Segala Sesuatu dalam Islam Berasal dari Wahyu, Bukan Sejarah


IslamediaKajian ‘Konsep Diin’ kita munculkan karena karakteristik agama dipertanyakan oleh para pemikir. Apa yang terjadi ketika agama bertemu dengan wilayah kemanusiaan seperti kehidupan sosial, kultur, kebudayaan, politik, dan ekonomi?,” ujar Ahmad Rofiqi mengawali perkuliahan keenam Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Bandung 2017, Sabtu (29/04) lalu. 

Lulusan Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun (UIKA), Bogor, tersebut melanjutkan bahwa mereka yang mengaku sebagai para pemikir banyak yang memiliki mindset yang keliru, karena menganggap bahwa agama perlu melakukan sebuah proses adaptasi untuk dapat diterima masyarakat, sehingga memiliki corak dan karakter yang berbeda di berbagai tempat mengikuti kondisi dan situasinya.

Bertempat di Hotel D’Best Sofia, Jalan Teuku Angkasa 27, Bandung, puluhan peserta menyimak dengan seksama pemaparan Ahmad tentang makna diin. Ia berasal dari kata daana−yadiinu−dainan yang memiliki arti keadaan berhutang, penyerahan diri, kuasa peradilan atau hukum, dan kecenderungan alami atau fitrah. “Kita berhutang kepada Tuhan yang menciptakan kita, yaitu Allah. Kita taat pada Allah sebagai hakim yang  mengatur kehidupan kita, dan kita melakukan itu semua secara naluriah atau fitrah, bukan karena dipaksa,” jelas Ahmad.

Dalam Bahasa Arab, agama disebut diin yang berarti ajaran yang berasal dari Tuhan, apapun Tuhannya dan apapun ajaran itu. Diin memiliki aturan terperinci, sedangkan millah hanya mengandung ajaran pokok saja. “Al-Qur’an beberapa kali, seperti dalam surat Ali-‘Imran ayat 95, menyebut ajaran Nabi Ibrahim sebagai millah karena tidak dapat dilihat rinciannya. Bukan berarti ajaran Nabi Ibrahim tidak memiliki ajaran terperinci. Ada, tapi kita tidak tahu apa,” ungkap Ahmad. Selain itu, terdapat pula syariat yang merupakan rincian aturan diin, sehingga syariat bagian dari diin.

Ahmad mengatakan bahwa Islam adalah satu-satunya agama wahyu, sebab nama ‘Islam’, nama Tuhan dalam Islam, yaitu Allah, nama kitab sucinya, dan syariat Islam, semuanya berasal dari wahyu, yaitu Al-Qur’an. “Maka apakah Musa dan Isa membawa ajaran Yahudi dan Nasrani? Itulah yang harus kita persoalkan. Ajaran yang mereka bawa adalah Islam. Kitab sucinya bisa jadi beda, tetapi kandungan Taurat dan Injil sama seperti Al-Qur’an, yaitu tauhidullah,” pungkas Ahmad.

Salah seorang peserta SPI, Fanny Azzahra, mengakui bahwa materi perkuliahan kali ini sangat menarik. “Saya baru tahu, cuma agama Islam yang namanya memang diberikan dari Tuhannya. Kalau agama yang lain kan diambil dari nama tempat atau nama orang yang berhubungan dengan sejarah agama itu,” tutur mahasiswi Jurusan Biologi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, tersebut. [islamedia/hansa/abe]