Awali Perkuliahan Angkatan ke-5, SPI Fatahillah Bahas Fitnah Kubra




Islamedia Fitnah Kubra adalah materi yang berat dan tak mungkin saya bahas tuntas dalam waktu 2 jam ini,” ungkap ustadz Asep Sobari mengawali sesi perkuliahan Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Fatahillah Angkatan V pada Rabu malam (25/01) di Auditorium Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS), Kalibata, Jakarta.

Menurut Asep, ada empat bahasan utama dalam peristiwa Fitnah Kubra, yaitu pembunuhan ‘Utsman bin Affan, Perang Jamal, Perang Shiffin, dan munculnya Khawarij dan Rafidhah. Karena cakupannya yang luas itu, Asep membatasi materi dan memulai bahasan Fitnah Kubra dari peristiwa pembunuhan ‘Utsman bin Affan.

Alumni Universitas Islam Madinah ini menjelaskan bahwa dalam memahami rentetan peristiwa Fitnah Kubra, umat Islam tidak boleh gagal paham dan salah memahami referensi sejarah, karena akibatnya bisa fatal. “Kalau gagal paham ya bisa seperti kaum liberal dan syi’ah, mengamini pembunuhan Utsman karena dianggap ambisi kekuasaan dan nepotisme," lanjutnya.

Asep meneruskan bahwa pembunuhan Utsman sebenarnya disebabkan oleh provokasi kaum Saba’iyun terhadap sejumlah masyarakat daerah yang tak puas dengan kebijakan Utsman. Pada periode akhir Fitnah Kubra ini muncullah paham Khawarij dan Rafidhah. “Khawarij kemudian menjadi dalang pembunuhan Ali bin Abi Tholib,” ujarnya.

Di akhir perkuliahan, pendiri Sirah Community Indonesia (SCI) ini berpesan agar umat Islam pandai mengambil pelajaran dari peristiwa Fitnah Kubra ini. Menurutnya, Fitnah Kubra tak sekadar persoalan ambisi politik dan perebutan kekuasaan saja. Peristiwa ini adalah skenario panjang musuh Islam untuk menghancurkan Islam secara ideologis, setelah Persia dan Romawi ditaklukkan Islam melalui pertempuran fisik. [islamedia/abe/dwi]