saya akan coba bahas dari Al-Qur’an terlebih dahulu. Bila kamu tanya 1 pertanyaan ini pada muslimin dari manapun mereka berasal, “Mengapa bahasa Arab itu penting?” Setiap muslimin, baik yang paham islam atau yang tidak terlalu paham Islam, baik yang religius ataupun yang tidak terlalu religius, sebagian besar mereka pasti akan memberi jawaban yang sama : bahasa Arab itu penting karena al-Qur’an. Itu jawaban pertama yang akan diberikan.

Al-Qur’an Sebagai Pesan, Sekaligus Sebagai Mukjizat

Di setiap negeri muslim dimanapun mereka berada, jika mereka baca sesuatu yang bukan bahasa Arab, meskipun dari al-Qur’an, maka mereka tak akan anggap itu adalah al-Qur’an. Al-Qur’an menyebut: Alhamdulillahi rabbil alamin. Al-Qur’an tidak menyebut: segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam. Itu bukan Al-Qur’an. Jika kamu tanya, yang mana Al-Qur’an? Mereka menjawab, yang Alhamdulillahi rabbil alamin, bukan yang terjemahan. Hal ini sudah dipahami oleh setiap muslim. Tapi saya mau beri argumen yang lebih mendalam.

Ketika Allah Azza wa Jalla mengutus seorang rasul, ia akan berikan Mukjizat kepada sang Nabi untuk membantu tugasnya. Ini adalah aqidah dari setiap muslim, hal yang harus mereka yakini. Seorang nabi datang, dan akan memberitahukan hal yang sulit untuk diterima. Pagi ini saya ceritakan hal yang sama tentang ini pada seseorang. Coba kamu bayangkan kamu hidup 1000 tahun yang lalu, kemudian seorang tetanggamu datang kepadamu, lalu ia bilang: “Semalam seorang malaikat datang kepadaku memberikan wahyu dan malaikat itu memberitahu bahwa aku adalah Rasul Allah. Mulai sekarang apa yang saya katakan itu datangnya dari Allah yang dikirim melalui malaikat ini, bukan dari saya. Kamu selama ini mengenal saya sebagai tetangga, tapi mulai sekarang saya adalah Rasul Allah. Selain kamu harus yakin bahwa saya adalah utusan Allah, kamu pun harus melakukan segala yang saya perintahkan. Karena sebenarnya bukan saya yang memberi perintah kepadamu, saya memberimu perintah atas nama Allah.” Bayangkan bila tetanggamu memberitahu hal semacam ini. Sekarang bila ada yang memberitahukan hal semacam ini padamu, kita sebut ia adalah orang gila. Karena kita tahu, tidak ada lagi Rasul yang akan datang. Bayangkan situasi semacam ini beberapa ratus tahun yang lalu, tentu tidak mudah untuk meyakininya. Terlebih bila yang menyampaikan adalah pamanmu atau sepupumu sendiri. Apakah mudah meyakininya? Tentu tidak. Kebanyakan orang melihatnya sebagai hal yang lucu. “Bisa saya lihat gak malaikatnya?”, “Apa kamu yakin ada malaikat yang datang padamu?”, “Makan apa kamu tadi malam?”, “Apa kamu baik-baik saja?” Mereka pikir orang semacam ini sedang bercanda, pasti sedang tidak serius, atau dianggap memiliki kelainan psikologis. “Mungkin terjadi sesuatu padanya, karena biasanya ia normal tapi kenapa sekarang bicara seperti orang gila?”

Jika kita lihat Al-Qur’an, apa yang kaumnya katakan tentang Nabi Muhammad? Majnun (gila), sahir (tukang sihir), mashur. Ia tukang sihir. Ia kerasukan jin, ia gila, maka jangan dengarkan dia. Mungkin kita berfikir, “Kok bisa ya mereka menghina Rasulullah? Pasti mereka itu orang-orang yang kejam.” Tapi jika kamu letakkan dirimu di kondisi mereka saat itu, maka kamu akan paham, bahwa jika Rasulullah memintamu untuk percaya, itu bukanlah hal yang mudah. Pertama, ia memintamu untuk percaya atas sesuatu yang tidak dapat kamu lihat. Percaya akan adanya Tuhan itu mudah. Kalau saya bertemu orang lalu saya katakan: “Ada sesuatu yang menciptakan segalanya dan Ia maha Kuasa, apa kamu tahu itu?” Sebagian besar dari mereka akan katakan: “Saya sudah percaya akan adanya Tuhan. Itu tidak sulit untuk dipercaya.” Tapi jika ada yang mengatakan: “Tuhan telah menunjuk seserorang dan berbicara pada orang itu, kemudian memberitahukan padanya apa yang harus kita lakukan untuk-Nya.” Bagian inilah yang sulit, karena secara ilmiah, manusia tidak suka mengikuti manusia lainnya. Lebih mudah percaya kepada Allah ketimbang percaya kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam ataupun kepada nabi-nabi lainnya, sama saja masalahnya.

Maka ketika Allah mengutus Nabi, Allah akan memberikan sesuatu mukjizat untuk membantu tugas Rasulnya, sehingga kaumnya lebih mudah untuk yakin. Contohnya, pada Nabi Shaleh Alaihis Salaam, kaumnya tidak menerima apa yang ia sampaikan, mereka justru menghinanya. Allah berikan kepadanya unta betina, naqatullah (Unta Allah), unta itu muncul dari bebatuan yang terbelah, ia minum dari seluruh danau yang ada. Ini hanya mungkin bila datangnya dari Allah. Ketika kaumnya melihat itu, maka mereka yakin bahwa Nabi Shaleh itu memang utusan dari Allah.

Jika kamu berdiri disamping Nabi Musa Alaihis Salaam, ketika laut sedang terbelah, kamu sebelumnya mungkin akan ragu, “Orang ini mau membunuh kita ya?”. Ini ada di kitab perjanjian lama. Beberapa mereka menceritakan hal ini. “Orang ini ingin kita mati, kita punya 2 pilihan, apakah kita bani Israil tenggelam disini atau kita dibantai oleh tentaranya Fir’aun.” Bila saat itu kamu melihat laut terbelah, apa kamu masih ragu kalau ia seorang rasul Allah? Tidak akan, keraguanmu akan hilang bila bertemu kondisi seperti itu. Ia memang Rasul Allah. Karena kamu melihat sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh manusia lainnya, yang hanya mungkin datangnya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Telah kita pahami bahwa semua nabi memiliki tugas yang berat. Pesan yang akan mereka sampaikan kepada umatnya itu memang berat dan untuk menolong para Nabi maka Allah berikan mukjizat. Jika kita lihat nabi terakhir, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, Allah memberikan pesan untuk beliau dan kaumnya, yang sekarang kita sebut Al-Qur’an. Allah juga berikan mukjizat kepadanya, kita sebut apa mukjizatnya? Al-Qur’an juga. Al-Qur’an itu pesan untuk kaumnya sekaligus sebagai mukjizat.

Nabi Shaleh Alaihis Salaam dan nabi Musa Alaihis Salaam memiliki pesan yang harus disampaikan kepada kaumnya, namun secara terpisah mereka pun diberikan Mukjizat. Nabi Isa Alaihis Salaam juga memiliki pesan untuk kaumnya, tapi secara terpisah terdapat juga mukjizat. Dua hal yang berbeda. Tapi untuk Nabi Muhammad Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, apa yang Allah berikan? Satu saja. Al-Qur’an sebagai pesan, sekaligus sebagai mukjizat.

Saya pernah ceritakan hal ini kepada anak kelas 6 SD. Saya mengajar pelajaran Islam, dan saya sampaikan hal ini pada mereka. Kemudian salah satu murid saya berkata:

“Ustadz Nouman, ini gak adil.”

“Apanya yang gak adil?”

“Nabi-nabi yang lain diberi benda yang keren, tongkat yang bisa jadi ular, orang mati bisa hidup lagi, laut yang terbelah, ini kan keren semua? Kok kita cuma dikasih buku doang?”

Perbedaan Mendasar Antara Mukjizat Nabi Muhammad dan Nabi-Nabi Sebelumnya

Ada perbedaan yang mendasar antara apa yang Allah berikan pada nabi-nabi sebelumnya dengan apa yang diberikan kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Perbedaan mendasar itu adalah yang Allah berikan untuk nabi-nabi sebelumnya adalah apa yang dapat dilihat oleh mata. Namun yang Allah berikan pada Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagian besar adalah sesuatu yang dapat didengar.

Allah berkata di dalam al-Qur’an, Yasmauna (mereka mendengarkan), fastamiulahu (dengarkan dengan baik), sami’na wa ata’na (kami dengar dan kami taat), inna sami’na Qur’anan ajaban (kami mendengar Qur’an yang unik). Yang terpenting pada al-Qur’an adalah mendengarkan. Allah menggambarkan tugas Rasulullah seperti ini: “yatlu alaihim ayatihi, Dia (nabi Muhammad) membacakan ayat kepada mereka (para sahabat).” Nabi tidak memberikan naskah untuk mereka baca. Al-Qur’an dalam bentuk buku itu belakangan. Apa yang terlebih dahulu dilakukan oleh Nabi? Beliau membuat mereka mendengarkannya. Beliau menyampaikan Al-Qur’an melalui pendengaran. Sedangkan mukjizat nabi-nabi yang lain itu melalui penglihatan. Kelihatan bedanya?

Perbedaan lainnya adalah jika saya cukup beruntung dapat hidup di jamannya Nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad, misalnya saja di zamannya Nabi Isa Alaihis Salaam saya melihat ia memperlihatkan mukjizatnya lalu saya katakan pada anak saya: “Isa itu seorang Nabi karena ia memperlihatkan mukjizatnya, ayah lihat sendiri.” Anak saya percaya kepadaku, kemudian ia ajarkan hal yang sama pada anaknya kelak. Anaknya ajarkan hal yang sama pada anaknya lagi. Tapi si kakek buyut yang melihatnya secara langsung memiliki keyakinan berbeda karena ia melihat dengan matanya sendiri. Tapi sang cucu, apakah ia akan memiliki keyakinan yang sama dengan kakek buyutnya itu? Tentu berbeda kan? Ia percaya karena orang tuanya cerita begitu, tapi bukan sesuatu yang ia lihat langsung. Kita kesampingkan sebentar bagian ini. Kita tadi kan baru bahas bahwa Al-Qur’an itu sebagai pesan sekaligus sebagai mukjizat.

Satu Contoh Kecil Mukjizat Al Qur’an


Allah Azza wa Jalla memberikan 2 hal di Al-Qur’an, ketika seseorang menterjemahkan Al-Qur’an, bahkan untuk terjemahan terbaik sekalipun. Si penterjemah berusaha untuk menterjemahkan pesan di dalam al-Qur’an. Tapi mustahil bagi si penterjemah untuk ‘menterjemahkan’ mukjizat di dalam Al-Qur’an. Mukjizat di dalam Al-Qur’an hanya bisa dirasakan dalam kata-kata pilihan Allah, itulah yang membuatnya menjadi mukjizat. Maka jika saya coba sampaikan pesan dalam pesan Bahasa Urdu, Bahasa Inggris atau bahasa lainnya, saya mungkin dapat jelaskan maksud pesan dari ayatnya tesebut. Tapi saya tidak akan bisa mempelihatkan sisi mukjizat atau keindahan dari ayat tersebut, ini mustahil.

Saya akan coba tunjukkan, tapi tidak ada papan tulis di sini. Kita coba secara lisan saja, Allah Azza wa Jalla mengatakan di surat al-Muddatsir: “Wa Robbaka Fakabbir” (QS: 74: 3). Huruf ‘wa’ di awal itu seperti huruf besar jika kamu menulis awal sebuah kalimat dalam bahasa Inggris. Dalam bahasa Arab, huruf ‘wa’ ini bisa digunakan untuk banyak hal, lebih dari 20 fungsinya. Salah satunya adalah untuk memulai suatu kalimat baru. Jika kamu lihat huruf ‘wa’ diawal maka itu adalah kalimat yang baru. Kata-kata selanjutnya Robbaka Fakabbir. Sekarang dengarkan baik-baik. Apa huruf pertama yang kamu dengar ketika saya baca kata, ‘Robbaka’? Apa huruf Arab yang paling pertama kamu dengar? Apa semuanya mendengar huruf ‘Ro’? Pada Robbaka? Sekarang dengarkan huruf paling akhirnya, ‘robbaka fakabbiR’. Apa huruf terakhir yang kamu dengar? Huruf ‘ro’ juga.

Ok. Sekarang perhatikan huruf yang kedua, roBBaka, apa huruf yang kedua? Huruf ‘ba’. Sekarang dengarkan huruf yang kedua dari akhir, ‘robbaka fakaBBir’ apa huruf kedua dari yang paling akhir? Huruf ‘Ba’ juga.

‘robbaKa’, apa huruf yang ketiga? Huruf ‘Ka’. ‘faKAbbir, huruf apa yang ketiga dari akhir? Huruf ‘Ka’ juga. Kamu memperhatikan sesuatu nggak? Kalau di bolak-balik, hurufnya akan sama. Dalam bahasa Inggris, yang semacam ini disebut Palindrome, kata yang sama saja kalau dibaca bolak-balik. Seperti kata ‘Bob’ atau kata ‘race car’. Kata ‘race car’ ini Palindrome yang bagus dalam bahasa Inggris.

Allah Azza wa Jalla memberikan kata-kata kepada Nabi, yang tidak nabi tulis. “Kamu tidak pernah menulis sesuatu apapun dengan tanganmu.” (QS:29: 48), kamu tidak paham caranya menulis. Ini hanya mengandalkan lisan bagi Rasulullah ketika Allah sampaikan perkataan-Nya. Ketika Nabi mengajarkan sesuatu, dia tidak menambahkan kata-kata atau mengkoreksi kalimat wahyu yang telah ia bacakan, “Bukan itu yang saya maksud, coba ganti cara saya menyampaikannya”, tidak seperti itu. Tapi kalimat yang Nabi Muhammad katakan itu sama persis dengan apa yang diinstruksikan oleh Allah.

Yang menjadi tantangan bagi manusia adalah terjemahan sederhana dari ayat ini adalah: “Nyatakanlah bahwa keagungan hanya milik Allah.” Itu terjemahan sederhana dari ‘wa robbaka fakabbir’. Sekarang coba katakan kalimat “nyatakanlah bahwa keagungan hanya milik Allah”, dalam bahasa Inggris, Perancis, Jerman, Jepang, Tiongkok, Itali, Rusia, Urdu, Persia atau dalam bahasa apapun juga. Katakan dalam bahasa apapun, supaya kalimat itu bisa dibaca bolak-balik (Palindrome). Dan kamu hanya boleh coba mengatakannya 1 kali saja, gak boleh kamu tulis ataupun melihat kamus terlebih dahulu. Seberapa mungkin kamu bisa lakukan itu? Subhanallah. Saya bisa terjemahkan maksud ayatnya, tapi bisakah saya terjemahkan mukjizatnya kedalam Bahasa Inggris? Kalau saya katakan: “nyatakanlah bahwa keagungan hanya milik Allah”. Kamu akan paham maksud pesannya. Tapi apakah kamu juga dapat mukjizatnya? Tidak. Mukjizat dari Allah hanya ada dalam bahasa Arab, ini hanya 1 contoh kecilnya saja.

Setiap ayat di Al-Qur’an memiliki mukjizatnya masing-masing. Yang paling tragis saat ini adalah, kebanyakan orang saat ini tidak mengetahui pesan dari Al-Qur’an. Dan bagi mereka yang paham maksud Al-Qur’an, kebanyakan dari mereka tidak dapat merasakan mukjizat dari Al-Qur’an. Saya ingatkan lagi, Al-Qur’an punya 2 hal sekaligus: Pesan dan Mukjizat. Ini bagaikan suatu harta karun yang hampir hilang untuk sebagian besar kaum muslimin. Bayangkan, bila anak kita paham 5 ayat saja, misalkan dia menghafal surat al-Ikhlas atau surat al-Kautsar. Jika mereka paham 5 ayat ini, mereka tahu apa yang dimaksudkan ayat ini dan ia dapat mengerti mukjizat dari ayat ini. Apakah mereka akan merasakan keimanan yang berbeda terhadap ayat itu? Ini akan lebih berarti bagi mereka. Inilah yang menjadi perbedaan antara keimanan kita dan keimanan para sahabat nabi. Salah satu dari banyak sebabnya adalah, ketika mereka mendengar Al-Qur’an mereka mendengar maksud/pesan dan mukjizat-Nya sekaligus. Kebanyak dari kita paling hanya mendapat 1 halnya saja. Ini salah satu alasan mengapa kita harus belajar bahasa Arab, karena kita ingin menghargai pesan dari Al-Qur’an, serta kita ingin merasakan keindahan dari mukjizatnya.

Hilangnya Keindahan Mukjizat dari Al Qur’an

Saya ingin beri 1 contoh sederhananya saja, sebagian dari anda mungkin pernah menulis puisi karena itu bagian dari tugas sekolah yang kemudian kamu bacakan puisi tersebut. Kita juga mungkin pernah membaca literatur seperti shakespeare atau diantara anda ada yang mungkin menyukai literatur berbahasa Urdu. Kamu membaca puisi, menilai suatu lagu atau literatur artistik lainnya dalam berbagai bahasa. Ketika anda menterjemahkan suatu puisi dari suatu bahasa ke bahasa lainnya, ketika anda menterjemahkan karya shakespeare dari bahasa Inggris ke bahasa Urdu atau kamu menterjemahkan karya Iqba ke dalam bahasa Inggris, apakah keindahan bahasanya akan tetap sama? Kata-kata antar bahasa manusia saja kehilangan keindahannya bila diterjemahkan dari bahasa yang satu ke bahasa yang lain. Saya tak membicarakan maksud katanya, tapi keindahannya. Puisi itu kan tentang keindahan kan? Yang hilang itu sisi keindahannya. Kita sedang membicarakan kata-kata Allah.  Apakah ada yang meragukan keindahan bahasaNya? Dan jika kita terjemahkan perkataan Allah tersebut, apakah akan ada keindahan yang hilang?

Untuk menjabarkan hilangnya sisi keindahan ini saya akan beri contoh perumpamaan dari As-Suyuthi r.a. As Sayuti r.a. adalah salah satu dari ulama pertama yang menuliskan ilmu pengetahuan yang ada dalam Al-Qur’an. Beliau berkata, jika seseorang dapat membayangkan jarak antara sang Pencipta dengan ciptaan-Nya. Bayangkan betapa tingginya Allah di atas makhluk ciptaan-Nya, maka kamu sudah bisa membayangkan jarak antara kata-kata sang Pencipta dengan kata-kata ciptaan makhluknya-Nya. Al-Qur’an adalah perkataan sang pencipta, sementara, terjemahan adalah kata-kata makhluk ciptaan-Nya, sudah terbayang beda jaraknya? Subhanallah. Bagaimana mungkin kamu bisa bilang yang satu bisa menggantikan yang lain, tidak mungkin bisa berpendapat seperti itu. Ini baru poin yang ke satu, hilangnya mukjizat dari al-Qur’an.

Pentingnya Bahasa Arab

Poin yang kedua akan pentingnya bahasa Arab adalah, Allah di dalam al-Qur’an mengatakan. Bahwa Dia menurunkannya berupa al-Qur’an dengan berbahasa Arab. “Sesungguhnya Kami menjadikan Al-Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya).” (QS: 43: 3). Ada 11 kali Allah menjelaskan bahwa Al-Qur’an sebagai Bahasa Arab. Setiap muslim percaya bahwa setiap kata dari al-Qur’an itu dari Allah, kamu tidak boleh menambahkan atau menguranginya.

Jika Allah menjelaskan bahwa Al-Qur’an itu adalah Al-Hakim seperti di surat Yasin. “Yaasin wal Quranil hakim” (Demi al-Qur’an yang penuh hikmah)”, kita tak akan bisa memisahkan antara Al-Qur’an dan hikmah, karena Allah meletakkannya bersamaan. Ketika Allah katakan, Quranan Arabiyan, apa 2 hal yang tidak bisa dipisahkan? Al-Qur’an dan Bahasa Arab. Allah letakkan bersama, kita tidak bisa pisahkan. Ditambah pula Allah katakan ‘laalakum tak’kilun’. Terjemah sederhananya adalah: “Sesungguhnya Kami menjadikan al-Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memahami (nya).” Allah tidak hanya meletakkan kata ‘memahami ‘di dekat kata ‘al-Qur’an’, tapi Dia juga letakkan kata itu di dekat kata ‘al-Qur’an dalam bahasa Arab’. Maka kunci untuk memahami Al-Qur’an itu apa? Bahasa Arab. Ini baru poin yang kedua. Berapa kali Allah menyebut kata ‘Bahasa Arab’di dalam al-Qur’an? 11 kali.

Hilangnya Sisi Keindahan Al Qur’an 

Sekarang poin yang ketiga, apalagi yang hilang selain sisi keindahannya? Saya akan beri contohnya lagi, insha Allah. Kata ‘Nafs’. Pernah dengar kata ini sebelumnya? Kata ‘Ruh’. Pernah dengar kata ini sebelumnya? Saya akan bacakan 2 ayat. Ayat yang pertama mengandung kata ‘Nafs’ dan ayat kedua mengandung kata ‘Ruh’.

“Kullu nafsin dzaiqatul maut.” (QS: 3: 185), huruf mana yang kamu dengar? Apa semuanya mendengar kata ‘Nafs’?

Kemudian di surat Al-Isra, Allah katakan: “Yas’alunaka anniruh”. Huruf mana yang kamu dengar? Huruf ‘Ruh’.

Terjemahan bahasa Inggris dari ayat Kullu nafsin dzaiqatul maut” adalah: ‘Setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati.’ Coba katakan, apa Bahasa Inggris untuk kata ‘Nafs’? “Setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati.” 1 kata. “Soul.” Ketika Allah Azza wa Jalla berkata, ‘Yas’alunaka anirruh’ terjemahannya adalah, “Mereka bertanya kepadamu tentang ruh (soul).” Ada 2 kata dalam bahasa Arab. Yakni ‘Nafs’ dan ‘Ruh’, yang dalam bahasa Inggris arti keduanya sama saja, ‘Jiwa (soul)’. Allah menyebutkan 2 hal, tapi si penterjemah bahasa Inggris cuma punya 1 pilihan saja, yakni kata ‘Jiwa (soul)’. Maka jika kita membaca terjemahan perkataan Allah dalam bahasa Inggris, bahasa Urdu atau bahasa lainnya. Maka kita jelas kehilangan sesuatu. Bahasa Arab itu amat amat sangat dalam. Saya tidak bisa katakan seberapa dalam, karena saya sendiri belum tahu betul seberapa dalamnya. Saya juga masih belajar.

Tapi saya kasih contoh ini. Allah mengucapkan kata ‘Ins’, yang artinya manusia. Allah juga mengucapkan kata ‘Insan’ yang artinya juga manusia. Allah mengucapkan kata ‘Alasi’, yang artinya juga manusia. Allah juga mengucapkan kata ‘Nas’, yang artinya juga manusia. Allah juga mengucapkan kata ‘Basar’, yang artinya juga manusia. Juga kata ‘Insiya’, yang artinya manusia di surat Maryam. Semua kata tadi itu artinya manusia kan? Kalau semua kata Arab tadi diterjemahkan kamu cuma dapat 1 kata saja; manusia. Tapi Allah menggunakan banyak kata yang berbeda. Jika Allah menggunakan kata Arab yang berbeda, apakah akan ada bedanya? Kalau yang dimaksudkan itu sama, tentu Allah akan menggunakan 1 kata yang sama saja. 1 kata dalam bahasa Arab digunakan khusus untuk maksud tertentu. Ada 10 kata Arab yang artinya ‘Kemarahan’, bahkan banyak sekali kata yang artinya ‘Melihat’. Banyak juga kata Arab untuk menggambarkan ‘kesabaran’, digunakan untuk maksud yang berbeda-beda. Allah pun menggunakan kata yang berbeda-beda di berbagai tempat.

Saya ceritakan nih, ini contoh menarik lainnya terkait masalah kosa kata. Allah Azza wa Jalla terkadang menggunakan kata ‘Qalb’, banyak diantara kamu pasti sudah tau artinya, apa artinya? Artinya, Hati.

Terkadang Allah menggunakan kata ‘Fuad’. Apa artinya ‘Fuad’? Hati. Allah menggunakan kata ‘Qalb’ dan juga kata ‘Fuad’. ‘Tsabit Qulubana’, Allah menggunakan kata ‘Qulub’.

‘linusabita bini fuadakh’ apa yang Allah gunakan kali ini? Kata ‘Fuad’ . Terkadang ‘Qalb’, terkadang  kata ‘Fuad’. Keduanya dalam terjemahan bahasa Inggris artinya apa? “Hati.”

Sekarang perhatikan ayat yang satu ini, saya yakin ini surat al-Qashash (QS: 28: 10) “Wa ‘Aşbaha Fu’adu ‘Ummi Muusa Faarighaan……...”. Yang mana Allah gunakan? Kata ‘Fuad’ atau kata ‘Qalb’?. Kamu dengar kata ‘fuad’? Coba kita lanjutkan ayatnya. (QS: 28:10) “………………In Kaadat Latubdii Bihi Lawlaa ‘An Rabaţnaa `Alaa Qalbihaa….”. Sekarang kata apa yang digunakan? Di ayat yang sama. Di awal menggunakan kata ‘Fuad’, dan kemudian digunakan kata ‘Qalb’. Kalau kamu baca terjemahan, dua kata tadi akan diterjemahkan menjadi “Hati”. Allah tidak memaksudkan hal yang sama. Karena bila ia bermaksud memberikan arti yang sama, maka akan pakai kata yang sama.

Kita harus perhatikan setiap kata yang Allah gunakan, karena setiap kata yang digunakan dengan sangat tepat dan mustahil untuk memilih bahasa lain untuk bisa sangat amat tepat seperti itu, sangat sulit. Misalkan kamu ambil kata ‘kemarahan’ yang dalam bahasa Arab adalah ‘Ghodob’. Kata Arab tadi bisa juga kamu terjemahkan jadi ‘kemurkaan’. Kebanyakan orang bahkan tidak tahu apa bedanya ‘kemarahan’ dan ‘kemurkaan’. Sepertinya sama saja kan? “Dia penuh kemarahan, dia penuh kemurkaan”. Kita sering tukar-menukar dalam menggunakan 2 kata ini.

Dalam Bahasa Arab, tidak ada suatu kata yang dapat mengganti dengan sempurna kata yang lain, setiap kata memiliki rasa dan konotasinya masing-masing. Maka, kata-kata Allah itu sulit dikomunikasikan ke dalam bahasa lain. Paling kamu hanya paham maksud utamanya saja. Tapi jika kamu ingin benar-benar tepat, maka kamu harus menggunakan bahasa Arab. Ini poin ketiga, perihal tata bahasa.

Susunan Kata, Tata Bahasa dan Struktur Kata

Poin yang keempat, berkaitan dengan susunan kata, tata bahasa dan struktur kata. Sebgaian dari anda mungkin pernah membaca, ‘wallahu khobirun bima ta’malun’. Pernah dengar kan sebelumnya? Coba kita bagi kalimat tadi kedalam 3 bagian: 1. Allah 2. Khobir 3. Bima Ta’malun. Pernah dengar ‘Wallahu bima ta’maluna khobir’”?, yang ini juga pernah kalian baca. Yang kedua ini juga punya 3 bagian: 1. Allahu 2. Bima Ta’malun 3. Khobir. Apakah kedua kalimat tadi tersusun atas bahan dasar yang sama? Kata Allah ada, kata Khobir ada, kata Bima Ta’malun juga ada. Apakah ada bedanya? Allahu khobirun bima ta’malun, dengan wallahu bima ta’maluna khobir. Ada bedanya kan? Terjemahan dari dari 2 kalimat ini, baik itu dalam bahasa Inggris, Urdu, Spanyol, Farsi atau Bahasa Jerman, kamu akan dapati artinya sama persis untuk 2 ayat ini. Artinya, “Allah sungguh amat mengetahui segala yang kamu lakukan”, diartikan sama persis. Tapi apakah Allah mengatakan 2 hal yang sama? Tidak, Dia mengatakan 2 hal yang berbeda. Maka permasalahan seperti ‘Kamu cukup baca terjemahan bahasa Inggrisnya (Indonesia -red) saja.’ Atau yang lain bilang: “Ah… saya sudah pernah baca semua bagian al-Qur’an terjemahan.” Kamu belum membaca Al-Qur’an yang sesungguhnya. Ini tidak bisa dibaca sepintas saja.

Al-qur’an perlu dibaca terus menerus oleh pembacanya, bila ia memang ingin memahaminya. Kamu tidak bisa baca sekali, lalu langsung paham. Memahami al-Qur’an itu bukan barang murah, ini mahal harganya. Kamu harus bayar dengan waktu dan usaha. Kamu tidak akan paham bila membaca iseng-iseng sekilas saja. Dan yang membaca sekilas saja, kebanyakan dari mereka itu menyesatkan. “Saya dengar dan baca suatu ayat di Al-Qur’an yang mengatakan hal ini”, mereka tak paham bahasa Arab, tapi mereka berani berargumen atas ayat itu.

Ini contoh kasus untuk poin yang keempat tadi, dari segi perbendaharaan tata bahasa. Ada perbedaan jika Allah mengatakan, ‘la roiba fihi’. Apa bunyi terakhir yang kamu dengar pada kata ‘roib’? roiBA. Allah pun mengatakan, ‘la khaufUN alaihim walahum yah zanun’. Di kata ‘khauf’ kamu tidak mendengar khaufA tapi khauFUN. Tapi di kata ‘roib’ tadi, Allah tidak menyebut ‘roibUn tapi ‘roibA’. Di kata ‘khauf’, Allah mengatakan ‘khauFUN’. Yang 2 tadi itu tidak bisa diterjemahkan dengan cara yang sama karena mereka tidak menggunakan prinsip yang sama dalam bahasa Arab. Mereka 2 hal yang berbeda. Butuh cara penterjemahan yang berbeda. Tapi tidak semua terjemahan memiliki sensitivitas seperti ini. Sangat sulit untuk menangkap hal yang seperti ini selain menggunakan bahasa Arab. Bahasa Arab membuat semuanya jelas, ia memiliki bagian yang tidak dimiliki oleh bahasa lain. Ini bukan untuk menghina bahasa Inggris, Urdu atau bahasa lainnya. Ingatlah, bahwasanya semua bahasa itu datangnya dari Allah. Allah sendiri yang mengatakan; “Allah mengajarkan manusia pandai berbicara.” (QS: 55:4 ). Tidak peduli kamu pandai berbicara bahasa Tiongkok, Swahili atau bahasa suku pendalaman Autralia, semuanya itu dari Allah. Kepandaian kita berbicara itu dari Allah Azza wa Jalla. Allah hanya mengambil 1 bahasa dan meninggikannya di atas bahasa yang lain dengan cara memberinya kejelasan yang luar biasa. Ini penting karena hal terburuk yang mungkin terjadi di dalam suatu agama adalah salah penafsiran. Apakah kamu tahu, kesalahan penafsiran di dalam agama kristen berasal dari mana? Berawal dari terjemahan.

Kebingungan dalam penterjemahan seperti ini, dihindarkan oleh Allah dengan memberi Al-Qur’an dalam bahasa Arab yang amat sangat jelas.

Tidak Hanya Membaca dan Menghafal, Tapi Juga Memahami Al Qur’an

Itu tadi beberapa poin dari al-Qur’an. Sekarang bagian selanjutnya. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam memberitahu kita, mungkin kamu sering mendengarnya di dalam Khutbah. Ada hadits dari shahih  Bukhori r.a. dan juga dari shahih Muslim r.a. :

“Yang terbaik diantara kamu adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”

Kita semua tentu setuju bahwa orang-orang terbaik yang paham kata-kata Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah para sahabat. Pemahaman saya akan hadits itu terbatas bila dibandingkan dengan Ibnu Abbas ra, Abu Bakar Ash-Shidiq r.a. dan para sahabat. Karena mereka hadir di sana ketika sang guru (Nabi Muhammad) sedang mengajar. Ketika kita mengutip hadits ini: ‘Yang terbaik diantara kamu adalah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.’ Maka kamu berkata: “Saya akan ajarkan anak saya Al-Qur’an”. “Saya akan undang seorang Shaykh, qari kerumah ini atau di masjid agar anak saya belajar Al-Qur’an”. Ketika kita katakan: “Anak saya sedang belajar al-Qur’an.” Apa yang biasanya kita maksudkan? Mereka kan mulai belajar membaca buku iqro, lalu kemudian bertahap belajar membaca  Al-Qur’an, iya kan? Apakah konsep mengajarkan Al-Qur’an yang dimaksud tadi sudah termasuk bagian pemahaman Al-Qur’an? Tidak. Rata-rata muslim, bila mereka mengatakan: “Saya akan mengajarkan anak saya Al-Qur’an”, yang mereka maksudkan itu 2 hal: membaca dan menghafal. 2 inilah yang mereka maksudkan. Harap diingat 2 hal ini, karena akan menjadi penting untuk kita bahas. Membaca dan menghafal, tolong ingat 2 hal ini. Ubay bin Kaab r.a. ketika itu sedang menasehati para sahabat. Para sahabat sebagian besar berasal dari mana? Dari Arab, Pakistan, Bangladesh atau dari mana? Mereka itu orang-orang Arab.

Dia menasihati para sahabat: ajarkan anakmu bahasa Arab, seperti kamu ajarkan pada mereka cara menghafal al-Qur’an. Sahabat nabi dari Arab, menasihati sahabat nabi lainnya yang juga dari Arab, agar mengajarkan anak mereka Bahasa Arab. Sama pentingnya seperti mereka menghafal Al-Qur’an. Ini adalah yang paling diutamakan oleh para sahabat.

Umar bin Khathab mengatakan; “Pelajari Bahasa Arab karena itu bagian dari agamamu.” Itu yang Umar katakan. Pernyataan lain dari Umar r.a. ia berkata: “Tidak boleh seorang pun mengajarkan Al-Qur’an kecuali mereka mengerti Bahasa Arab.” Karena mereka bisa membuat kesalahan. Ini adalah insiden yang terkenal yang terjadi di masa Umar r.a. Tapi satu ini yang paling ‘nendang’ yang akan saya sampaikan, yang ketika saya membacanya, saya sampai harus berhenti dulu membacanya. Di Surat Al-Baqarah, Allah menceritakan suatu kaum sebelum kita yang telah Allah berikan kitab. Allah telah berikan Shariah dan kitab di masa sebelum kita. Mereka memiliki Nabi, punya kitab dan juga ada shariahnya, sama seperti kita. Mereka tidak adil dengan kitab dan Nabi mereka. Bahkan di satu ayat Allah menjelaskan kegagalan mereka atas kitabnya. (QS: 2: 78) “Waminhum ummiyyuuna la ya’lamuunaalkitaba illa amaniyya wa-in hum illayadzhunnuun”. Artinya : “Diantara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui al-Kitab, kecuali angan-angan belaka dan mereka hanya menduga-duga.” Kata ‘amaniy’ berarti mereka tidak tahu apa yang kitab itu katakan, mereka hanya berfikir mereka tahu apa yang kitab itu katakan. Ini adalah yang umat terdahulu lakukan dengan kitab mereka. Kitab apa yang sedang kita bicarakan? Kitab Taurat.

Sekarang dengarkan ini. Kata yang digunakan oleh Allah, untuk sesuatu yang mereka tidak tahu tapi mereka fikir tahu (angan-angan) adalah kata ‘amaniy’. Salah satu mufasir al-Qur’an besar, kemungkinan yang terbesar diantara semuanya, Ibnu Abbas r.a. dan Qatadah r.a. Ketika mereka membuat tafsir ayat ini, kamu tahu apa yang mereka katakan?. Yang mereka katakan adalah, “Kata ‘amaniy’ pada ayat ini berarti, apa yang kaum itu lakukan saat itu hanyalah tilawah.” Kalian tahu kan tilawah itu artinya apa? Membaca. Kemudian mereka lanjutkan dengan menjelaskan Bani Israil saat itu, apa yang mereka jelaskan? “Yang mereka tahu hanya menghafal dan membaca tanpa pemahaman. Mereka tidak paham apa yang ada di dalamnya. Mereka tidak benar-benar memahami apa yang ada di dalamnya.”

Ketika saya katakan, kita mengajarkan anak kita, apa 2 hal yang sesungguhnya dimaksudkan? Membaca dan menghafal. Yang dijelaskan oleh Ibnu Abbas itu siapa? Ia menjelaskan Bani Israil dan kejahatan mereka pada kitabnya. Dan ia berkata, yang mereka lakukan pada kitabnya hanyalah membaca dan menghafal. Hal terburuk yang mereka lakukan adalah mereka tidak paham apa yang dikatakan oleh kitabnya.

Penjelasan ini bisa diterapkan pada umat muslim saat ini. Terdapat suatu kaum yang mencintai kitabnya, membaca kitabnya dan bahkan menghafal kitabnya, tapi kebanyakan dari mereka yang bahkan hafal al-Qur’an tidak paham apa maksud dari yang mereka baca. Ini maksudnya sedang menjelaskan siapa? Ini sungguh menakutkan, benar-benar menakutkan. Karena yang dijelaskan oleh ayat ini bukanlah kaum Muslim tapi menjelaskan Bani Israil umat terdahulu yang gagal. Ini benar-benar permasalahan yang serius.

Orang Arab Juga Harus Belajar Tata Bahasa Arab

Lihatlah murid-muridnya As-Syafii r.a. Murid-muridnya banyak yang orang Arab. Ketika hendak mengajar Bahasa Arab, muridnya berkata: “Kita tidak perlu belajar bahasa Arab, kami sudah bisa bicara bahasa Arab kok.” Lalu Imam Syafii berkata, “Hal yang paling kutakutkan adalah murid yang sedang menuntut ilmu namun mereka menolak belajar tata bahasa Arab.” Terdapat suatu hadits dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam yang mengatakan; “Barang siapa yang mendustai perkataanku dengan maksud tertentu, maka ia telah menjamin tempatnya sendiri di Neraka.” Ia berkata, hadits yang ini yang membuatku takut terhadap muridku yang tidak mau belajar Bahasa Arab dengan serius karena mereka mungkin akan membuat kesalahan dalam tata bahasa Arab pada saat mengkaji hadits.  Oleh karena itu, mereka mungkin akan mengatakan sesuatu yang tidak dikatakan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Orang-orang seperti ini telah menjamin tempatnya di Neraka. Mereka ini orang Arab, saling memberi tahu ke sesama orang Arab. Beginilah betapa seriusnya mereka membahas masalah ini. Ini sungguh wajib bagi setiap muslim. Jika kamu perhatikan para sahabat, mereka sangat memperhatikan pentingnya Bahasa Arab.

Dahsyatnya Dampak dari Memahami Al Qur’an

Jika kamu perhatikan para ulama besar, mereka sangat memperhatikan pentingnya Bahasa Arab. Mengapa? Karena itulah yang menjaga agama. Menjaga integritas agama kita. Menjaga pemahaman yang tepat dari agama ini. Dan mungkin yang terpenting dari semuanya adalah Bahasa Arab dapat menjaga sholatmu. Bahasa Arab akan menjaga perilaku kita dalam berdiri di hadapan Allah. Ketika Imam sedang membaca kata-kata dari Allah, kita seharusnya merasakan pengalaman spritual, karena perkataan dari Allah sedang dibacakan. Mukjizat Allah sedang dihadirkan di hadapan kita. Namun, kita malah berdiri sambil menguap. Karena tidak paham apa yang dibacakan imam. Ini kan tragis.

Kata-kata yang sama sering dibacakan pada kita di saat sholat tarawih. Kata-kata yang sama dibacakan juga kepada Umar r.a. ketika ia belum menjadi muslim kala itu. Ketika Nabi Muhammad membacanya, Umar kabur karena takut. Kata-kata yang sama dibacakan juga kepada Tufail Ibnu Amar Ad-Dausi, seorang pemimpin suku yang datang ke Mekah. Ia lihat Nabi Muhammad membaca Al-Qur’an, ia berkata: “Saya dengar orang ini bisa bikin orang jadi gila bila mendengarnya.” Maka ia sumbat telinganya, lalu ia lari. Kemudian ia berhenti dan berkata: “Ngapain saya lari? Itu kan cuma kata-kata, saya bisa tahan kok.” Maka ia lepas sumbat telinganya, kemudian ia kembali dan mendegar yang diucapkan Rasulullah, ia langsung bersyahadat, lalu menceritakan ceritanya ini kepada kita. Ia cuma dengar kata-kata, namun langsung bersyahadat.

Ini (Al Qur’an) adalah kata-kata yang dibenci oleh orang-orang yang membenci Rasulullah, seperti Al-Akhnas bin Syuraiq, Abu Sufyan sebelum ia menjadi muslim, dan Abu Jahal. Apa kamu tahu apa yang orang-orang ini lakukan menurut sejarah Ibnu Ishaq? Mereka biasa mengunjungi rumah Rasulullah setiap malam. Yang satu nguping di satu sisi dinding untuk dengerin Al-Qur’an, yang satu lagi nguping di sisi satunya, dan sisanya nguping dari sisi lainnya. Mereka diam-diam pulang sebelum terbit matahari, tapi kemudian mereka saling berpapasan. Mereka pun saling bertanya: “Kamu lagi apa di sini?”, “Lah kamu sendiri lagi ngapain disini?”. Mereka ketagihan mendengarkan Al-Qur’an, mereka saling bersumpah untuk tidak datang lagi, tapi mereka saling berpapasan lagi keesokan harinya. Mereka bikin sumpah lagi, tapi saling berpapasan lagi di hari yang ketiga, mereka diam-diam ingin mendegarkan Al-Qur’an. Mereka berkata: “Jika ada yang lihat kita, maka kita bisa kehilangan wibawa” (karena mereka-lah yang bilang: “Jangan dengarkan orang ini.”)

Orang-orang kafir pada zaman itu, lebih ketagihan untuk mendegarkan Al-Qur’an ketimbang umat Islam di zaman sekarang. Apa gak sedih dengarnya? Ini kan tragis!. Ada yang efeknya lebih hebat lagi, di kisah Utbah Ibn Rabi’ah. Ia mendatangi Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ia itu tukang debat politik, suka menghina lawan bicaranya, sering mengintimidasi lawan bicaranya ketika berdebat. Ia berkata, “Kita tidak bisa mengatasi Muhammad” (ini orang kafir yang berbicara, mereka tidak menambahkan ‘Shallalahualaihi wassalam’ seperti kita). “Gimana kalau kamu saja yang berdebat dengannya, tunjukkan siapa yang lebih kuat?” Ia akhirnya pergi berbicara kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dan orang-orang Quraish menonton dari kejauhan. Ini akan menjadi pertandingan yang seru menurut mereka. Ia akhirnya menemui Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ia kemudian mulai menghinanya. “Kamu mau apa? Uang? Perempuan? Kamu ingin kekuasaan? Apa itu yang menyebabkan kamu mengacaukan suku kita?” ia terus menghina Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Rasulullah hanya diam tenang dan mendengarkan, dan ketika orang itu sudah selesai membentak. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam pun berkata padanya: “Apa kamu telah selesai bicara? Bisa saya mulai bagian saya?” Utbah berkata: “Silahkan, coba kita lihat apa yang akan kamu katakan.” Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian mulai membaca Al-Qur’an dan dalam beberapa detik, Utbah tidak bisa menahan air matanya kemudian ia berusaha menutup mulut Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam.

“Berhenti! Saya tidak tahan mendengarnya lagi”, sampai kemudian Rasulullah sampai pada ayat sajadah, lalu beliau pun sujud. Sehingga Utbah bisa pergi, orang Quraisy melihatnya dan berkata “Mukamu ketika pergi berbeda dengan ketika kamu kembali (seperti pasca operasi pembenahan muka).” Dia tidak menjadi muslim, akan tetapi ia sungguh telah ditaklukan oleh Al-Qur’an. Yang seperti itu tidak bisa dilakukan oleh Al-Qur’an terjemahan. Kekuatan al-Qur’an yang seperti itu hanya ada pada Al-Qur’an Bahasa Arab. Yang seperti itu yang seharusnya kita rasakan ketika kita sedang sholat.

Bahasa Arab Dapat Menjaga Sholat

Menurut kamu, khusu’ itu apa? Penuh perhatian dalam sholat? Fokus dalam sholat? Rendah hati ketika sholat? Allah Azza wa Jalla menjelaskan arti ‘khusu’ untuk kita. QS: Al-Hadid: 16….., “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka”. Hatinya harus tunduk karena mengingat Allah. Kemudian Allah menjelaskan, “Maksudnya apa mengingat Allah itu?”. Kemudian Allah menjelaskan, “Mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka).” Kebenaran apa yang telah turun itu? Al-Qur’an.

Sholat adalah suatu momen ketika hati kita tunduk bila mendengar ayat-ayat Allah. Tapi jika kamu tidak paham apa yang dibacakan dalam sholat dan kamu sungguh-sungguh berusaha untuk fokus.

Ada anak belasan tahun sedang berdiri untuk sholat dan tidak paham arti bacaanya. Ia terus menatap karpet dan ia malah bilang “Jahitannya kurang yang bagian sini, yang satu kesini yang itu malah kesana, gak simetris nih.” Atau mereka berusaha menutup mata sambil membayangkan ada ka’bah di hadapannya. Mereka melakukan hal-hal kreatif semacam ini guna mengejar satu hal. Apa itu? Untuk fokus memperhatikan  ayat yang sedang dibacakan. Allah berbicara kepada kita melalui Al-Qur’an. Ini seperti pengalaman tersendiri bagi orang yang beriman. Kekosongan itu perlu diisi. Demi Allah jika kita bisa lakukan, maka sebagian besar masalah akan terselesaikan. Karena itu artinya, 5 kali sehari kita akan menerima dan mengerti nasihat dari Allah untuk hidup kita. Itulah gunanya sholat, kita memperoleh bimbingan dari Allah. Ketika kita berdiri dan membaca Al-Qur’an, ketimbang kita yang membaca Al-Qur’an, Al-Qur’an lah yang ‘membaca’ diri kita.

Saya beri 1 cerita singkat tentang diri saya. Saya Alhamdulillah memiliki 4 orang anak, yang tertua namanya Husna. Berapa banyak diantara anda yang memiliki anak lebih dari 1 anak? Yang punya banyak anak akan mengalami ini juga. Ketika kamu punya anak pertama, semuanya terlihat mengagumkan. “Ya Tuhan dia ada giginya, Ya Tuhan dia bisa berdiri, Ya Tuhan dia berkata sesuatu.” Padahal bayi itu cuma bilang “Yeah”. Iya kan? Semuanya jadi menakjubkan. “Apa kamu rekam?”. Tapi kalau sudah punya anak yang ketiga atau keempat, “Siapa nama kamu tadi?”. Tapi setiap yang anak pertama lakukan, selalu spesial. Saya sedang sholat di rumah dan anak perempuan saya di samping saya. Allah memberikan kelebihan pada manusia, Dia tak hanya memberikan penglihatan di depannya saja, tapi juga di samping juga, iya kan? Saya sedang sholat tapi saya bisa lihat anak saya. Dan untuk pertama kalinya, dia meletakkan tangannya di lantai kemudian ia dorong dan kemudian ia berdiri untuk pertama kalinya! Ini anak pertama saya, dia berdiri untuk pertama kalinya dan saya sedang sholat. Maka ketika saya sholat, saya spontan melakukan hal seperti ini (menganga). Ini hal besar. Dan ketika itu terjadi, atas rahmat Allah saya sedang membaca surat Al-Munaafiquun dan ayat selanjutnya yang saya baca adalah (QS: 63: 9)…. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” Subhanallah.

Apa yang membedakan antara kamu tahu apa yang kamu baca dan bila kamu tidak tahu apa arti ayat yang kamu baca? Kalau saya tidak tahu artinya, maka saya akan biasa saja dan selesaikan sholatnya. Tapi kalau saya tahu artinya, maka saya akan lupakan anak saya. Dunia seakan runtuh di hadapan saya karena Allah langsung menegur saya. Ada bedanya kan? Mungkin inilah alasan yang paling utama mengapa bahasa Arab itu penting. Itu hal terakhir yang bisa saya sampaikan akan pentingnya bahasa Arab bagi muslim.


Niat Karena Allah, Maka Dimudahkan Belajar Bahasa Arab

Rintangan terbesar bagi seorang Muslim yang tinggal di US (dan Indonesia –red) terhadap Bahasa Arab adalah keyakinan dirinya sendiri bahwa Bahasa Arab itu sulit. “Saya suka belajar bahasa Arab, tapi saya tidak bisa kalau harus pergi 2 tahun untuk pergi ke mesir atau ke Saudi.”

“Tak bisa saya lakukan, saya tidak punya waktu, saya juga punya keluarga yang harus dinafkahi, saya tidak bisa melakukannya.”

“Sulit, saya sudah pernah nyoba, saya pernah datang ke pertemuan dan beli beberapa buku untuk belajar Bahasa Arab, kemudian saya mulai baca 1-2 halaman. Ketika masuk halaman ketiga, topiknya tentang pelaku, kata kerja, frase kata ganti, dan saya bekata: Subhanaka Allahuma wa bihamdika, ash-hadu alaa ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik,” Bukunya ditutup dan masuk rak, padahal masih baru. Banyak terjadi hal yang seperti ini. Kita punya keyakinan bahwa bahasa Arab itu sulit. Dan ketika kamu lihat ada orang yang pintar Bahasa Arabnya.” “Masha Allah, orang itu pinter banget.” Seolah-olah Allah menjadikan hal itu mudah baginya, ia seolah tidak butuh usaha apapun, pokoknya ia langsung bisa.

Tapi kalau kamu lihat seorang pelukis atau pembuat kaligrafi. Kamu lihat betapa mudahnya mereka mengerjakan itu. Kamu gak lihat berjam-jam yang mereka butuhkan untuk mereka melakukan hal ini. Yang kamu lihat hanya hasil jadinya saja. “Masha Allah, orang ini talentanya luar biasa. Allah memberkatinya.” Allah memberkatinya setelah ia berkeringat bertahun-tahun. Ada orang membaca Al-Qur’an dengan indah. “Allah berikan dia suara yang indah.” Tidak, pertama kali dia membaca, dia tidak pernah berhasil membaca Audzubillah dengan syekhnya setelah 35 kali baca. Selama 2 bulan Cuma baca al-Fatihah, tapi dia tetap lanjutkan.

Maka pertama-tama kita harus hilangkan dulu pikiran bahwa yang berhubungan dengan Al-Qur’an itu sulit. Karena janji Allah adalah (QS: 54: 17)… Allah sendiri yang berjanji “Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk mengingat-Ku.” Allah telah menjamin, bahwa Al-Qur’an akan dimudahkan. Allah tidak bilang bahwa akan dimudahkan hanya untuk orang Arab. Allah tidak bilang bahwa akan dimudahkan untuk orang Asia Tenggara, karena mereka bisa bahasa Urdu. Allah mengatakan, Allah akan memudahkan bagi semua orang. Dia cuma minta satu syarat. Kamu tahu apa syaratnya? Akan dimudahkan oleh Allah, bila tujuanmu belajar Al-Qur’an adalah untuk mengingat Allah (dzikr). Jika itu tujuanmu, maka Allah yang memberikan jaminan kemudahan mempelajarinya.

Tapi kemudian Dia memberikan pertanyaan. Subhanallah, pertanyaan yang luar biasa, “Adakah orang yang secara sadar ingin berusaha mengingat Allah?”. Mengingat siapa? Mengingat Aku. Aku mudahkan Al-Qur’an untuk mengingat-Ku. Siapa yang mengingat Allah? Maka apa yang ayat ini ajarkan? Ayat ini mengajarkan kita, bahwa dzikir pada Allah yang paling mulia itu apa? Al-Qur’an. Allah menyebut Al-Qur’an sebagai Adz-Dzikir, pengingat yang paling mulia. Kamu ingin berdizkir pada Allah? Dzikir terbaik adalah yang Allah pilihkan sendiri untukmu. Itulah perkataan Allah.

Dia berkata, siapapun yang datang ingin mengingat-Ku Aku akan mudahkan untuknya. Jadi belajar Tajwid menjadi mudah, belajar huruf Arab jadi mudah, belajar kosa kata jadi mudah, belajar tata bahasa Arab jadi mudah, belajar Tafsir menjadi mudah, menghafal al-Qur’an menjadi mudah. Semua menjadi mudah karena apa yang Allah katakan? Allah-lah yang membuatnya mudah. Jutaan anak di seluruh dunia, tanpa memiliki kemampuan ingatan fotografis, bahkan diantaranya sama sekali tak paham Bahasa Arab, tapi sanggup menghafal al-Qur’an. Ini memenuhi janji yang membuatnya jadi mudahkan? Subhanallah, Dia membuatnya menjadi mudah.

Ketika Ilmu Menghilang, Maka Kiamat Akan Datang

Ada orang yang saya kenal, dia lahir dari keluarga non muslim. Dia dibesarkan dalam budaya barat. Di akhir umur 30 tahun dia mengucapkan syahadat, namun sekarang dia hafal al-Qur’an. Allah-lah yang membuatnya mudah. Ini bukan pencapaiannya, tapi ini adalah hadiah dari Allah bagi orang yang ingin mengingat-Nya. Tergantung dari tujuan kita. Itu yang nomor 1. Nomor kedua, ini hadits dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam yang sangat terkenal, ada 2 hadits yang akan saya bacakan, yang satu cukup menakutkan yang satunya cukup bikin kita semangat. Yang menakutkan adalah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan tentang akhir zaman, berkaitan dengan satu tanda dari hari kiamat. Kemudian Ia berkata, “Akan terjadi suatu masa ketika Ilmu menghilang, ketika Ilmu menghilang maka tanda Kiamat akan muncul.” Yang menarik dari hadits ini adalah kita tidak tahu tanda apa itu karena apa yang akan terjadi dalam perisitiwa ini, sangat mengejutkan bagi para sahabat, sehingga mereka melupakan tandanya.

Apa yang terjadi selanjutnya? Ibnu Lubaid r.a. bertanya kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Bagaimana mungkin ilmu bisa menghilang wahai Rasulullah? Bagaimana mungkin ilmu bisa menghilang ketika kami membaca Al-Qur’an? Kami membuat anak kami pun membacanya, anak itu membuat anaknya nanti membacanya.” Tunggu sebentar, Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak mengatakan Al-Qur’an akan menghilang, apa yang beliau katakan? “Ilmu yang akan menghilang”. Apa yang para sahabat pahami tentang ilmu? Apa yang mereka katakan? “Bagaimana mungkin ilmu bisa menghilang ketika kami masih memiliki Al-Qur’an?”. Ketika para sahabat mendengar ilmu, maka yang pertama muncul dipikiran mereka adalah Al-Qur’an. Ini adalah pendidikan fundamental bagi mereka. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam  memberitahukan pada kita, dalam bahasa hadits yang lain. “Barangsiapa yang berniat memiliki ilmu, berpeganglah pada Al-Qur’an,  inilah ilmu”, Haditsnya shahih dari al-Bukhari.

Kita kembali ke yang tadi. Ketika ia mengatakan: “Bagaimana mungkin ilmu bisa menghilang? Rasulullah menjadi sangat marah. Kamu tahu apa yang beliau katakan? “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang Yahudi dan Nashrani? Apa yang ada di tangannya? Injil dan Taurat. Tapi mereka tidak mengambil darinya. Apakah kamu tidak memperhatikan itu?”. Maka nabi jelaskan, bahwa akan datang suatu masa ketika ilmu akan menghilang. Al-Qur’an nya masih ada, seperti mereka yang memiliki Injil dan juga Perjanjian Lama. Bahkan bagian yang telah mereka ubah pun tak mereka ikuti. Mungkin kamu berkata, “Ah mereka kan ubah kitabnya sendiri.” Tapi bagian yang dirubah itu pun tak mereka taati. Kaum muslimin pun memiliki kitab dari Allah di hadapannya. Ada halal haram, keyakinan, semuanya, ada di hadapan mereka. Apakah mereka mengambil darinya? Tidak. Sebagian besar tidak mengambil manfaat. Ini adalah bagian yang mengerikannya, yang insha Allah semoga kita perhatian akan hal ini.

Derajat Orang Yang Ahli dan Yang Kesulitan Mempelajari Al Qur’an

Sekarang saya ceritakan hadits yang positif, yang saya janji akan selesaikan ceritanya dalam 11 menit ke depan. Mungkin ini adalah hadits favorit saya jika dikaitkan dengan belajar Bahasa Arab. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Orang yang ahli dalam Al-Qur’an akan berada bersama malaikat yang mulia.” Malaikat yang paling mulia, yang derajatnya paling tinggi, yang sanggup menyentuh lauful mahfudz. Siapa yang akan bersama mereka? Masih ingat? Orang yang Ahli dalam Al-Qur’an. Yang ahli membaca, yang ahli dalam pengetahuan Al-Qur’an, yang ahli menghafal Al-Qur’an, yang ahli tajwid dan lain-lain, akan mencapai derajat itu. Tapi itu bukan kita, kita kan bukan orang yang ahli. Lalu bagaimana dengan kita? Rasulullah bersabda: “Orang-orang yang terbata-bata dalam membaca Al-Qur’an, ia bersusah payah mempelajarinya. Ia terbata-terbata.” Ia tidak bisa mengucapkan huruf ‘Ain’ melalui tenggorokannya. Setiap ia coba ucapkan, yang diucapkan adalah huruf ‘En’. Setiap mengucap ‘dod’, yang terucap justru ‘zod’. Sering terjadi yang seperti itu. Harusnya mengucapkan ‘dzikir’ tapi malah ‘dziker’. Tidak bisa mengucapkannya, sulit juga memahami tata Bahasa Arab, menemui kesulitan dalam belajar Bahasa Arab, ia hadapi banyak tantangan. Ini kategori yang kedua. Kategori yang pertama tadi adalah orang yang Ahli. Kategori yang kedua adalah orang yang kesulitan mempelajarinya. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Orang itu mendapat pahala dua  kali lipat dari kategori yang pertama.” Orang yang mengalami kesulitan.

Kebanyakan orang bilang: “Bahasa Arab itu sulit, sudah dicoba tapi emang sulit.” Jika itu terasa sulit, maka saya iri kepada anda. Saya harus cemburu pada anda, karena anda mendapat dua kali lipat dari pada orang yang Ahli. Apakah ada alasan lagi untuk tidak mempelajari al-Qur’an? Satu-satunya alasan adalah rasa sulit, tapi alasan yang itu pun ‘dihilangkan’ oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kalau kamu sulit, kamu dapat dua kali lipat pahalanya. Maka tidak ada alasan lagi. Kalau kamu yang kuliah dan mengambil mata kuliah yang dosennya sulit, membosankan, lalu kamu bilang, “Ah sudah deh, di ulang saja semester depan lah.” Kalau terasa sulit, kamu cari-cari alasan untuk menundanya. Kalau kitab nya Allah yang dirasa sulit, justru itulah alasannya kamu harus tetap belajar. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam merubah cara kita bersikap. Ini suatu tujuan bentuk penyegaran atas tujuan kita belajar. Bila tujuannya baik, maka Allah akan membukakan pintu untukmu. Kamu cukup perbaiki tujuanmu, itu saja. Kamu akan lihat Allah akan membuka pintu.

Hasrat karena Allah, yang Membuat Ingin Belajar

Kamu bisa berdebat teoritis, apakah Bahasa Arab itu penting atau tidak. Saya buktikan kalau Bahasa Arab itu penting. Tapi kalau kecintaan pada Al-Qur’an dan keinginan untuk mempelajarinya belum menyentuh hatimu. Bila itu terjadi, maka pengetahuan, dalil atau fatwa apapun tidak akan dapat membantumu. Kamu harus berhasrat kalau kamu ingin sholatmu lebih baik. Kamu ingin tangisan ketika membaca Al-Qur’an karena kamu paham perkataan Allah. Hasrat seperti itu yang membuatmu mau belajar. Saya ingin merasakan mukjizat Al-Qur’an dalam bahasa Rabb. Apa sih yang membuat bahasa luar biasa. Melalui bahasa ini perkataan Allah diwahyukan. Mengapa Allah pilih bahasa ini untuk kata-katanya.

Insha Allah jika Allah berkehendak mempertemukan kita kembali, saya akan tunjukan keajaiban dari kata ‘Alhamdulillah’ di surat al-Fatihah. ‘Alhamdulillahi raabil alamin.’ Kenapa Allah tidak menyebut ‘Innalhamdalillah’ saja, kalimat yang biasa dibacakan oleh Khotib. Dia tidak menyebut ‘Lillahilmahd’ tapi ‘Alhamdulillah’. Dia tidak menyebut Ihmadullah, Nahmadullah, benar kan? Allah secara spesifik benar-benar memilih kata ‘Alhamdulillah’. Mengapa kata yang satu ini lebih baik dari pada kata-kata yang lainnya? Apa yang membuatnya sempurna? Ini adalah satu bentuk kajian, dimana kamu menghargai kesempurnaan dari setiap kata dari Allah. Bagaimana kamu yakin kata ini datang dari Allah, tidak mungkin diciptakan oleh orang lain. Diantara anda mungkin ada yang merupakan siswa dari jurusan sastra Inggris atau sejarah yang banyak baca kajian sastra. Subhanallah, kamu akan hargai Al-Qur’an ini lebih dari sastra apapun. Semua sastra dari manapun tidak akan bisa menandingi keindahan satu surat dalam al-Qur’an. Kamu akan hargai, ini bukan cuma teori tapi kenyataan. Jika kamu menjadi murid yang mempelajari kitab ini, insha Allah.

Cara Belajar Bahasa Arab

Saya mau jelaskan bagaimana cara belajar Bahasa Arab. Langkah terbesar untuk belajar bahasa Arab adalah Tujuanmu. Saya ingin mengingat Allah, itulah mengapa saya belajar. Bukan karena ingin memesan makanan di restoran Arab. Saya belajar karena ingin mengingat Allah. Jika itu tujuanmu, tugasmu sudah selesai. Karena Allah-lah yang kemudian akan memudahkan.

Masalah yang kedua, bahan kedua yang kamu butuhkan. Program kami ini tercipta karena sebuah ayat yang kami pikirkan, bahwa Allah memfasilitasi al-Qur’an. Saya mulai belajar Bahasa Arab di tahun 2000. Sebelum tahun 2000 saya tak paham Bahasa Arab. Saya mulai belajar dari satu guru yang satu ke guru yang lain, dan ketika itu saya merasa Bahasa Arab itu sulit. Istilah-istilahnya sulit, kamu dituntut banyak menghafal, dan banyak tekanannya. Dan saya sadari perbedaan gaya mengajar orang timur dengan gaya mengajar orang barat. Yang paling terlihat, di kalangan orang muslim, tidak ada istilah guru yang  buruk. Yang ada hanya murid yang buruk. Maka, kalau muridnya gagal, itu bukan salah gurunya, tapi itu kesalahan muridnya sendiri. Bahkan kalau gurunya tidur di kelas, tetapi muridnya lah yang salah. Tidak ada istilah guru yang buruk.

Tapi di Amerika, tidak ada istilah murid yang buruk. Pokoknya gurunya yang salah. “Ah…profesor saya gak bisa jelasin apa-apa, dia gak bikin soal tesnya dengan benar.” “Saya cek myprofessor.com dia Cuma bintang 3”. Kamu paham kan maksud saya? Ini 2 dunia yang berbeda. Di dunia yang satu, guru tidak boleh dikritisi tapi di dunia lain guru selalu dikritisi. Tapi kita tinggal di Amerika, dan kita hidup di tengah masyarakat konsumen. Di masyarakat konsumen, pelanggan itu selalu benar. Siapa yang bayar sekolah? Murid kan. Murid selalu benar. Siapa yang bakal dipecat dari univesitas? Dosen yang mendapat review buruk. Pelanggan selalu benar, meski terlihat agak aneh dan kapitalis, terdapat beberapa kebenaran di dalamnya. Kamu meluangkan waktu, lalu saya bicara secara monoton dan logat bahasa saya terlalu kental. Saya benar-benar membosankan bagi anda, kamu mulai akan melihat murid akan sering melihat jam. Dan mulai membuat kontak dengan satu sama lain. Kamu keluar duluan, nanti saya menyusul.

Kamu meluangkan waktumu, karena kamu merasa mungkin ada yang berharga dari sini. Jika ada syekh yang berceramah dan isinya bagus, maka kamu akan terus duduk disitu. Tapi kalau membosankan, kamu mulai pergi. Atau awalnya kamu duduk tegap, lalu sikumu mulai turun, lalu sikumu terus menjauh dan tertidur. Tapi intinya, program kami didesain tidak melihat kesalahan ada dari yang belajar. Tapi menunjukan inilah kita, memang seperti inilah kita. Maka kita harus menciptakan program, yang membuat murid tetap bangun memperhatikan. Murid merasa kelasnya tidaklah sulit, tapi mudah. Maka, tekanannya bukanlah di murid, tapi tekanannya ada di guru.

Ini yang paling membedakan program Bahasa Arab kami dengan program bahasa Arab yang lain. Di program yang lain, gurunya akan berkata: “Ini PR mu, saya sudah ajarkan materinya, kenapa kamu tidak paham? Ada apa denganmu? Apa tadi saya gak jelaskan dengan benar? Apa perlu diulang?”. Tapi di kelas kami: “Kamu gak ngerti? Oke saya jelaskan dengan cara lain. Kamu masih belum mengerti? Oke saya kasih cara lain lagi. Masih gak ngerti juga? Oke setelah kelas ini saya akan ajarkan khusus buat kamu, tapi saya harus pastikan kamu paham. Kamu tidak boleh pulang sampai kamu paham.” Karena tekanannya bukan ada di murid, tapi ada di gurunya. Ini hal pertama yang membuat program kami berbeda.

Hal kedua yang membuat kami berbeda adalah ada di perbedaan fokusnya. Bahasa punya 4 kemampuan: membaca, menulis, berbicara dan mendengarkan. Ketika kamu belajar Bahasa Arab dengan niat Agama, supaya sholatnya lebih baik, untuk memahami khutbah berbahasa Arab dan lain-lain. Maka kamu tidak peduli dengan kemampuan berbicara. Ini tidaklah penting untukmu. Kalau kamu belajar kemampuan berbicara, kamu mau berbicara dengan siapa? Istrimu? Dia akan bilang: “Biarkan saya sendiri”, kalau kamu ngomong pake Bahasa Arab. Kamu ngomong dengan temanmu yang orang Arab, kamu terdengar lucu dan ia akan respon pakai Bahasa Inggris. Maka kesempatan untuk berbicara pakai Bahasa Arab itu terbatas. Kalau kamu pakai di tempat kerja kamu bisa dipecat.

Kamu tidak bisa gunakan di dalam kereta, karena kamu tahu apa yang akan terjadi. Kesempatan untuk berbicara dalam Bahasa Arab sangat terbatas, karena kita tinggal di Amerika. Tapi jika saya ajarkan kamu untuk paham Al-Qur’an, untuk mendengar dan membaca dengan pemahaman. Tapi saya tidak mengajarkan kamu caranya menulis. Apa kamu perlu bisa menulis untuk memahami Al-Qur’an? Tidak.  Kita bisa pelajari itu nanti. Saya ajari dulu apa yang benar-benar kamu butuhkan sekarang. Saya ajari kamu paham dulu. Saya ajari supaya kamu mendengarkan dengan baik dulu. Lupakan dulu kemampuan berbicara, kita akan pelajari nanti.

Jika kamu mau belajar Arab lebih lanjut, saya akan ajarkan kemampuan berbicara juga. Tapi sekarang saya paham apa yang kamu butuhkan. Yang kita butuhkan adalah supaya kita bisa memperhatikan ketika sholat. Saya bisa berikan itu dalam 10 hari. Setelah 10 hari itu, kamu akan mulai memperhatikan ketika Imam membaca kamu memperhatikan dan kamu amati sesuatu, mulai terasa masuk akal. Lebih baik dari sebelumnya. Saya tidak bilang kamu akan paham bahasa Arab dalam 10 hari, itu salah. Itu tidak akan terjadi. Tapi saya yakin saya katakan, insha Allah kamu akan memiliki dasar yang kuat dalam Bahasa Arab.

Setelah itu, bila kamu belajar sendiri akan jadi lebih mudah, buku-buku yang tadinya kamu simpan, akan jadi mudah untuk kamu baca. Tugas saya adalah menjelaskan bagian yang sulit menjadi mudah bagimu. Kemudian kalau kamu mau berkembang harus belajar sendiri, nah itu tugasmu. Tapi saya jamin tugas yang menjadi tanggung jawab saya.

Saya jelaskan sedikit tentang programnya, karena waktu saya sudah habis. Program kami dinamai bayyinah.com dan sudah dimulai dari 2 tahun yang lalu (ceramah ini di tahun 2009). Dibawakan oleh saya dan 2 rekan. Sekarang kami terdiri dari 5 orang. Kami sudah berkeliling di masjid-masjid di negara ini dan kami menangani 10 kelas, 10 malam, 3 jam setiap harinya, jam 7-10 malam, selama 10 malam. Dan program kami dihadiri oleh wanita, anak-anak, pria, semua orang. Program kami Alhamdulillah terdapat 42 komunitas yang terdiri dari 4000 murid.

Saya amat mengajak kalian semua di sini dan anggota keluarga yang tidak hadir di sini untuk menghadiri dan benar-benar berpartisipasi penuh di dalamnya. Karena sekarang daftar komunitasnya semakin membesar. Maka sulit untuk membawakan program yang sama di kota yang sama dalam waktu dekat. Maka saya tidak tahu kapan akan diadakan lagi. Kunjungi www.bayyinah.tv untuk kursus bahasa Arab online dengan Ustad Nouman Ali Khan. Saya sudah bahas banyak betapa pentingnya mempelajari hal ini. Jika yang tadi sudah ada di hatimu, maka kamu akan menemukan jalan kemudahan yang dibukakan oleh Allah. syahida.com

[islamedia]
close
Banner iklan disini