Agama Adalah Soal Keberhutangan




Islamedia Membahas tentang “Konsep Diin”, Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Jakarta menghadirkan kembali Dr. Wido Supraha sebagai narasumber. Kegiatan yang diadakan pada Rabu malam (12/04) di Aula INSISTS, Kalibata, Jakarta Selatan, menjadi pembelajaran penting bagi peserta untuk lebih mengenal bagaimana agama yang sebenarnya.

Di awal pembahasannya, Wido memperkenalkan pemahaman agama dari beberapa sumber buku. Dari beberapa rujukan, ada pemahaman agama yang dianggap janggal, yaitu seputar perdebatan tentang kebenaran agama yang mutlak dan relatif.

Kebenaran bagi Islam tidak pernah relatif, karena kebenaran ada di dalam Al-Qur’an. Setiap manusia pasti memiliki perspektif masing-masing. Ketika hal itu mengemuka, maka harus disatukan dan dikembalikan lagi kepada Al-Qur’an. Menyatukan perspektif-perspektif tersebut adalah fungsi kitab suci,” terang Wido.

Wido menjelaskan makna “Ad-diin” dari akar katanya, yaitu keberhutangan, penyerahan diri, kekuatan hukum, dan kecenderungan alami.

Islam memastikan bahwa manusia punya hutang. Kenapa berhutang? Karena dulu kita tak ada, kemudian kita diciptakan. Kemudian kita hidup dari bayi, anak-anak, remaja hingga dewasa, di situ kita merasakan berhutang. Orang yang berhutang punya kewajiban untuk membayar,” tutur Wido.

Lebih lanjut, peneliti INSISTS ini mengatakan kalau tidak membayar hutang maka ada hukuman. “Itulah agama. Ia mengajarkan kepada kita bahwa manusia pada hakikatnya berhutang kepada Allah, dan kita harus membayarnya. Jika tidak, maka akan ada hukuman. Karena kita hutang segalanya kepada Allah, maka kita akan mengembalikan segalanya kepada Allah juga,” papar Wido.

Dosen Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor ini juga menjelaskan bahwa Islam adalah agama wahyu. “Nama agama dan konsep Tuhannya berasal dari wahyu, tata cara agamanya juga berdasarkan wahyu,” pungkas Wido.

Pungky Lestari, salah seorang peserta kuliah, berpendapat bahwa kuliah kali ini sangat bermanfaat. “Kita jadi mengetahui lebih dalam mengenai konsep Diinul Islam dan Islam tidak hanya sebuah agama yang diletakkan sebagai status pada tanda pengenal tetapi juga sebagai the way of life, dan benar-benar menjelaskan hakikat kehidupan manusia,” ujarnya. [islamedia/ony/abe]