Ghazwul fikri Adalah Peperangan, Bukan Pembantaian


Islamedia Ghazwul fikri atau perang pemikiran menjadi tema yang dibahas pada pertemuan ketiga Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Bandung. Kuliah yang diadakan pada hari sabtu (01/04) kali ini menghadirkan Akmal, M.Pd.I., selaku Kepala SPI Pusat sebagai narasumbernya.

Menurut penulis rubrik ghazwul fikri dalam Majalah Dakwah Islam Al-Intima’ ini, frase “ghazwul fikri” berasal dari Bahasa Arab. Kata “ghazwah” berarti perang dengan tujuan menaklukkan lawan dan memanfaatkan segala sumber daya yang dimiliki, sementara “fikrah” artinya pemikiran yang berperan mengendalikan tubuh dan seluruh potensinya.

Definisi ghazwul fikri perlu dipahami dengan baik, sebab saat saya bertanya kepada para aktivis dakwah mengenai makna frase tersebut, maka jawabannya adalah serangan pemikiran dari berbagai arah kepada umat Islam. Jika hanya seperti itu yang dipahami, maka itu namanya pembantaian, bukan peperangan. Peperangan adalah konfrontasi dua pihak yang berarti mesti ada perlawanan. Mereka menyerang, kita lawan,” ujar Akmal dalam kuliah yang digelar di Hotel D’Best Sofia, Jl. Tengku Angkasa, Bandung.

Lebih lanjut, Akmal menjelaskan tiga modus utama dalam serangan pemikiran yang perlu diwaspadai, yakni media massa, pendidikan dan sosial budaya. “Tidak ada lembaga pendidikan yang netral, termasuk pengajarnya, sebab semakin berilmu seseorang maka ia akan memiliki kecenderungan pada kebenaran,” ungkap Akmal.

Sebagai penutup, Akmal mengatakan, “Ghazwul fikri adalah fenomena umum yang sudah terjadi sejak lama dan banyak pihak yang berkepentingan untuk merusak pemikiran umat Islam. Satu-satunya cara memenangkan ghazwul fikri ini adalah dengan ilmu.”

Setelah mendapatkan materi ghazwul fikr pada akhirnya saya semakin paham fakta, masalah dan bagaimana solusi menyikapi itu semua. Saya sangat merasa bersyukur dapat dipertemukan dengan SPI,” ujar Syam, seorang mahasiswa yang menjadi salah satu peserta kuliah SPI. [islamedia/asa/abe]