Ghazwul Fikri, Fenomena Lama Berdampak Luar Biasa

Islamedia Founder Sekolah Pemikiran Islam (SPI), Akmal Sjafril, menyambangi pelaksanaan kursus singkat SPI pada Sabtu (01/04), di D’best Sofia Hotel, Bandung. Dalam kuliah kali ini, Akmal yang juga peneliti di Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) ini memberikan materi “Ghazwul Fikri” atau perang pemikiran.

Perang pemikiran ini dinilai lebih berbahaya dibandingkan dengan perang fisik. Hal itulah yang menjadikan materi ini sebagai bagian dari kurikulum wajib SPI. Menurut Akmal, yang paling penting harus dibangun oleh sebuah negara adalah sumber daya manusia, karena manusia mampu berpikir dan menciptakan infrastruktur. Jika sebuah negara hanya berkonsentrasi pada pembangunan infrastuktur, maka akan terjadi ketidakseimbangan.

Kita ini jangan fokus sama infrastruktur. Yang paling penting adalah sumber daya manusianya. ‘Kan manusia yang bisa membuat infrastruktur,” ungkap Akmal

Akmal juga memandang bahwa sebenarnya ghazwul fikri adalah fenomena umum yang telah terjadi sejak lama. Pelakunya pun berasal dari berbagai macam kepentingan, namun memiliki satu tujuan, yakni merusak pemikiran umat muslim. Untuk memetakan ghazwul fikri, Akmal dalam ceramahnya memaparkan bahwa terdapat tiga modus dalam perang pemikiran, yaitu media massa, pendidikan dan sosial budaya.

Di era informasi, sangat mungkin suatu berita besar diawali dari propaganda di media. “Bahkan sebuah kebohongan apabila diberitakan terus menerus suatu saat akan menjadi sebuah kebenaran. Contohnya, peristiwa runtuhnya WTC di Amerika Serikat yang pada akhirnya mendeskreditkan Islam sebagai agama teroris. Padahal, peristiwa keruntuhan itu sendiri sampai sekarang masih diperdebatkan oleh para ahli sains,” ujar Akmal.

Modus kedua adalah pendidikan. “Pendidikan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Karenanya, tidak sedikit lembaga pendidikan yang menerima modal dari kaum kapitalis. Dengan demikian, kurikulum pendidikan yang diterapkan adalah pesanan dari pemberi modal,” paparnya lagi. “Yang ketiga adalah sosial budaya, banyak terkandung dalam sinetron, film, fashion dan berbagai aspek lainnya,” ujarnya.

Dalam kesimpulannya, Akmal menegaskan bahwa ghazwul fikri hanya bisa dimenangkan dengan ilmu. Hal ini jugalah yang dirasakan oleh Dini Dwi, salah seorang peserta SPI yang merasakan pentingnya ilmu dalam menangkal segala doktrin sekulerisme, liberalisme maupun pluralisme.

Alhamdulillah kuliah kali ini membuka cara berpikir agar lebih kritis, dan nggak nerima gitu aja doktrin-doktrin dari luar,” ujar mahasiswi sastra Inggris itu.

Dini menyadari bahwa dengan belajar dan mengikuti forum seperti SPI dirinya dapat lebih memantaskan diri dan menyiapkan diri dalam menghadapi gelombang serangan pemikiran yang memiliki dampak luar biasa dalam merusak pemikiran umat Islam. [islamedia/retno/abe]