Jakarta Tanpa Ahok


Islamedia - SADARKAH ANDA bahwa ternyata Jakarta sudah “ditinggalkan” Pak Ahok lebih dari tiga bulan? Tepatnya ketika posisi beliau digantikan sementara oleh Pak Sony sejak akhir Oktober 2016 silam?


Dan apakah yang dirasakan Jakarta tanpa kehadiran Pak Ahok?


Ternyata JAKARTA BAIK-BAIK SAJA.


Suasana tetap stabil, tidak ada kekacauan. Tidak ada kerusakan akibat salah manajemen. Jakarta tetap mampu mengatur dirinya sendiri.


Tiga bulan tanpa Pak Ahok Jakarta tetap bisa dikelola dengan baik. Semua tugas terlaksana dan birokrasi berjalan seperti biasanya.


Tiga bulan tanpa Pak Ahok Jakarta terasa lebih tenteram dan damai. Tidak ada bising dan hiruk pikuk dalam berita. Tidak ada teriak tangis korban penggusuran, tidak ada yang syok akibat dibentak-bentak. Tidak ada caci maki di televisi. Tidak ada pertikaian dan pertengkaran.


Tentu saja selalu ada keributan di media massa. Tapi keributan dan kekacauan itu tidak mengikuti Jakarta, melainkan mengikuti Pak Ahok. Jakarta tetap baik-baik saja. Dan ternyata Pak Sony menjalankan tugasnya dengan cara yang baik.


Artinya, ada atau tidak adanya Pak Ahok, Jakarta akan mampu menapaki masa depannya sendiri. Jakarta dipenuhi oleh ribuan orang pintar, jenius, bertanggung jawab dan kapabel dalam urusan pemerintahan.


Jakarta bukan tipe tempat yang “kalau saya tinggal maka akan hancur”.


Jakarta adalah tempat di mana “mati satu tumbuh seribu. Esa hilang dua berbilang”.


Anda boleh membela Pak Ahok mati-matian seandainya ketiadaan beliau membuat Jakarta ini hancur lebur. Tapi nyatanya tiga bulan ini Jakarta tetap berjalan dalam alur yang baik dan stabil.


Mudah-mudahan sih menjadi semakin baik lagi.


Bahkan, seandainya Pilkada ditunda sampai 2019 saja, rasa-rasanya Pak Sony ini bisa memegang tampuk pemerintahan di DKI dengan aman dan terkendali.


Sebaliknya, apa yang akan terjadi seandainya Pak Ahok kembali ke tampuk kekuasaan?


Mari berpikir jernih.


Dua tahun terakhir ini kita sudah merasakannya sendiri. Semua kegaduhan ini mengikuti beliau terus menerus. Tak perlu saya rinci satu persatu karena semua jejak media bisa Anda baca dengan sangat jelasnya.


Ada satu dua hasil yang beliau capai atas usahanya. Tapi apakah itu cukup mengobati semua luka yang beliau ciptakan untuk warga Jakarta?


Jangan pernah menafikannya, karena Anda mampu mencari puluhan bukti hanya dalam waktu satu jam mencari datanya. Abaikan tuduhan-tuduhan. Fokus pada fakta dan data. Jika Anda masih punya nurani, maka akan Anda akui bahwa Pak Ahok memang bermasalah.


Yang terakhir ini tentu saja kasus beliau dengan KH. Ma’ruf Amin. Tidak perlu tengok sana sini. Cukup tonton semua ucapan Pak Ahok dari mulai awal menghujat sampai meminta maaf. Kurang gamblangkah bukti itu di hadapan Anda?


KH. Ma’ruf Amin yang rekam jejaknya sangat-sangat baik sampai detik terakhir saya menyelesaikan tulisan ini silakan Anda bandingkan dengan rekam jejak Pak Ahok dua tahun terakhir!


Siapakah yang jujur dan siapakah yang bermasalah di antara keduanya?


Tiga bulan ini Jakarta tidak dipimpin oleh Pak Ahok. Dan JAKARTA TETAP BAIK-BAIK SAJA.


Maka saya kira tidak akan ada masalah jika lima tahun ke depan Pak Ahok tidak memimpin Jakarta lagi.


Mari kita berikan kesempatan buat Pak Ahok menyelesaikan semua urusan pidana yang sedang membelitnya. Biarkan beliau fokus pada urusan itu. Beri kesempatan beliau untuk memperbaiki diri, melatih menjaga lisan dan perilaku. Kalau ternyata beliau masih punya ide dan gagasan tentang membenahi Jakarta, kita beri kesempatan beliau untuk mencalonkan diri lagi di 2022 nanti.


Tidakkah kita ingin citarasa yang lain dari Jakarta? Sentuhan dari orang-orang baru?Dari tangan yang berbeda…??


Karena Jakarta itu memiliki ribuan orang jenius, santun, jujur, bertanggung jawab dan kapabel dalam mengurusi pemerintahan. Tidak akan habis seperti air laut di Teluk Jakarta.


Semoga Allâh menjadikan Jakarta lebih baik lagi… Menjadi kota yang diberkahi…




Ditulis oleh


abu qawwam


Abu Qawwam


Dipublikasikan pertama melalui sahabatihya.com


[islamedia]