Propaganda Anti Vaksin Tingkat Keilmiahannya Rendah, dan Cenderung Hoax




IslamediaHampir bisa dipastikan, yang memilih menjadi antivaks awalnya sudah membaca sebuah tulisan tentang konspirasi vaksin, tulisan yang tingkat keilmiahannya rendah, dan cenderung hoax.

Sebaliknya, yang menjadi provaks, umumnya sudah mempelajari bahwa hal tersebut di atas tidak benar, membaca lebih lanjut dari sumber yang valid, ilmiah dan memilih menyerahkan urusan kepada ahlinya.

Pertanyaannya.. di zaman medsos dan internet yang sudah ramai sekarang ini, berapa kali kita terjebak hoax/berita bohong? Untuk yang memilih menjadi antivaks, pernah tidak berpikir bahwa bukan vaksinasi yang konspirasi, tapi justru gerakan antivaks inilah konspirasi yang sebenarnya untuk melemahkan generasi ummat Islam?

Pembahasan provaks - antivaks sangat berbeda dengan misalnya lahir pervaginam atau SC, ibu bekerja atau ibu rumah tangga, dan sejenisnya, yang masih memiliki tempat kebenaran di masing-masing sisi, sesuai dengan indikasi dan kondisinya. Provaks - antivaks lebih seperti informasi yang valid dengan yang tidak valid. Bagaimana mungkin ada dua hal yang berlawanan dan bisa benar dua-duanya?

Mengenai bully, merendahkan, merasa lebih baik, dsb yang terjadi di kolom komentar antara kedua kubu, itu kewajiban masing-masing individu untuk mempertanggungjawabkan. Contoh topik yang disebutkan sebelumnya juga rentan saling merasa benar, tapi kenyataannya mereka bisa sama-sama memiliki argumentasi untuk benar. Meskipun untuk provaks - antivaks ini dua kutub yang jelas berbeda (hanya salah satu yang benar), tetap harus menjaga menyampaikan dengan cara yang baik.

Keputusan vaksin/tidak adalah hak setiap orang tua? saling menghormati saja? Kalau menurut provaks tidak demikian. Untuk menciptakan lingkungan yang sehat diperlukan herd immunity / kekebalan komunitas. Jadi perlu partisipasi bersama, jika kurang dari 80% saja cakupan imunisasi, maka akan muncul penyakit yang seharusnya bisa dicegah oleh kekebalan komunitas.

Tugas kami hanya menyampaikan, tidak perlu emosi bagi yang masih tidak sependapat. Kami hanya merasa kasihan kalau masih ada yang percaya tulisan yang tidak benar. Antivaks itu juga ada di negara barat, argumentasinya bukan karena agama, meski ada yang karena agama. Khusus di negara dengan penduduk Islam, alasan agama cukup kuat. Perihal ini, mari kembali ke fatwa MUI yang sudah dikeluarkan. Ingat juga cakupan vaksinasi yang tinggi di Kerajaan Saudi Arabia, yang mendekati 100%.

Semoga bisa meyakinkan bagi yang masih ragu untuk melakukan vaksinasi.


Ditulis oleh Dokter Agung Zentyo Wibowo


[islamedia]