Gerakan Boikot Makin Menguat di Amerika, Israel Khawatir


Islamedia - Gerakan BDS (Boycot, Divestment and Sanction) yang menguat di lembaga pendidikan Amerika menjadi kekhawatiran Israel.


Seorang peneliti wanita yahudi Dr. Yaal Ashor menyampaikan analisa mengenai menguatnya gerakan pro Palestina dari para akademisi yang ingin memboikot dan memberi sanksi bagi Israel.


Seperti disiarkan TV10 Israel pada Rabu, (13/04/2016) lalu, dalam analisisnya Ya’al mengatakan bahwa seiring berjalannya waktu gerakan boikot ini semakin menguat terhadap negara Israel. Gerakan ini secara nyata telah menembus lembaga akademi di Inggris dan beberapa tahun terakhir telah diikuti oleh para akademisi Amerika yang bergabung untuk memboikot Israel.


Lebih lanjut, Ya’al menegaskan bahwa gerakan BDS adalah gerakan yang bekerja dengan aktif untuk melakukan boikot dengan berbagai macam bidang terhadap Israel baik boikot budaya akademi atau bahkan boikot politik. Gerakan ini adalah gerakan yang besar gaungnya dan mencatatkan beberapa capaian dari waktu ke waktu.


Bahkan di Amerika Serikat - negara sekutu Israel paling dekat - gerakan ini telah menembus dan menerobos ke perguruan tinggi-perguruan tinggi di Amerika. hal ini dikhawatirkan akan bisa menghancurkan Israel.


"Gerakan boikot BDS ini memiliki pengaruh Universitas Oxford di London, Inggris, dan dari sana bermula akarnya. Kemudian merembet di sejumlah lembaga pendidikan tinggi di Amerika Serikat", Ungkap Yaal seperti dilansir infopalestina, Jum'at (15/04/2016).


Menurut Yaal, gerakan boikot BDS ini muncul sekitar satu dekade tahun yang lalu dari sebuah konferensi di Durban, Afrika Selatan. Kemudian setelah 4 tahun bergerak ke Inggris dan sejumlah lembaga akademi Inggris melakukan boikot terhadap akademi dan perguruan tinggi Israel.


Akibat efek dari boikot BDS ini, beberapa tahun lalu seorang pelajar Yahudi di Universitas California Rachel Baida, menghadapi sejumlah pertanyaan saat ia sebagai warga Yahudi mencalonkan ketua mahasiswa dan ditanya tentang kemampuannya menjadi ketua Asosiasi pelajar di Inggris. Semuanya di kampus tersebut mengaitkan identitas yahudinya dengan Israel dan semuanya juga mempertanyakan bagaimana Israel bisa masuk ke sini.


Gerakan BDS ini juga menorehkan keberhasilannya di Amerika Serikat sekitar 3 tahun lalu di mana sejumlah sekelompok akademisi Amerika yang dipimpin oleh Prof. Naom Chomsky yang terkenal dan pakar fisika Profesor Stephen Hawking yang membatalkan keikutsertaannya dalam Konferensi Utama di Jerusalem.[islamedia/PIP/YL]