Teuku Wisnu : Luka Mereka adalah Luka Kita




Islamedia - Puji syukur kepada Allah Ta’ala yang telah memberikan nikmat kepada kita semua. terutama adalah nikmat iman dan Islam, kemudian disusul dengan nikmat sehat dan rasa aman.

Kita disini, di Indonesia, di negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Allah Ta’ala karuniakan keamanan dan ketentraman. Hidup saling menghormati, menyayangi dan mencintai satu dengan yang lain. Nikmat yang besar ini mesti selalu di syukuri.

Kita sedih dan prihatin, di belahan bumi yang lain, banyak orang-orang yang di timpa kesulitan, hidup dalam peperangan dan pertikaian. Anak-anak kecil, wanita, orang tua renta tak jarang jadi korbannya.

Ada yang dibunuh massal, ada yang diperkosa didepan suami dan anak-anaknya, ada yang diusir di tanah kelahirannya. Mereka adalah saudara kita, terlahir sebagai anak manusia. Dan mereka adalah umat Islam, umat yang mengajarkan kasih sayang.

Derita Muslim Dunia

Di Palestina, mereka diusir dari tanahnya sendiri, hidupnya di tekan, tak henti-hentinya di serang roket oleh bangsa yang katanya menjunjung nilai-nilai perdamaian dan Hak Asasi Manusia.

Penjajahan, yang katanya sudah dihapuskan di atas muka bumi, hanya sebagai slogan dan pemanis bibir. Nyatanya, wujud tersebut masih ada. Dan mereka yang jadi korban adalah saudara kita, umat Islam.

Di Myanmar, ada etnis Rohingya, yang 100 persen menganut agama Islam. Mereka sudah ratusan tahun tinggal disana, beranak pinak, bahkan sebelum negara Myanmar ada, mereka sudah ada. Tetapi tiba-tiba status kewarganegaraannya dicabut.

Mereka diusir di tanah kelahirannya sendiri. Mencari penghidupan kesana kemari, singgah ke negara-negara tetangga pun diperlakukan dengan hal yang sama. Mengarungi samudera dengan perahu sederhana, singgah ke Bangladesh, Malaysia dan Indonesia. Mereka pergi dari tanah kelahirannya demi menyelamatkan jiwa, dan yang paling utama adalah menyelamatkan agamanya.

Ribuan orang mengungsi, sedangkan jutaan masih berada di tanah kelahirannya. Mereka ditindas, disiksa, rumahnya dibakar hingga tak terhitung lagi nyawa yang melayang. Mereka adalah saudara kita, umat Islam.

Di Suriah, warga sipil, anak-anak dan wanita jadi target utama serangan roket. Lebih dari 5 tahun mereka ditimpa peperangan. Jutaan orang mengungsi ke negara-negara tetangga seperti Yordania, Turki, Arab Saudi, hingga ke Eropa. Jutaan lainnya mereka telah pergi mendahului kita dengan ditimpa senjata, peluru, roket dan semisalnya. Jutaan rumah-rumah hancur lebur ditinggalkan pemiliknya. Suriah, negeri yang sedang ditimpa musibah dan menangis darah.

Mendengar Suriah, teringat dengan kehebatan dan kejayaan Islam masa lalu. Teringat dengan Sahabat Nabi yang gagah perkasa: Usamah bin Zaid, teringat dengan sahabat Nabi yang dijuluki pedang Allah: Khalid bin Walid, teringat dengan sahabat Nabi yang pemberani: Al Mutsanna bin Haritsah.

Suriah, mendengar namamu, teringat dengan kejayaan Islam masa silam. Zaman ketika Bani Umayah, ketika Muawiyah bin Abi Sufyan memimpin negara dengan adil dan bijaksana. Damaskus, sebuah kota peradaban Islam yang harum dalam catatan-catatan sejarah.

Suriah, engkau adalah bagian dari negeri Syam. Negeri yang didoakan keberkahan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Allahumma baarik lana fiy syaaminaa.

Duka Aleppo

Beberapa pekan ini kondisi rakyat Suriah semakin kritis. Di kota Aleppo, ada ratusan ribu warga sipil yang terjebak peperangan. Mereka terisolasi dan sangat minim bahan makanan.

Membaca berita di media membuat hati ini miris. Mereka, ya mereka adalah saudara kita. Ada sebagiannya yang membuat video singkat berupa wasiat, foto-foto perpisahan dan surat wasiat, seolah mereka yakin bahwa ajal akan segera menjemput.

Ada seorang balita menangis menjerit kencang, dia selamat dari serangan roket yang menimpa rumahnya hingga runtuh, sementara ayah dan ibunya tertimpa dan telah meninggal dunia. Pamannya menggendongnya dan sambil menenangkan, “Ayah di surga, ayah di surga..” Bayi itupun tak menggubris ucapan pamannya, ia terus menangis menjerit. Anak sekecil dia belum mengerti apa itu perang, apa itu meninggal dunia dan apa itu surga.

Ada juga seorang dokter yang menorehkan suratnya dan ditulis di media sosial, bahwa kondisinya kini sangat mengenaskan. Rumah-rumah telah hancur, rakyat sipil dibunuh dan tenaga medis diserang roket. Dia memohon doa dan bantuan untuk warga Suriah, dan kepada warga Aleppo khususnya.

Dan tangan ini bergetar ketika membaca sebuah tulisan wanita Aleppo. Dia putus asa dengan kondisi yang ada. Dia ingin mengakhiri hidupnya, karena sebentar lagi Aleppo akan dibumi hanguskan. Beruntung jika dia tak selamat, tetapi yang menjadi kekhawatiran adalah dia ditangkap hidup-hidup kemudian diperkosa oleh tentara-tentara biadab.


Berikut ini isi surat wanita tersebut:

"Saya salah satu wanita di Aleppo yang akan segera diperkosa sebentar lagi ..
Tak ada lagi senjata atau para pria yang dapat berdiri di antara kami dan binatang-binatang yang datang yang disebut 'tentara negara'.
Aku tidak ingin apa-apa lagi dari kalian ...
Aku bahkan tidak inginkan doa kalian ...
Karena aku masih bisa berbicara, kupikir permohonanku akan menjadi lebih jujur dari apa yang Anda katakan!
Aku melakukan bunuh diri ... dan aku tidak peduli jika kalian mengatakan aku akan masuk neraka!
Aku melakukan bunuh diri karena aku tidak tetap tabah di rumah ayahku (rahimahullah) selama bertahun-tahun karena hatinya terbakar saat melihat semua orang meninggalkan Aleppo ...
Aku bunuh diri bukan karena tanpa alasan tapi karena aku tidak ingin beberapa anggota Rezim ***** menikmati saat memperkosaku, sementara baru kemarin mereka takut untuk mengatakan kata 'ALEPPO'.
Aku melakukan bunuh diri karena hari kiamat telah terjadi di Aleppo dan aku pikir api neraka tidak akan lebih buruk dari ini ..
Aku melakukan bunuh diri dan aku tahu kalian semua akan bersatu atas masuknya aku ke neraka dan yang akan menjadi satu-satunya persoalan kalian bersatu atas: bunuh dirinya seorang wanita.
Bukan ibu atau saudara perempuan atau istri kalian ... tapi seorang wanita yang tidak akan kalian perdulikan.
Aku akan menyimpulkan dengan mengatakan bahwa fatwa-fatwamu menjadi tidak berarti bagiku, jadi simpanlah untuk diri sendiri dan keluarga kalian ..
Aku melakukan bunuh diri ..
Dan ketika kalian membaca ini ketahuilah bahwa aku telah meninggal dalam keadaan suci dibanding semua orang".

Saya tak setuju dengan aksi bunuh diri, apapun alasannya. Hanya saja, saya merasakan, betapa tertekannya mereka, betapa genting dan pilunya kondisi mereka.

Saya pun, jika dihadapkan dengan kondisi seperti itu, belum tentu bisa tabah, belum tentu bisa bersabar.

Tak bisa menahan air mata ini untuk tidak menetes. Saya teringat dengan kondisi kita disini. Hidup serba ada, serba tersedia. Ingat anak, istri dan lingkungan yang nyaman.

Mereka adalah saudara kita. Mereka dalam kesulitan, mari kita ringankan beban mereka. Kata Nabi, seorang mukmin bagaikan satu tubuh, jika ada bagian tubuh yang sakit maka tubuh yang lain akan merasakan sakit.

Mari doakan agar saudara kita diberikan kesabaran dan segera ditolong Allah Ta’ala. Jangan lupa pula, sisihkan harta kita untuk meringankan beban mereka.

Ya Rabb, apa yang akan kukatakan nanti kepada-Mu jika Engkau bertanya tentang ini di hari akhirat kelak?.


[islamedia.id]