SPI Bahas Distorsi Sejarah Seputar Peristiwa Syahidnya Utsman bin Affan


Islamedia Distorsi sejarah yang terjadi pada kisah-kisah kepemimpinan Muslimin di masa lampau perlu diluruskan dengan ilmu yang memadai. Fitnah yang timbul di kemudian hari akibat hal itu menimbulkan prasangka negatif di kalangan umat Islam dan dimanfaatkan oleh para musuh islam.

Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Fatahillah mengkaji tema Fitnah Kubra pada pertemuan ke-13 untuk angkatan kelimanya, Rabu malam (25/01). ‘’Terbunuhnya Khalifah Ustman Bin Affan pada tahun 35 H menjadi awal dari rangkaian fitnah yang muncul setelahnya,’’ ujar Asep Sobari, pengajar SPI yang juga pendiri Sirah Community Indonesia (SCI).

Pembicara yang sering mengulas tema sejarah Islam itu mengatakan bahwa distorsi sejarah saat ini telah sampai pada fase yang mengkhawatirkan. Kisah yang tertulis pada buku-buku sejarah Islam, khususnya terkait terbunuhnya Utsman bin Affan dan cerita sesudahnya, sering menimbulkan pertanyaan dan tafsiran-tafsiran yang keliru. “Hal itu dikarenakan kurang cermatnya penulis dalam menganalisis peristiwa,” ungkapnya.

Alumnus Universitas Islam Madinah ini mengambil contoh penyebab terbunuhnya Utsman bin Affan yang saat itu sedang memangku jabatan sebagai Khalifah.

Banyak yang menyimpulkan bahwa penyebab kejadian itu adalah karena orang-orang kepercayaan Utsman bin Affan yang notabenenya adalah para sahabat Nabi Muhammad telah meninggalkan dirinya seorang diri pada saat kejadian itu,” ujar Asep lagi.

Menurut Asep, kisah sebenarnya sangat berbeda. “Saat rumahnya Khalifah Utsman dikepung oleh kaum Saba’iyyun yang memberontak, Utsman ingin menyelesaikan masalah ini secara langsung, tanpa melibatkan mediator. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi peperangan di antara kubu yang berpihak kepada Utsman dengan kelompok Saba’iyyun. Jika peperangan itu terjadi, sama saja Utsman menjadi orang pertama yang menodai kesucian kota Madinah dengan perang,” pungkasnya.

Contoh diatas hanyalah salah satu bentuk fitnah yang timbul dan tercatat dalam buku-buku sejarah tanpa analisis mendalam. Sebagai kalangan yang terpelajar, para peserta SPI diharapkan lebih cermat menganalisis sejarah, lebih-lebih sejarah Islam. [islamedia/abe/kahfi]