Tidak Ada Dikotomi Ilmu Dalam Islam


IslamediaKerusakan dalam tubuh umat islam berasal dari hilangnya adab (loss of adab), baik adab kepada diri sendiri, adab kepada alam, ada kepada sesama, bahkan adab terhadap ilmu. Salah satu bentuk hilangnya adab terhadap ilmu yaitu ketika semua ilmu disamaratakan.

Ketika ilmu disamaratakan, maka itu adalah ciri hilangnya adab,” jelas Muhammad Ardiansyah pada perkuliahan kesembilan Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Jakarta Angkatan 2017 di Aula INSISTS, Jakarta Selatan, Rabu (03/05).

Dalam perkuliahan bertajuk “Adab dan Peradaban” tersebut, Ardiansyah menjelaskan bahwa Islam tidak mengenal dikotomi ilmu. tetapi bukan pula menyamaratakan semua ilmu. Ilmu dalam Islam, lanjutnya, hanya mengenal pengklasifikasian.

Islam tidak mendikotomikan ilmu tapi mengklasifikasikan ilmu,” papar pengasuh Ponpes Shoul Lin Al-Islami Depok Ini.

Ardiansyah menjelaskan salah satu contoh klasifikasi ilmu dalam Islam yaitu adanya ilmu yang dikategorikan fardhu ‘ain dan fardhu kifayah.

Ilmu fardhu ‘ain yaitu seperti yang dijelaskan dalam hadits Rasul yang menyangkut Iman, Islam dan Ihsan, selainnya adalah fardhu kifayah,” jelas Ardiansyah.

Namun Ardiansyah juga menyampaikan bahwa yang fardhu kifayah sekalipun bisa menjadi fardhu ‘ain jika kondisi menuntut atau untuk menghindarkan diri dari kecelakaan. Ia manganalogikan dengan orang yang yang akan naik gunung. “Jika kita akan naik gunung, maka ilmu tentang naik gunung menjadi fardhu ‘ain dipelajari, karena itu akan menghindarkan kita dari kecelakaan,” pungkasnya.

Perkuliahan yang berlangsung dari pukul 18.30 sampai dengan 21.05 WIB ini diakhiri dengan sesi diskusi. Anto, salah satu peserta kuliah mengaku mendapatkan banyak ilmu baru dari perkuliahan kali ini. “Ilmu ini sangat bermanfaat buat ke depannya. Jadi saya bisa lebih aware dan beradab,” jelasnya. [islamedia/asyari/abe]
close
Banner iklan disini