Membangun Budaya Literasi yang Kritis

IslamediaIngat, di balik kata ada konsep, dan di balik konsep ada worldview,” ujar Akmal Sjafril dalam pembukaannya pada kelas perkuliahan Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Jakarta, Rabu (26/04) silam, di Aula INSISTS (Institute for The Study of Islamic Thought and Civilizations), Kalibata, Jakarta Selatan. Kuliah yang bertemakan “Diskusi Literasi” ini adalah yang ke-8 dari 20 pertemuan dalam rangkaian perkuliahan di SPI. 

Pria jebolan Teknik Sipil ITB ini menyampaikan bahwa tujuan perkuliahan pada materi ini adalah untuk membekali peserta dengan daya kritis dalam membaca, mencerna dan memahami suatu karya literasi tanpa meninggalkan adab keislaman. Daya kritis itu diharapkan muncul dari pemahaman peserta setelah mengikuti perkuliahan SPI sejauh ini. “Peserta perkuliahan diharapkan juga memiliki keberanian dan ketangkasan dalam berdebat dengan para pengusung paham yang bertentangan dengan Islam, khususnya pegiat liberal dan aktivis pluralisme,” ujarnya.

Metoda pembelajaran kali ini berbeda dengan kuliah-kuliah sebelumnya. Kali ini, peserta kuliah diajak mengkritisi sebuah transkrip wawancara antara Julia Suryakusuma, seseorang yang menyatakan dirinya sebagai ‘spiritualis’, dengan pewawancaranya Ulil Abshar Abdalla, aktivis Islam liberal. Peserta diminta untuk mengkritisi setiap segmen dialog wawancara tersebut. Tema wawancara tersebut adalah tentang ketidakpercayaan Julia kepada agama, meski ia mengaku percaya kepada Tuhan. Para peserta kuliah pun menyampaikan pendapatnya masing-masing dan mengkritisi pernyataan-pernyataan di dalam transkrip wawancara tersebut.

Dalam diskusi, Akmal secara aktif membimbing peserta agar mampu berpikir kritis. “Pada dasarnya, pernyataan-pernyataan yang dikemukakan oleh aktivis liberal tidak memiliki pondasi ilmiah yang memadai, bahkan hampir selalu ada kontradiksi dalam pernyataan mereka sendiri,” terang penyandang gelas Master dalam Program Pascasarjana Pendidikan dan Pemikiran Islam dari Universitas Ibn Khaldun Bogor ini. 

Peserta diminta untuk percaya diri bahwa argumentasi liberalis tidak secerdas yang dicitrakan. “Salah satu tips dalam meng-counter pernyataan mereka yang terdengar seolah-olah ilmiah itu adalah cermati kontradiksi yang hampir selalu muncul dari pernyataannya, lalu serang. Jangan terpancing ke dalam irama permainan mereka, namun ciptakan irama kita sendiri”, jelas founder #IndonesiaTanpaJIL (ITJ) ini. 

Ciri khas pernyataan kaum liberal adalah menggiring opini pembaca atau audience-nya dengan pernyataan-pernyataan yang sangat sarat dengan ‘framing’, misalnya ketika mencitrakan pemeluk Islam yang taat sebagai fundamentalis yang intoleran dan sangat identik dengan kekerasan bahkan terorisme,” katanya lagi.

Banyak kontradiksi dijumpai dalam transkrip wawancara yang menjadi bahan diskusi. Sebagai contoh, dalam transkrip wawancara, Julia menyatakan bahwa dia adalah seorang spiritualis yang percaya pada eksistensi Tuhan namun tidak meyakini agama. “Baginya, agama hanyalah sebuah wahana menuju Tuhan, sehingga ketika telah bertemu Tuhan maka agama tak diperlukan lagi. Namun pada akhir wawancara Julia menyampaikan bahwa dia memiliki cara dan pola ritual untuk berkomunikasi dengan Tuhan, yaitu dengan meditasi. Ritual meditasi yang dilakukan Julia sesungguhnya sudah merupakan ‘agama’ yang ia ciptakan sendiri,” ungkap Akmal.

Para peserta perkuliahan juga menemukan kejanggalan logika dalam wawancara tersebut., antara lain kebiasaan Julia melakukan klaim-klaim kebenaran. “Sebagai contoh, dalam wawancara  tersebut disebutkan bahwa Julia merasa telah memahami hampir semua agama dan budaya, sehingga merasa memiliki otoritas dan kompetensi untuk membuat judgement terhadap Islam. Padahal, di awal wawancara, Julia sendiri mengakui bahwa dia tidak mempelajari Islam secara mendalam dan tidak dibesarkan dalam asuhan dan lingkungan yang memperkenalkan nilai-nilai Islam secara mendalam,” papar Akmal lagi.

Pernyataan kaum liberal seringkali tampak ilmiah, padahal tidak memiliki rujukan ilmiah yang kuat, misalnya dari riset penelitian. Itu hanya dapat kita rasakan jika kita kritis mencermati kata demi kata yang mereka pilih. Dari kata-kata dan kalimat yang mereka pilih untuk digunakan, akan terlihat makna dan konsep yang mereka usung, yakni ide-ide tentang relativisme, pluralisme dan liberalisme. Dan dari konsep yang diusung, akan semakin jelas tergambar bagaimana cara pandang mereka dalam melihat dunia dan alam semesta, atau yang sering kita sebut sebagai worldview,” pungkas pengajar dan peneliti INSISTS ini.

Bagi Iwan, salah satu peserta perkuliahan, materi kuliah kali ini sangat bermanfaat dan dapat dipraktekkan secara konkrit ketika membaca suatu karya literasi. “Upaya peningkatan daya nalar keislaman yang kritis terhadap ide-ide pemikiran liberal harus sering-sering dilatih bagi para aktivis Islam, karena jam terbang yang tinggi akan semakin mempertajam ‘pisau analisis’ terhadap suatu ide pemikiran yang tidak berdasarkan pada worldview Islam, dalam hal ini pemikiran liberal, sekuler, dan pluralisme,” ujarnya. [islamedia/iwan/abe]