Ustadz Salim A Fillah : Cinta Sepanjang Jalan


Islamedia - Seiring berjalanya usia pernikahan, mungkin 5 tahun, 10 tahun, kian terasa kehidupan rumah tangga sebagai hal yang rutin. Pergi ke kantor, pulang ke rumah, berada dalam suasana yang sama disetiap hari tidak ada sesuatu yang menjadi hal yang istimewa lagi.

Dalam keadaan yang demikian perlu sekali bagi suami istri, bagi ayah dan ibu, bersama juga dengan anak-anak, membangun suatu tata hubungan baru yang akan menguatkan ikatan. Menguatkan sakinahnya, ketentraman didalam rumah tangga kita. Menguatkan mawadahnya, gelora yang akan membuat semua bersemangat beraktivitas berjuang diranahnya masing-masing. Dan juga rahmahnya, yang memperkuat hubungan ikatan batin saling mencintai dan memuliakan dengan penuh keagungan.

Nah salah satu prasangka yang sering tumbuh didalam kehidupan rumah tangga yang sudah berjalan 5 tahun, 10 tahun adalah prasangka yang berbahaya, bunyi prasangka itu berada dalam hati kita "seharusnya dia sudah tahu". Masing-masing mengasumsikan pasanganya sudah tahu apa yang harus dilakukan, pasanganya seharusnya sudah tahu apa yang harus ditanggapi dari suatu kondisi yang ada dalam dirinya. Hal-hal semacam ini tidak benar. Karena komunikasi justru harus semakin intens, komunikasi justru harus semakin banyak dilakukan bicara dari hati ke hati semakin akrab. Semakin kokoh ketika kemudian orang melewati masa-masa pernikahan yang berjalan semakin jauh.

Segera asumsi "seharusnya dia sudah tahu" ini adalah prasangka yang membuat kita hanya menggerutu didalam hati, merasa capek dengan tindakan pasangan yang tidak sesuai dengan harapan dan seterusnya. Maka daripada kita menggerutu dengan mengatakan "seharusnya dia sudah tahu kalau". 

"Kalau aku lagi marah, seharusnya dia sudah tahu kalau dia harus mendengarkan, menyimak dengan sepenuh hati, dia seharusnya memfokuskan perhatian tidak disambi dengan yang lain, tidak sambil membaca, tidak sambil main gadget.seharusnya dia sudah tahu".

"Seharusnya dia sudah tahu kalau aku pulang kecapekan itu, harusnya dilepas sepatunya, dibikinkan minum , dipijitin kakinya, diini diini".

Kalimat "seharusnya dia sudah tahu" "seharusnya sudah tahu" ini menumpuk berbagai macam kekecewaan.

Maka justru kita ingat para Salafus Sholih menggunakan moment-moment ketika beristirahat malam berbaring bersama di tempat tidur dengan saling bertanya, apa yang harus saya lakukan ketika engkau sedang begini.

"Kalau engkau sedang marah apa yang engkau sukai dari saya, apakah saya harus begini, apakah saya harus begitu, apakah saya harus membuatkan minum, apakah saya cukup duduk disampingmu menyimak bisa bersamamu memijit-mijit punggungmu pundakmu, apa yang harus saya lakukan". Ini harus dikomunikasikan.

"Kamu senangnya kalau pas aku lagi dapat satu prestasi kamu senangnya dirayakan dengan siapa saja, hanya kita atau ada orang-orang khusus yang ingin kau undang bersama. Kamu kalau ada tamu yang seperti ini sebaiknya, aku gimana".

Kalau ada ini, kalau ada itu, ini dikomunikasikan selalu, karena inti rumah tangga adalah mengkomunikasikan segalanya ketika kita tidak lagi hidup sendiri. Mengkomunikasikan segalanya karena kita hidup bersama pasangan kita.

Memberi surprize itu baik, tetapi selain memberi surprize berbincang bersama tentang hal-hal yang akan dilakukan bersama. Tentang hal-hal yang mempengaruhi semua gerak hidup dalam rumah tangga kita dibicarakan dikomunikasikan disampaikan daripada menebak-nebak, menduga-duga dengan asumsi "seharusnya dia sudah tahu". Maka sebaiknya kita bicara.

Saudara-saudara yang dimuliakan Allah, bicara adalah hal yang paling mendasar. Misalnya kalimat "I love you, aku mencintaimu". Pasangan yang menikah 5 tahun, 10 tahun selalu mengatakan dia sudah tahu kalau saya mencintainya, nyatanya saya pulang kerumahnya, bukan kerumah yang lain. Nyatanya saya ada didekatnya, bukan didekat yang lain.

Tetapi ternyata kalau kita belajar dari bagaimana Allah menuntun kita menjadi seorang hamba yang baik. Hatta Allah yang maha tahu segala isi hati, Hatta Allah yang tahu bahwa kita mencintainya, masih meminta kita untuk mengekspresikan cinta itu secara verbal, sehari semalam setidaknya 17 kali yaitu lafadz "Alhamdulillahirobbil 'aalamiin" disurat Al Fatihah didalam tiap rakaat Sholat kita. Karena kata Ibnu Qoyyim Al Jauziah, "Alhamdulillahi robbil 'aalamin adalah" ungkapan cinta, pujian kepada Allah, "arrahmanirrahim" ungkapan harap, "maliki yaumiddin" ungkapan takut.

Tiga ini : cinta, harap, takut, kesempurnaan seorang hamba. Maka ungkapan cinta kepada Allah itu dalam kitab bermadzhab Syafii Tallafudznya dalam Sholat memverbalkannya dalam Sholat itu termasuk rukun. Dan itu artinya apa, bahkan Allah yang maha tahu meminta kita mengungkapkan cinta secara verbal. Maka bagaimana pasangan kita yang tidak maha tahu, tidak mengerti isi hati kita, seharusnya mereka mendapatkan ungkapan verbal cinta itu "i love you, aku mencintaimu, aku sayang padamu, aku rindu padamu" ini mendapatkanya lebih dari itu. Lebih dari 17 sehari.

Selamat mengungkapkan cinta, selamat berkomunikasi, segarkan kembali, refresh kembali. Satu saat mungkin anda perlu waktu berdua, lakukan waktu berdua. Memang ada family time, ada juga couple time, ada juga waktu untuk me time. Lakukan dengan proporsional untuk membangkitkan cinta, untuk menguatkan cinta. Wassalaamu 'alaikum Warohmatullahi Wabarokaatuhu.


[islamedia]