Jika HTI Dibubarkan, Mengapa Syiah yang Lebih Membahayakan NKRI Dibiarkan Berkembang?

Islamedia - Pembubaran ormas Islam Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) oleh pemerintah Indonesia disikapi beragam oleh berbagai kalangan, salah satunya  Sekretaris Komisi Dakwah MUI Pusat periode 2015-2020 yang juga Wakil Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah 2015-2020 KH Fahmi Salim Zubair MA.

Fahmi menegaskan bahwa dirinya tidak setuju dengan Menkopolhukam yang membubarkan ormas yang seharusnya sesuai Undang-Undang harus lewat putusan pengadilan, bukan dengan model pernyataan pers.

"Pembubaran ormas harus dengan pembuktian fakta hukum di pengadilan bukan dengan opini publik yang dikembangkan sepihak" ujar Fahmi seperti dilansir hidayatullah.com, senin(8/5/2017).

Menurut Fahmi, jika pemerintah ingin bersikap tegas dengan organisasi yang berorientasi transnasional, tidak boleh tebang piling HTI saja, ini dzolim namanya. Jadi harus juga diterapkan kepada ormas yang jelas-jelas transnasional yang mereka komandonya menginduk kepada negara luar, yang tunduk pada otoritas keagaman dan politik yang bersifat pada totaliter.

"Misalnya organ-organ komunisme yang ditengarai yang bangkit, juga organ-organ Syiah di Indonesia yang menginduk pada gerakan transnasional (tunduk Syiah Iran)" jelas Fahmi.

Lebih lanjut Fahmi menjelaskan bahwa konsep imamah pemeluk Syiah merupakan konsep politik yang menyatukan agama dan negara yang dikontrol dari luar negeri (Iran, red). Dan untuk mengabdi pada kepentiangan Syiah-Iran.

"Jika perlu ini perlu ditertibkan karena mereka juga memiliki konsep imamah internasional mirip HTI selama ini mewacana konsep khilafah internasional. Syiah ini malah lebih berbahaya, malah mengancam sendi-sendi bernegara, karena konsep politiknya totaliter. Dimana menyatukan agama dan negara dibawah kendali imam yang terpusat kekuasaannya di Iran. Syiah mengancam akidah ahlusunnah wal jamaah di Indonesia yang dihuni mayoritas penduduk Indonesia" papar Fahmi.

Fahmi juga memberikan contoh nyata pemeluk Syiah banyak mengangkat senjata dan melakukan pemberontakan di mana-mana. Dari Iraq, Libanon, Yaman sampai Bahrain.

Di Bahrain, tokoh Syiah yang juga peminpin Partai Al-Wafa’a Islam,  Murtadha Al-Sanadi mengajak rakyat melawan Negara dan mendorong anak-anak muda Syiah Bahrain untuk terus menyerang aparat keamanan, dan mengangkat senjata melawan pemerintah.

Pemberontakan di Arab Saudi membuat tokoh Syiah Syekh Nimr dihukum mati karena dianggap menghasut rakyat melawan pemerintah Saudi.

"Syiah menimbulkan keresahan di mana-mana, termasuk di Nigeria dimana bentrok antara militer Negara dengan milisi Syiah. Jangan lupa di Filipina,  kasus penembakan terhadap rombongan Syekih Aid Alqarny. Di Bogor aktivis Syiah melakukan penyerangan terhadap Azzikra Sentul, yang dipimpin Ustad Arifin Ilham, dll." Jelas Fahmi. [Islamedia]