150 Penulis dan Penyair Dunia Teken Petisi Tuntut Israel Bebaskan Wanita Palestina


Islamedia - Sebanyak 150 kolumnis dan penyair dari seluruh dunia, sembilan di antara mereka pernah mendapat nobel Internasional Bollystar, menandatangani petisi yang menuntut pemerintah Israel penjajah untuk membebaskan penyair wanita Palestina Darin Thathur dari tahanan rumah sejak Oktober tahun lalu.


Seperti dilansir koran Israel Haaretz, para kolumnis dan penyair menegasan dalam petisi mereka, “Kami yakin akan hak para seniman dan kolumnis untuk menyampaikan ekspresi dan pendapat serta sikap mereka kemudian disebarkan dengan bebas. Apa yang dilakukan Israel hanya bukti penjajah ingin membungkam Thathur.”


Di antara seniman, kolumnis dan penyair yang mendapat nobel dunia adalah : Alice Walker, Claudia Rankine, Noami Klein, Grace Deeb, Jacqueline Wilson. Organisasi Yahudi JVB (Jewish Voice Peace) adalah organisasi yang berinisiatif membuat petisi ini bekerjasama dengan cabang organisasi Justice di New York.


Darin Thathur adalah warga baldah Rinah dekat Nazaret/Nasirah. Tulisan berbahasa Arab pertama kali dimuat tahun 2010. Israel kemudian menangkapnya pada Oktober lalu dengan dugaan mendukung terorisme dan memprovokasi kekerasan setelah ia memposting “puisinya” di halaman jejaring Facebook.


Israel kemudian menetapkan Thathur sebagai tahanan rumah setelah dia mendekam di penjara Israel Hasharon dan Damon sebelum ia diadili.


Dalam petisi ditegaskan, “Ekspresi melawan penjajah melalui syair dan puisi bukanlah sebuah kekerasan. Terlarang bagi Israel untuk kemudian mengubahnya menjadi kejahatan. Kami yang bertandatangan di bawah ini yakin bahwa syair bukanlah kejahatan. Karena itu kami serukan agar Darin Thathur dibebaskan segera dan dianulir semua dakwahannya.”


Sementara Thathur menyatakan melalui telepon, “Saya kaget akan petisi itu. Saya tidak membayangkan apa yang terjadi dengan saya menjurus kepada semua orang yang seprofesi dengan saya untuk bersatu. Saya berharap setelah ini ada yang membedakan antara penulis dan penyair yang menggunakan kecamannya dengan orang yang mendukung kekerasan.”.[islamedia/palinfo/YL]