Pentingnya Memahami Wahyu dan Kenabian




Islamedia Peserta SPI mendapatkan materi “Wahyu dan Kenabian” pada pertemuan ketujuh di kelas Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Jakarta Angkatan 2017, rabu (19/04). Bertempat di Aula INSISTS, kali ini Muhammad Fadhila Azka tampil sebagai narasumber.

Menurut Azka, umat Muslim perlu memahami konsep dasar wahyu, karena seringkali kelompok liberal, mu’tazilah dan orientalis membuat jebakan pemahaman, sehingga akan mengganggu kesempurnaan aqidah. Hal utama yang menjadi dasar dari konsep wahyu ini adalah keyakinan terhadap Al-Qur’an yang bukan ciptaan atau tulisan Muhammad, sehingga ia harus dipahami murni sebagai kalam Allah.

Qur’an tidak bisa diposisikan sebagai teks. Ia juga bukan manuskrip, melainkan bacaan yang dihafal sehingga ia bebas dari kritik sejarah, kritik sumber dan kritik teks. Tulisan yang ada adalah usaha untuk melestarikan ingatan atau hafalan itu dan dibuat berdasarkan kaidah bacaannya,” jelasnya.

Salah seorang aktivis #IndonesiaTanpaJIL ini juga menjelaskan konsep kenabian yang merupakan bentuk keterpilihan khusus oleh Allah bukan klaim semata. “Semua nabi merupakan insan khusus pilihan Allah menurut pengetahuan Allah, oleh karena itu ia tidak bisa menjadi sebuah klaim sebagaimana Syiah mengklaim Ali adalah Yusuf ,” ujarnya.

Ali, salah seorang peserta SPI mengatakan bahwa materi ini padat sekali, sehingga banyak hal yang didapatkan. “Saking bagusnya materi, saya pikir saya sudah mencatat banyak, akan tetapi setelah dicek di akhir kuliah, catatan saya ternyata sedikit karena saya lebih fokus memperhatikan materi,” ujarnya. [islamedia/fauzi/abe]