Konsep Ketuhanan Menentukan Worldview




IslamediaSempat libur satu kali, akhirnya Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Bandung Angkatan 2017 kembali menggelar perkuliahan pada hari Sabtu (22/04). Bertempat di Hotel D’Best Sofia, Jalan Teuku Angkasa 27, Bandung, puluhan peserta hadir untuk menerima materi “Tauhidullah” yang disampaikan oleh Kepala SPI Pusat, Akmal Sjafril.

Secara representatif, Akmal memaparkan perbedaan konsep ketuhanan dalam Islam dengan berbagai keyakinan atau agama lain, seperti Yunani Kuno, Kristen, dan Hindu, bahkan termasuk juga sekilas ulasan tentang ateisme. Peneliti di Institute for The Study of Islamic Thoughts and Civilizations (INSISTS) tersebut menuturkan bahwa mempelajari dan memahami konsep ketuhanan menjadi sangat penting sebab berefek pada cara pandang (worldview), cara berpikir, dan cara bertindak seseorang.

Dalam Islam terdapat sebuah konsep yang disebut Ma’rifatullah atau dapat diartikan mengenal Allah. “Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengenal Allah. Pertama, melalui pancaindera, yaitu melihat keseimbangan dunia sehingga muncul keyakinan bahwa ada pencipta. Kedua, melalui akal, yaitu memikirkan sifat pencipta dengan melihat keteraturan dunia. Ketiga, melalui wahyu, yaitu melalui Al-Quran dan hadits,” ujar Akmal. 

Urutan tersebut, tutur Akmal lagi, adalah urutan ma’rifatullah secara intelektual. “Sedangkan secara metodologi, cara terbaik mengenal Allah adalah melalui wahyu, baru setelah itu akal dan pancaindera. Sebab, akal dan pancaindera manusia tak pernah bisa menjangkau Allah,” jelasnya.

Ma’rifatullah membentuk cara pandang manusia terhadap hidupnya. Kalau kita kenal Allah, maka kita punya tujuan hidup, mengerti siapa kita, tahu mana perbuatan yang benar atau salah, dan mengerti bagaimana memaknai pengalaman hidup kita,” papar Akmal.

Silva Intan Jayanti, salah satu peserta SPI Bandung Angkatan 2017 yang juga aktif dalam komunitas Remaja Aktivis Masjid Pusdai (Rampai), mengatakan bahwa perkuliahan kelima ini membuatnya paham bahwa jika konsep ketuhanannya berbeda, maka berbeda pula worldview yang dimiliki. “Mereka (non-muslim, pen.) menolak kebenaran Islam, padahal konsep ketuhanan dalam Islam itu simpel, nggak rumit seperti yang sering mereka katakan,” tuturnya. [islamedia/hansa/abe]