Marah? Nanti Dulu Yaa ...


Islamedia - Menikmati hidup kenapa mesti harus dengan hal yang kurang bermanfaat, kalau bisa dinikmati dengan hal yang bermanfaat. Segalanya kan sudah ada terskenario dengan baik oleh Allah SWT, jadi kenapa harus marah-marah kalau tidak sesuai dengan harapan kita,? hehe


Rasulullah SAW menyuruh meredam api kemarahan dengan beberapa cara yang memang dari begitu nyata kebenarannya.


Pertama yang disarankan oleh Rasulullah SAW ketika kita marah adalah berwudhu, karena dengan tubuh kita kena air wudhu terutama bagian wajah, maka sel sel yang tadinya kaku atau tegang karena sedang marah bisa berkurang dan tidak kaku lagi. Kemudian dilanjutkan dengan sholat atau berdzikir mengingat Allah SWT, insha Allah berkurang.


Selanjutnya yang kedua adalah duduk jika awalnya kita berdiri. Duduk adalah salah satu posisi nyaman manusia selain berbaring, biasanya kalau kita lelah maka salah satu cara untuk menghilangkan lelah itu adalah duduk, dengan duduk tubuh bisa sedikit lebih tenang/rileks dibandingkan ketika berdiri. Karena saat duduk otot-otot tidak bekerja terlalu keras dibanding ketika berdiri.


Ketiga adalah berbaring ketika awalnya duduk. Ternyata ketika duduk pun masih ada “celah” yang memungkinkan untuk kita terus marah, maka Rasulullah SAW menyarankan untuk berbaring. Berbaring adalah posisi ternyaman manusia, dan dengan berbaring kita bisa mengistirahatkan otot-otot yang kaku yang sebelumnya harus bekerja keras saat kita berdiri ataupun duduk, makanya ketika kita marah disarankan untuk berbaring agar marahnya bisa berkurang atau hilang.


Keempat atau yang terakhir dan paling utama adalah senantiasa memohon perlindungan kepada Allah SWT. Maha Besar Allah dengan segala kekuatan-Nya membolak balikkan hati manusia, yang pemarah bisa menjadi tenang bahkan penyayang, yang pemabok bisa menjadi ustadz yang penuh semangat berdakwah menyeru kepada kebaikan dan yang awalnya sholeh bisa jadi preman yang tak kenal rasa “Cinta” lagi terhadap sesama. Begitulah hebatnya Allah SWT membolak balikkan hati manusia. Makanya mari senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT agar senantiasa dalam lindungan-Nya.


Marah dan emosi merupakan bara api dalam kepingan hati anak Adam (manusia). Rasulullah SAW menyuruh memadamkannya dengan cara berwudhu, sholat dan memohon perlindungan kepada Allah SWT dari godaan setan yang terkutuk. Sebagaimana difirmankan Allah SWT,


“Apakah kamu menyuruh orang-orang berbuat kebajikan sementara kamu melupakan diri sendiri?” (QS. Al-Baqarah: 44)


Dapat dipahami bahwa hal itu terjadi karena kuatnya hawa nafsu. Maka cara mengendalikannya ialah dengan menggunakan kesabaran dan shalat, dan Allah menyuruh kita untuk beristi’adzah (memohon perlindungan) kepada-Nya dari setan yang menggoda.


Karena seluruh kemaksiatan muncul dari kemarahan dan hawa nafsu, dan ujung dari kemarahan adalah pembunuhan, serta akhir dari hawa nafsu syahwat adalah perzinaan. Maka Allah SWT menghimpun dan menyandingkan kata pembunuhan dan perzinaan dalam Surat Al-An’am, Al-Israa’, Al-Furqan dan Al-Mumtahanah. Maha Benar Allah dengan Segala Firman-Nya.


Dalam sebuah kisah yang di riwayatkan oleh al-bukhari, “Dari Abu Hurairah r.a bahwa seorang lelaki telah berkata kepada Nabi SAW yang maksudnya: berwasiatlah kepadaku. Maka Rasulullah SAW bersabda: jangan kamu marah. Maka lelaki itu mengulangi kata-katanya berulang kali, dan Rasulullah SAW bersabda: jangan kamu marah”


Hasan al-basri pernah berkata: empat perkara jika siapa saja yang memilikinya maka Allah SWT memeliharanya dari syaitan dan mengharamkan ke atasnya api neraka: (yaitu) siapa saja yang mampu mengawal dirinya ketika dalam keghairahan, ketakutan, syahwat dan kemarahan.


Sesungguhnya kemarahan akan mengumpulkan segala macam keburukan. Reaksi seseorang yang sedang marah kelihatan dari wajahnya yang berubah menjadi kemerah-merahan, urat lehernya menegang, badan seakan-akan menggigil karena marah, kemudian suara menjadi kencang ketika mulut mengucapkan perkataan yang buruk dan keji (penghinaan). Biasanya juga secara fisik seorang yang marah dapat dilihat dari perbuatannya yang diluar kebiasaan sehari-hari, tiba-tiba memukul, menampar dan sebagainya secara tiba-tiba dan seakan hilang kendali.


Semua itu akan menyebabkan kemungkinan dapat menyakiti orang lain, yang pada akhirnya menimbulkan kebencian dan permusuhan satu sama lain. Sifat marah adalah sifat alami manusia namun sebagai seorang yang Muslim dan beriman kita hendaknya berusaha untuk menjauhkan diri dari segala hal yang menyebabkan kemarahan, dan ketika sampai dalam kondisi marah maka ingatlah pesan Rasulullah SAW agar berwudhu, sholat, duduk/berbaring dan tentunya memohon ampun kepada Allah SWT.


Didik Supriyanto