"Surga" di Balik Gelombang Suara Ibu


Islamedia - Penelitian terbaru dari Universitas Stanford menemukan bahwa suara seorang ibu ternyata berfungsi lebih dari sekadar untuk menenangkan anaknya, demikian laman kantor berita IINA melaporkan pada Kamis (19/05/2016) lalu.

Para peneliti mengungkapkan bahwa beberapa area dalam otak seorang anak mengalami aktivasi ketika mendengar ibunya berbicara. Area-area tersebut termasuk bagian yang melibatkan pemrosesan emosi dan sistem penghargaan, fungsi-fungsi sosial, pengenalan wajah, serta pendeteksian hal-hal yang relevan secara personal.

Bahkan lebih jauh lagi, reaksi neurologis yang tinggi itu ternyata cuma bisa dilakukan oleh ibu kandungnya sendiri, bukan oleh perempuan lain, demikian menurut temuan para peneliti tersebut.

"(Sudah lazim diketahui--red) banyak dari proses sosial, kebahasaan, dan emosional kita, dipelajari dengan mendengarkan suara ibunda kita," kata Daniel Abrams, penulis hasil penelitian, seorang instruktur di bidang ilmu psikiatri dan perilaku Universitas Stanford, dalam rilis berita yang dilansir perguruan tingginya.

"Tetapi mengejutkannya, baru sedikit saja yang diketahui soal bagaimana otak mengorganisir diri terhadap sumber suara yang penting itu. Kami sebelumnya tidak menyadari bahwa ternyata suara seorang ibu dapat memiliki akses sedemikian cepat terhadap begitu banyak ragam sistem otak anak," kata Abrams menambahkan.

Penelitian sebelumnya memang menunjukkan, bahwa anak-anak lebih cenderung dengan suara ibundanya, tapi mekanisme yang mendasari preferensi itu masih belum jelas.

"Belum ada seorang pun yang benar-benar mengamati sirkuit otak mana saja yang mungkin terlibat," ujar peneliti senior Vinod Menon, profesor ilmu psikiatri dan perilaku di Stanford. "Kami jadi ingin mengetahui: apakah itu cuma area pendengaran dan suara yang selektif dan merespon secara berbeda, ataukah melibatkan bagian lebih luas lagi dalam hal engagement, reaktivitas emosi, dan deteksi atas rangsangan tertentu yang menonjol?"

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, para peneliti Universitas Stanford itu menganalisis hasil pindaian otak anak-anak yang sedang mendengarkan suara ibu mereka masing-masing. Penelitian melibatkan 24 orang anak usia 7 hingga 12 tahun. Kesemua anak itu memiliki IQ sekurangnya 80 dan tidak satupun dari mereka yang mengidap kelainan perkembangan.

Orang tua anak-anak itu juga diminta menjawab tentang bagaimana kondisi kecakapan komunikasi anak mereka masing-masing, termasuk kemampuan mereka untuk berinteraksi dan terhubung dengan orang lain.

Lalu para orang tua mengucapkan tiga kata yang tidak ada arti apa-apa (nonsense words) sembari direkam.

"Dalam rentang usia ini, di mana sebagian besar anak-anak memiliki kemampuan berbahasa yang bagus, kami memang tidak mau memakai kata-kata yang memiliki arti, karena hal itu bakal memengaruhi keseluruhan rangkaian sirkuit dalam otaknya," ujar menon menerangkan.

Kemudian dua orang ibu yang anaknya tidak ikut dalam penelitian, serta tidak mengetahui partisipan manapun, juga merekam suara mereka sedang mengucapkan tiga kata tanpa arti tersebut.

Ketika si anak mendengarkan klip rekaman baik itu dari ibu kandung sendiri atau dari perempuan asing tadi, otak anak-anak itu dipindai menggunakan MRI.

Para peneliti pun menemukan bahwa si anak dapat mengidentifikasi suara ibunda mereka dengan akurasi 97 persen, bahkan setelah hanya mendengarkan rekaman kurang dari 1 detik.

Beberapa bagian otak anak tampak lebih aktif (engaged) oleh suara ibu kandung mereka daripada suara perempuan asing.

"Luasnya daerah yang teraktifkan dan terbangkitkan (engaged) benar-benar cukup mengejutkan," kata Menon.

Bagian-bagian otak yang menikmati akibatnya mencakup bagian pendengaran, emosi, pemrosesan penghargaan (reward), pemrosesan informasi tentang diri (self), serta persepsi dan pemrosesan penglihatan atas wajah.

"Kami (sebelumnya) mengetahui bahwa mendengar suara ibu dapat menjadi sumber emosional yang penting untuk menentramkan anak," ujar Abrams. "Melalui penelitian ini, kami juga berhasil menunjukkan bagaimana rerangkai biologis yang mendasari hal tersebut."

"(Temuan) ini merupakan templat baru yang penting dalam upaya penyelidikan mengenai kurangnya komunikasi sosial pada diri anak-anak dengan kelainan seperti autisme," ujar Menon.

"Suara adalah satu di antara alat-alat isyarat teramat penting dalam komunikasi sosial," kata Menon. "Sungguh mengesankan melihat bagaimana gema suara seorang ibu ternyata hidup di dalam begitu banyak sistem otak (anak)." (iina/ismed)