Adab Tidak Sama Dengan Akhlak

IslamediaAllah tidak akan mencabut ilmu dari seseorang secara keseluruhan dalam suatu waktu, melainkan secara perlahan-lahan dengan hilangnya ulama, sehingga rusaklah ilmu yang menyebabkan hilangnya adab. Setelah itu muncullah pemimpin palsu yang merusak.” Inilah kalimat awal yang dituturkan oleh Ardiansyah saat membeirkan materi “Adab” di Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Jakarta pada Rabu, 3 Mei 2017.

Ardiansyah juga menjelaskan bahwa Al-Attas, seorang cendekiawan Muslim dari Malaysia, menyebutkan ciri-ciri utama hilangnya adab ini ialah proses penyamarataan yang ditanamkan dalam pikiran dari waktu ke waktu dan diamalkan oleh masyarakat. Kondisi ini menyebabkan kezaliman, kebodohan, dan kegilaan sekaligus. 

Adab merupakan hal yang lebih luas daripada akhlak. “Akhlak ialah kondisi jiwa seseorang yang dengan kondisi ini seseorang akan melakukan sesuatu secara refleks. Maka, ada pembagian akhlak baik dan akhlak buruk. Beda dengan adab. Adab tidak ada yang buruk,” sambung pengasuh pondok pesantren Shoul Lin al-Islami, Depok ini.

Karena adab ialah sesuatu yang luas, maka adab meliputi berbagai aspek, yaitu adab kepada diri sendiri, manusia lain, ilmu, bahasa, alam dan bahkan perabotan dirumah kita. “Maka, hal ini perlu dipahami sebagai sesuatu yang harus dilaksanakan oleh manusia untuk menjadi manusia yang baik atau beradab. Jika tidak, maka akan hilanglah adab kita,” ungkapnya lagi.

Solusi untuk memperbaiki hilangnya adab ialah dengan cara penanaman adab atau ta’dib untuk melahirkan manusia beradab, bertaqwa dan berbahagia. Dengan itu, manusia yang beradab akan membangun peradaban yang unggul,” tegas Ardiansyah.

Sebelum perkuliahan ditutup oleh moderator, Irfan Dzulhijjah, Ardiansyah menegaskan bahwa dengan adab yang terjaga, maka akan muncul manusia baik yang akan menjaga peradaban yang jauh lebih luas untuk kebaikan bersama dalam berkehidupan. [islamedia/winda/abe]