Problem Definisi dalam Wacana Pluralisme Agama




Islamedia - “Apa itu laptop? Dia bukan meja, bukan juga AC. Kan kesel kalo jawabannya begitu,” ungkap Akmal Sjafril, M.Pd.I, ketika mengomentari definisi pluralisme yang diberikan oleh salah seorang tokoh yang dikenal sebagai cendekiawan di Indonesia pada perkuliahan SPI Fatahillah Angkatan ke-5, Rabu malam (22/02/17) di Aula INSISTS, Kalibata. Dalam sebuah wawancara, tokoh tersebut mengatakan, “Pluralisme bukanlah sinkretisme. Pluralisme juga bukan menganggap semua agama sama. Bukan pula menganggap semua benar.”

Dalam mengawali diskusi atau menulis karya ilmiah, semuanya dimulai dari definisi,” ujar Akmal mengawali kuliah. “Namun ketika berbicara tentang pluralisme, tidak ada tokoh-tokoh liberal di Indonesia yang memberikan definisi yang jelas tentangnya. Semuanya mempunyai definisi yang berbeda namun sama-sama abstrak. Misalnya kutipan tadi yang hanya berisi negasi-negasi, tentu ia tidak layak disebut sebagai definisi,” ujarnya lagi.

Oleh karena itu, menurut Akmal, tidaklah heran jika Dr. Anis Malik Thoha dalam desertasinya menyimpulkan, “Tidak banyak, bahkan langka, yang mencoba mendefinisikan pluralisme agama itu,” ungkapnya.

Karena banyaknya definisi pluralisme yang digunakan, maka ketika mengkaji pluralisme, konsep-konsep pluralisme itu senantiasa digolongkan ke dalam beberapa tren. Ada tren Humanisme Sekular yang mengkaji agama dari sisi psikologis, ada tren Teologi Global yang mengkaji agama dari sudut pandang sosiologis, dan ada pula tren Sinkretisme, Hikmah Abadi, dan Teosofi-Freemasonry.

Ujung dari semua tren adalah mengakui bahwa semua agama sama benarnya, namun rasionalisasi menuju kesimpulan itu mengambil jalan yang berbeda-beda,” pungkas pendiri SPI ini.

Selain membahas problem definisi dan tren-tren pluralisme, dalam sesi diskusi, Akmal juga menjelaskan bahwa pluralisme merupakan alat justifikasi sekularisme. Tidak semua orang bisa menerima bahwa agama tidak boleh mengatur kehidupan. Sehingga orang-orang yang masih percaya agama harus dijinakkan dengam paham yang lebih lunak, yaitu pluralisme.

Setelah mengikuti kuliah pluralisme, alhamdulillaah saya semakin paham mengapa pluralisme dengan sengaja dikembangkan di Indonesia,” komentar Luthfir, salah seorang peserta SPI. [islamedia/syaiful/abe]