'Konsep Ketuhanan Harus Berdasarkan Wahyu, Bukan Spekulasi'


Islamedia Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Jakarta memasuki perkuliahan ke-5 pada Rabu malam (05/04). Perkuliahan yang digelar di Kantor Institute for The Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) di Kalibata ini membahas tema “Tauhidullah” dengan pemateri Akmal Sjafril.

Dalam paparannya, Akmal menjelaskan bahwa perbedaan worldview bergantung pada konsep Tuhan dari masing-masing agama. “Pemahaman manusia terhadap Tuhan akan menentukan worldview (cara pandang kehidupan) yang digunakan dan menentukan posisinya diantara manusia lainnya,” tuturnya. Ia menjelaskan bahwa dari konsep ketuhanan inilah kemudian lahir konsep ajaran dan tata cara berkehidupan serta bersikap terhadap manusia dan makhluk yang lainnya.

Pria lulusan Program Pascasarjana Pendidikan dan Pemikiran Islam Univ. Ibn Khaldun ini mencontohkan beberapa konsep Tuhan di luar Islam yang membawa konsekuensi pada pandangan dan ajaran agamanya. Misalnya, dalam ajaran Kristen, konsep Tuhannya didasarkan pada ajaran Trinitas. “Pandangan ini menjadi keyakinan penganutnya tanpa disertai penjelasan yang memuaskan dan logis. Namun justru dari konsep ini lahir doktrin-doktrin seputar keimanan yang diyakini penganutnya. Sementara ajaran ini tidak dinyatakan secara tegas di dalam Bibel,” ujarnya.

Pengajar sekaligus peneliti INSISTS ini menuturkan bahwa, menurut Islam, pengenalan terhadap Allah atau ma’rifatullah ditempuh dengan tiga cara, yaitu melalui pancaindera, akal dan wahyu. Akmal menjelaskan bahwa kekhususan konsep Tuhan di dalam Islam adalah bersumber dari wahyu. “Kedudukan indera dan akal hanya sebagai alat bantu yang akan mendukung dan membuktikan kebenaran wahyu,” ungkapnya lagi.

Penulis muda ini menjelaskan bahwa diantara ketiga pendekatan ini harus berjalan tanpa sama sekali meninggalkan unsur utama yaitu wahyu. “Islam telah mengajarkan pemahaman yang komprehensif tentang Allah melalui wahyu. Jika kita hanya menggunakan akal dalam menjelaskan Tuhan maka hanya akan berujung pada spekulasi filosofis,” terang aktivis Komunitas ITJ (#IndonesiaTanpaJIL) ini.

Menurutnya, spekulasi filosofis ini tidak akan mengantarkan pada hakikat Tuhan, karena indera dan akal manusia memiliki kemampuan terbatas untuk memahami banyak hal dalam kehidupan, apalagi yang di luar itu. “Itulah yang menjadi kelemahan dalam konsep Tuhan pada agama-agama di luar Islam. Mereka terjebak dengan spekulasinya sendiri,” ungkap Akmal lagi.

Islam adalah agama yang sangat jelas menerangkan jati diri Tuhan. Tauhidullah adalah ciri khas Islam, mencakup keesaan Allah dalam Dzat-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya. Pengenalan terhadap Allah atau ma’rifatullah akan membentuk cara pandang manusia terhadap tujuan hidupnya, jati dirinya, perbuatannya, pengalaman hidupnya, pemahaman akan eksistensi dunia dan makhluk-makhluk selain dirinya,” pungkas Akmal.

Mohammad Naufal Abdillah, salah seorang peserta SPI, memberikan komentar positif terhadap materi kali ini. “Kuliahnya membuka pikiran saya akan betapa rancunya konsep Tuhan di luar Islam dan lebih meyakinkan saya bahwa Tauhid adalah konsep yang sempurna dan bisa dipertanggungjawabkan secara logis,” ujarnya. [islamedia/ali/abe]