Tantangan Islam di Tengah Arus Relativisme

Islamedia Memasuki pekan ke-6 perkuliahan, Rabu (13/04), Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Jakarta menyajikan bahasan bertopik “Konsep Diin”. Materi yang dibawakan oleh Dr. Wido Supraha ini diawali dengan mendiskusikan beberapa pandangan para pemikir Islam Liberal dalam menjelaskan dan memahami agama.

Pandangan yang dibahas seperti yang diajukan oleh Dr. Adeng Muchtar Ghazali, BA, Drs, M.Ag., misalnya. Dalam buku Ilmu Studi Islam, Adeng membedakan antara agama dan keberagamaan. “Agama, menurutnya. adalah ajaran Tuhan yang bersifat universal dan mutlak, sedang keberagamaan bersifat relatif dan membawa konsekuensi kebenaran yang dibawa penganutnya menjadi relatif,” ungkap Wido.

Hal yang senada juga disampaikan Masdar Hilmy, MA. dan Akh Muzakki M.Ag. dalam buku Dinamika Baru Studi Islam. “Dalam buku ini dijelaskan bahwa agama yang mutlak hanya berada di sisi Tuhan, dan ketika turun dan berada di tangan manusia kebenaran yang dimilikinya pun menjadi relatif yang disebabkan oleh perbedaan latar belakang dan kemampuan manusia dalam memahami agama. Hal ini membuat setiap manusia memiliki kebenaran masing-masing yang dianggap sah dan harus diakui,” ujar Wido lagi.

Menanggapi pandangan seperti ini, Wido menjelaskan bahwa kebenaran agama bukan hanya di sisi Allah namun telah turun kepada manusia bersama dengan penerimaan wahyu. “ Dalam ayat ke-147 di Surat Al-Baqarah disebutkan, ’Al-haqqu min Rabbika’. Kata ‘min’ dalam ayat tersebut memiliki arti ‘dari atau berasal’. Maknanya ialah kebenaran atau ‘al-haqq’ telah ada sebelum dan tetap ada setelah diturunkan kepada manusia,” ungkapnya.

Ada pun pemahaman yang relatif diakui keberadaannya dan dibatasi pada aspek furu’iyah atau perkara cabang dalam agama, bukan pada perkara ushul atau pokok,” lanjut peneliti INSISTS ini.

Dosen Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor ini kemudian mengingatkan fenomena membanjirnya istilah yang berasal dari Barat dalam pemikiran dan studi Islam merupakan bentuk pengrusakan agama dan upaya memecah belah tubuh umat Islam. “Istilah fundamental, radikal, konservatif, inklusif, modern, liberal dan sebagainya yang dilekatkan pada kata ‘Islam’ telah membelokkan makna Islam dari arti yang sebenarnya,” terangnya.

Azzam Muhtadi, salah seorang peserta kuliah, mengaku tertarik pada materi yang disampaikan. Pemuda yang juga aktif di salah satu Pesantren Tahfidz di Tangerang ini teringat akan pesan motivasi yang disampaikan pemateri, “Kita sebagai pemuda harus bisa berpengaruh besar untuk masyarakat. Karena gebrakan itu tidak harus digerakkan oleh massa yang banyak, tapi dengan strategi yang tepat hasil dari pemikiran yang cerdas,” ungkapnya.[islamedia/ali/abe]