Inilah Kisah Penakhlukan Konstantinopel Oleh Muhammad Al-Fatih




Islamedia - Sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal Al-Musad tentang penakhlukan Konstantinopel oleh Kaum Muslimin akhirnya terwujud.


Dalam Sabdanya, Rasulullah menyampaikan bahwa : “Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.


Tepat pada hari Jumat, 6 April 1453 M, 150.000 ribu pasukan kaum Muslimin dibawah kepemimpinan Muhammad al-Fatih merencanakan penyerangan ke Konstantinopel dari berbagai penjuru benteng kota. Saat Itu pasukan dilengkapi dengan meriam teknologi terbaru.


Sebelum melakukan penyerangan, Muhammad Al-Fatih terlebih dahulu menggunakan cara damai dengan mengirimkan surat kepada Paleologus untuk masuk Islam atau menyerahkan penguasaan kota secara damai dan membayar upeti atau pilihan terakhir yaitu perang. Constantine menjawab bahwa dia tetap akan mempertahankan kota dengan dibantu Kardinal Isidor, Pangeran Orkhan dan Giovani Giustiniani dari Genoa.


Kota Konstantinopel memiliki benteng yang tingginya lebih dari 10 meter dengan sisi luar benteng pun dilindungi oleh parit selebar 7 meter, sangat sulit ditembus.


Dari sebelah barat pasukan artileri harus membobol benteng dua lapis, dari arah selatan Laut Marmara pasukan laut Turki harus berhadapan dengan pelaut Genoa pimpinan Giustiniani dan dari arah timur armada laut harus masuk ke selat sempit Golden Horn yang sudah dilindungi dengan rantai besar hingga kapal perang ukuran kecil pun tak bisa lewat.


Berhari-hari hingga berminggu-mingu benteng Byzantium tak bisa jebol, kalaupun runtuh membuat celah maka pasukan Constantine langsung mempertahankan celah tersebut dan cepat menutupnya kembali. Usaha lain pun dicoba dengan menggali terowongan di bawah benteng, cukup menimbulkan kepanikan kota, namun juga gagal.


Hingga akhirnya sebuah ide yang terdengar bodoh dilakukan hanya dalam waktu semalam. Salah satu pertahanan yang agak lemah adalah melalui Teluk Golden Horn yang sudah dirantai. Ide tersebut akhirnya dilakukan, yaitu dengan memindahkan kapal-kapal melalui darat untuk menghindari rantai penghalang, hanya dalam semalam dan 70-an kapal bisa memasuki wilayah Teluk Golden Horn (ini adalah ide ”tergila” pada masa itu namun Taktik ini diakui sebagai antara taktik peperangan (warfare strategy) yang terbaik di dunia oleh para sejarawan Barat sendiri)


29 Mei 1453 M, setelah sehari istirahat perang, pasukan Muhammad Al-Fatih kembali menyerang total, diiringi hujan dengan tiga lapis pasukan, irregular di lapis pertama, Anatolian army di lapis kedua dan terakhir pasukan elit Yanisari. Giustiniani sudah menyarankan Constantine untuk mundur atau menyerah tapi Constantine tetap konsisten hingga gugur di peperangan. Kabarnya Constantine melepas baju perang kerajaannya dan bertempur bersama pasukan biasa hingga tak pernah ditemukan jasadnya. Giustiniani sendiri meninggalkan kota dengan pasukan Genoa-nya. Kardinal Isidor sendiri lolos dengan menyamar sebagai budak melalui Galata, dan Pangeran Orkhan gugur di peperangan.


Alhamdulillah atas izin Allah Kota Konstantinopel akhirnya dapat direbut oleh pasukan Kaum Muslimin. Penduduk kota berbondong-bondong berkumpul di Hagia Sophia/ Aya Sofia.


Sultan Muhammad Al-Fatih kemudian berpidato dan mengungkapkan bahwa akan memberikan perlindungan kepada semua penduduk, siapapun, baik Yahudi maupun Kristen karena mereka(penduduk) termasuk non muslim dzimmy (kafir yang harus dilindungi karena membayar jizyah/pajak), muahad (yang terikat perjanjian), dan musta’man(yang dilindungi seperti pedagang antar negara) bukan non muslim harbi (kafir yang harus diperangi).


Pada saat itu Hagia Sophia pun akhirnya dijadikan masjid dan gereja-gereja lain tetap sebagaimana fungsinya bagi penganutnya tanpa ada yang dirusak.


Dari berbagai sumber.


[islamedia/mh]