Ternyata Ini Hadits Palsu : "Puasa Jihad Besar dan Perang Qital Jihad Kecil"




Islamedia - Sudah sangat masyhur dikalangan kaum Muslimin Indonesia disaat bulan suci Ramadhan, seringkali para penceramah mengungkapkan yang mereka klaim sebagai hadits, bunyi perkataanya adalah :


Kalian datang dengan sebaik-baik kedatangan, kalian datang dari jihad kecil menuju jihad besar: jihadnya seorang hamba terhadap hawa nafsunya.


Para penceramah seringkali mengatakan bahwa Jihad kecil disini yang dimaksud adalah adalah perang kital melawan pasukan kafir sedangkan yang dimaksud jihad besar disini adalah perang melawan hawa nafsu, yakni menjalankan Ibadah puasa.


Syaikh Mauhammad Nashiruddin Al Albany  dalam “as Silisilah adh Dha’ifah wa al Maudhu’ah” (5/478) mengatakan bahwa hadits itu merupakan hadits palsu atau hadits munkar.


Al Hafizh al ‘Iraqi didalam “Takhrij al Ihyaa” (2/6) mengatakan bahwa hadits itu diriwayatkan oleh al Baihaqi didalam ‘Az Zuhd” dari hadits Jabir dan dia mengatakan bahwa didalamnya terdapat kelemahan.


Al Hafizh Ibnu Hajar didalam “Takhrij al Kasyaf” (4/114 No. 33) : setelah menceritakan perkataan al Baihaqi mengatakan bahwa ia adalah riwayat dari Isa bin Ibrahim dari Yahya bin Ya’la dari Laits bin Abi Salim dan ketiganya termasuk orang-orang lemah. An Nasai juga mencantumkan hal ini didalam “al Kunna” dari perkataan Ibrahim bin Abi Ablah, salah seorang tabi’in dari penduduk Syam.


Al Albani juga mencantumkan pendapat as Suyuthi didalam “ad Durar” (hal 170) bahwa al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan didalam “Tasdid al Qous” bahwa hadits itu sering diucapkan dan ia adalah dari perkataan Ibrahim bin Abi Ablah di dalam kitab “al Kunna” miliki An Nasa’i.


Asy Syeikh Zakaria al Anshari dalam catatannya terhadap “Tafsir ath Thabari” (1/110) dari Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,”Hadits itu tidak memiki dasar” yang dikuatkan olehnya.


Didalam kesempatan yang lain (1/202) beliau mengatakan bahwa hadits itu diriwayatkan oleh al Baihaqi dan sanadnya lemah. Dan yang lainnya mengatakan,”hadits itu tidak ada sandarannya.”


Adapun perkataan al Khafaji didalam catatan pinggirnya terhadap al Baidhawi (3/316) mengatakan,”didalam sanadnya lemah….”


Hadits itu tidaklah lurus karena tampak lahiriyahnya baik, bagaimana mungkin padahal didalam sanadnya terdapat tiga orang yang lemah. Dan orang-orang yang berbicara tentang itu telah bersepakat dengan kelemahannya?! (As Silsilah adh Dha’ifah juz V hal 459).


Wallahu a'lam