Warga Kota Bandung Gelar Aksi Bela Al-Aqsa



Islamedia Ribuan masyarakat dari berbagai kalangan berunjuk rasa menyuarakan dukungan untuk Palestina. Mereka menuntut pembebasan Al Aqsa dari penindasan Israel.

Selesai salat Jumat, mereka berkumpul di sekitar kawasan Pusdai Kota Bandung. Kemudian sekitar pukul 13.00 WIB, long march mulai bergerak menyusuri Jalan Diponegoro. Selain pejalan kaki, pengunjuk rasa juga diiringi dengan mobil komando yang dilengkapi pengeras suara. Seluruh kegiatan dikawal petugas kepolisian.

Pengunjuk rasa ini datang dari berbagai kalangan, mulai dari Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP) Jawa Barat, Aliansi Pergerakan Islam (API) Jawa Barat, Bandung Fighting Club, serta masyarakat luas.

Di depan Gedung Sate, peserta long march berhenti untuk berorasi. Satu per satu perwakilan peserta menyuarakan dukungan untuk Palestina, sekaligus kecaman untuk Israel. "Ini adalah tragedi kemanusiaan, ketika sebuah masjid ditutup dan tidak boleh dimasuki," ujar salah seorang orator.

Ditemui di tempat yang sama, Ketua Umum Bandung Fighting Club Edwin Senjaya mengatakan, seluruh umat Islam sudah selayaknya mendukung Palestina. "Kita bersaudara, sudah selayaknya memberikan dukungan dan kepedulian terhadap Palestina yang sedang dizolimi Israel. Kita tidak punya alasan untuk diam," katanya.

Sedianya, gerakan dukungan dalam bentuk longmars ini akan bergerak menuju Masjid Al Ukhuwah di Jalan Wastukancana.

Ketegangan di kompleks masjid Al Aqsa masih terus berlangsung. Seperti dilaporkan Al-Jazeera, Kamis, 20 Juli 2017, jemaah Al Aqsa dari berbagai daerah kembali menggelar protes mendesak otoritas keamanan Israel untuk tak lagi memasang detektor logam dan pintu putar otomatis di depan pintu masuk masjid. Kedua alat tersebut dipasang sejak Sabtu pekan lalu setelah dua polisi Israel tewas ditembak tiga warga Arab-Israel.

Protes lebih besar rencanannya akan dilakukan usai salat Jumat, 21 Juli 2017.  Imam Besar Al Aqsa, Muhammad Hussein, menyerukan warga muslim Palestina untuk melakukan salat Jumat kali ini di depan masjid Al-Aqsa. Dia berharap, puluhan ribu orang akan datang untuk menekan petugas keamanan Israel agar melepas detektor logam dan pintu putar otomatis.

Detektor logam dipasang untuk mendeteksi kemungkinan seseorang membawa senjata tajam dan benda berbahaya lainnya. Sementara pintu putar otomatis berfungsi untuk mengecek dan menghitung jumlah orang yang memasuki masjid dengan akurat.

Warga muslim Palestina khawatir pemasangan detektor logam dan pintu putar tersebut akan membuat Israel secara perlahan akan menguasai bangunan suci di kalangan umat Islam dan Yahudi tersebut. Padahal, sejak dulu sudah disepakati bahwa pemegangan kontrol di masjid tersebut adalah warga Muslim. Warga Muslim tak ingin sttaus quo ini diubah.

Dalam aturan yang sudah disepakati selama ini, Warga Yahudi tetap diijinkan untuk mengunjungi masjid Al-Aqsa atau di kalangan Yahudi dinamakar Har Ha Bayit, tetapi mereka tak dibolehkan beribadah di sana. Ijin untuk warga Yahudi hanya kunjungan saja, bukan ibadah.

Aturan ini masih diberlakukan sampai sekarang, tetapi ada kekhawatiran di kalangan muslim Palestina, status quo Al-Aqsa akan berubah


sumber : pikiran-rakyat

[islamedia]