Anggota DPRD Ini Menolak Uang Honor Sidang


Islamedia - Ditengah hiruk pikuk pergantian pejabat dan citra miring anggota parlemen kita Saya berharap kisah ini benar – benar terjadi.


Kang Dzul, Seorang aktivis masjid bertutur kepada saya tentang seorang anggota parlemen dari sebuah partai di sebuah kota di Jawa Tengah.


Anggota parlemen yang sangat bersahaja itu tinggal di sebuah rumah kontrakan di antara kontrakan tukang bakso, tukang jamu, abang becak dan para pengusaha sangat kecil lainnya.


Yang harus bertarung di tengah ganasnya persaingan ekonomi kapitalis yang hampir tak bermoral.


Tidak seorangpun diantara tetangganya yang faham betul bahwa tuan fulan ini adalah seorang anggota parlemen. Maklum, dia masih tinggal di rumah kontrakan. Bila meninggalkan rumah dia menggunakan angkutan umum
Pakaiannya tampak sangat bersahaja, jauh dari gaya serba branded seperti umumnya seperti anggota parlemen atau orang – orang kaya di kelas menengah Indonesia. Karenanya, tetangganyapun memperlakukannya seperti orang biasa saja


Diam diam,tokoh kita ini punya persoalan besar dengan bagian keuangan di dprd kota itu.


Bukan! Bukan karena dia menerima uang dari mitra kerja untuk lolosnya sebuah aturan yang menguntungkan pihak mitra.


Bukan pula karena dia tidak dapat mempertanggungjawabkan uang yang diterimanya untuk sebuah program
Dia justru bermasalah karena dia tidak pernah mau menerima honor untuk persidangan – persidangan yang diikutinya. Dia menolak uang sidang.


Maaf, saya fikir uang yang saya terima setiap bulan, dan jaminan fasilitas yang telah diberikan kepada saya sebagai anggota dewan sudah sangat memadai. Jadi saya anggap uang honor sidang itu tidak perlu lagi saya terima. Pekerjaan saya sebagai anggota dewan kan memang banyaknya sidang, jadi simpan sajalah uang itu, atau kembalikan ke kas daerah”. Katanya ketika bagian keuangan meminta untuk segera menerima uang yang sudah terakumulasi cukup banyak.


Namun suatu ketika dia tidak dapat menolak untuk menerima uang itu ketika bagian keuangan berkata:


Bapak menyulitkan kami, pertanggungjawaban keuangan kita tidak mengenal pengembalian sebagian honor. Kalau mau semua anggota mengembalikannya, Itupun bukan hal mudah. Tolonglah kami pak, terima uang ini. Dan pekerjaan kami yang tertunda hampir satu tahun akan beres. Percayalah ini halal, dan sesuai dengan undang – undang.” Kata bagian keuangan dengan setengah memelas setengah memaksa.


Ketika dia pulang, kali ini dia membawa sekantong uang.


Diletakkannya uang itu diatas meja makan, satu – satunya meja yang di milikinya, Yang juga berfungsi untuk meja baca, meja kerja, dan meja makan.


Lalu dia mandi,


Usai mandi istrinya bertanya:
“Abi, uang siapa sebanyak ini?”
“Abi juga tidak tahu umi, tapi tunggu sajalah. Kelak kita tahu siapa pemilik sesungguhnya uang ini”
Katanya ringan. Tentu saja istrinyapun dibuat terheran – heran.


Tidak lama kemudian seseorang mengetuk pintu rumahnya, setelah dibuka. Masuklah seorang tetangganya. Seorang pengemudi becak dengan wajah yang tampak sangat bersedih.


Maafkan saya datang malam – malam begini, sekedar ingin berbagi. Dan jika ada yang bapak bisa lakukan, saya minta tolong” Kata tukang becak itu agak psimis. Diapun melihat tetangganya hidupnya sama susahnya dengan dia.


Tanpa tersinggung, anggota dewan itu berkata: “Tidak mengapa. Katakan apa persoalan yang sedang bapak hadapi. Mudah – mudahan Allah memberikan jalan keluar”.


Anak saya sakit sudah berminggu – minggu di rumah sakit, biaya pengobatannya sangat mahal. Syukur, rumah sakit masih mau menerima dan terus mengobatinya. Besuk dia sudah boleh pulang, namun saya tidak punya uang untuk membayar biaya pengobatannnya.


Kata tukang becak itu dengan mata berkaca kaca.


Tokoh kita lalu beranjak mengambil amplop uang yang diberikan bagian keuangan
Dan menyerahkannya kepada tukang becak itu seraya berkata:


Pak, ini ada uang. Gunakan untuk membayar biaya pengobatan anak bapak. Semoga Allah memberikan ketabahan kepada bapak dan keluarga”.


Tukang becak itu pergi membawa uang setelah mengucapkan ribuan terimakasih.


Anggota dewan itu kemudian berkata kepada istrinya: “umi, itu tadi pemilik sesungguhnya uang yang abi bawa”



Kisah ini ditulis oleh Ustadz Budi Prayitno tentang kisah nyata anggota DPRD PKS di Semarang Jawa Tengah


[islamedia]