Menelusuri Konsep ‘The Worldview of Islam’




Islamedia Manusia itu lupa bahwa ia pernah mengadakan perjanjian dengan Allah sewaktu di alam ruh untuk bertauhid kepada-Nya, untuk menaati segala perintah-Nya. Makanya manusia disebut al-Insaan, yang jika ditelusuri makna secara bahasanya berarti ‘lupa’,” ungkap Dr. Wendi Zarman di tengah-tengah sesi perkuliahan Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Bandung, Sabtu (25/03).

Di tempat yang sama dengan pertemuan di pekan sebelumnya, perkuliahan kembali diadakan di hotel D’Best Sofia, Jl. Tengku Angkasa No. 27, Bandung. Kelas dimulai dengan pembukaan acara oleh Yoka Nur Rahman yang bertindak sebagai moderator, dilanjutkan dengan pemberian materi ‘The Worldview of Islam’ oleh Dr. Wendi Zarman, M.Si yang kini diamanahi jabatan sebagai Direktur Institut Pemikiran dan Pembangunan Insan (PIMPIN).

Menurut doktor pendidikan Islam dari Universitas Ibn Khaldun Bogor ini, worldview merupakan pandangan-pandangan atas kepercayaan asas tentang hakikat realitas dan makna eksistensi akan suatu hal yang tersusun sehingga menjadi hal dasar yang mempengaruhi kehidupan seseorang. Worldview ini kemudian akan membentuk suatu peradaban tertentu dengan orang-orang yang memiliki pemahaman senada berada dalam lingkarannya. “Sederhananya, worldview dapat kita kenali sebagai pandangan hidup atau paradigma tentang bagaimana menilai hal-hal yang ada,” ujarnya.

Worldview of Islam kemudian dipetakan oleh Wendi menjadi keyakinan-keyakinan yang berperan dalam mengisi ruang keimanan. “Berbicara eksistensi, Allah telah menyediakannya sebelum kita (manusia, red.) hadir di dunia. Dia sudah purna mengatur segala urusan hidup kita. Tugas kita selanjutnya hanya tinggal memahaminya dan menjalaninya. Itulah worldview of Islam,” paparnya kepada 43 peserta kuliah yang hadir di kelas.

Beliau menambahkan, “Worldview Islam dalam tidak mengenal periodisasi atau kurun sejarah seperti worldview lain di dunia. Dalam Islam tidak terdapat penyempurnaan sistem, ajaran, dan pandangannya karena sudah final sejak awal, sudah sempurna diturunkan oleh Allah melalui utusan-Nya di dunia, Rasulullah SAW.”

Worldview Islam itu berbasis wahyu yang didukung oleh prinsip akal. Akal di sini (dalam pandangan Islam) ada bukan untuk mengkritisinya, namun untuk memahaminya. Islam tidak mengikuti gerak sejarah, coba kita lihat di surat ke-5 ayat ke-3 di Al-Qur’an. Karena sudah mutlak, Islam tidak memberikan relativisme nilai,” ungkapnya lagi.

Dr. Wendi kemudian memberikan gambaran karakter pandangan alam Islam. “Berpusat pada konsep Tuhan, Islam meyakini wujud mutlak hanya miik Tuhan pencipta seluruh alam dan Dia-lah yang mengatur dan menjadi sebab dari segala sebab. Islam mengakui adanya kewujudan alam fisik maupun metafisik, di mana selain memahami adanya penyebab rasional dan empiris, juga meyakini adanya sebab supranatural,” pungkasnya.

Delapan orang siswa yang berkesempatan mengajukan pertanyaan cukup untuk membuktikan adanya antusiasme yang mengesankan pada pertemuan SPI Bandung yang kedua ini. “Dengan konsep ilmu Tauhid yang tidak dikotomis atau dengan kata lain selaras, tidak bertentangan satu sama lain, ma’rifatullah (mengenal Allah - red.) menjadi tataran keilmuan yang paling tinggi dalam Islam,” ungkap Dr. Wendi saat menanggapi salah satu pertanyaan peserta. “Pendekatan kebenaran dalam agama adalah dengan melihat jaminan pada diri Rasulullah saw. Misal kita ingin menanyakan tentang suatu hukum fisika; maka apa yang dijelaskan oleh seorang ahli, seorang profesor di bidang Fisika akan kita yakini bahwa itu benar. Sama halnya dengan kita melihat Islam pada diri Rasul yang perangainya baik dan diyakini sudah mendapatkan pengajaran dari Tuhan sendiri,” tandasnya dalam tanggapan pertanyaan peserta yang lain lagi.

Selepas kuliah, salah satu siswa yang berdomisili di Jatihandap, Bandung mengungkapkan kesannya dalam menghadiri perkuliahan 25 Maret ini. “Materi tentang worldview ini luar biasa, pejal, penuh isi, dalam artian padat konten. Penjabaran mengenai worldview sudah cocok untuk menyumbangkan pemikiran Islam kepada kita peserta SPI,” ungkap peserta yang akrab disapa Fanny ini. Salah seorang peserta kuliah yang lain, Tia Apriany, juga membenarkan pernyataan Fanny mengenai materi yang sarat ilmu ini. Tia menambahkan bahwa ia mendapatkan banyak hal dan pemahamannya kembali diluruskan di kelas kali ini. [islamedia/nadya/abe]