Ustadz Felix Siauw Bicara Tentang HTI

Islamedia - Hari ini kita dikejutkan wacana "Pembubaran HTI" oleh Menko Polhukam, terlepas dari banyak hal yang tidak prosedural dalam hal ini, kita perlu mencermati beberapa hal

Pertama, Hizbut Tahrir adalah organisasi yang menjadikan Islam sebagai dasar aktivitasnya, hingga mengadopsi cara damai dalam dakwahnya yang dengan pemikiran

Maka sangat membingungkan apabila wacana pembubaran itu justru didasarkan tuduhan mengancam keamanan, dan semisalnya, data mana yang digunakan rezim ini?

Kedua, ide-ide yang disampaikan Hizbut Tahrir pun terbuka dan bisa diakses siapa saja, jika dikatakan bertentangan dengan Pancasila, yang mana? mengapa tidak didiskusikan?

Ataupun membahayakan NKRI, ini pun aneh, sebab disintegrasi yang terjadi selama ini justru tidak ada hubungannya dengan HTI, lagi-lagi tidak berdasar data yang jelas

Ketiga, yang paling penting adalah, rezim ini menegaskan pada poin "keputusan ini diambil bukan berarti pemerintah anti terhadap ormas Islam", ini sangat menarik diteliti

Mengapa? Sebab pemerintah tahu persis, siapapun yang menyimak kasus penistaan agama, aksi #BelaIslam, dan semua yang terjadi, sulit menolak anggapan bahwa rezim ini anti-Islam

Bagaimana tidak, aksi ummat yang murni karena aqidah dituduh makar, tak hanya sekali tapi berkali-kali. Tapi bila itu berkaitan dengan si penista agama, begitu luas ruang diberikan

Organisasi yang sudah nyata-nyata meresahkan seperti Syiah, ide terlarang sosialis dan komunis juga diberi ruang, dan ide-ide anti-Islam nan liberal juga tak diambil tindakan

Yang saya khawatirkan, ini hanyalah awal dari pemberangusan ide-ide Islam dan pendukungya. Sebab secara alamiah Islam adalah musuh bagi kedzaliman dan ketidakadilan

Kita tidak sedang berusaha mengemis pada siapapun, toh dakwah tetap akan berlanjut apapun keadaannya. Bila rezim ini betul melakukannya sebab anti-Islam, ummat punya mata

Syukur-syukur pemerintah menyadari kekeliruannya lalu membuka diskusi, sebagaimana pada pembakar masjid, pada komplotan penista agama, bukan hanya klaim sepihak

Sayang jika laporan segelintir orang, karangan bunga dianggap "silent majority", sementara hukum dikesampingkan, dan jutaan Muslim lain diabaikan, terlalu terburu-buru

Jangan sampai juga ummat justru melihat ini pengulangan terhadap pembubaran Masyumi, penekanan terhadap suara-suara ummat yang cinta Islam hidup dan matinya.



[islamedia]