Peta Kekuatan Politik Mesir Kian Tak Sejalan dengan As-Sisi dan Rezim Kudeta


Islamedia - Dua kekuatan politik di Mesir secara terbuka menyerukan diselenggarakannya pemilu lebih dini. Kedua kekuatan politik itu, Front Popular Anti-Ikhwanul Muslimin Mesir dan Kongres Merdeka untuk Kebebasan pada Jum'at (1/1/2016) lalu, juga menyerukan agar Presiden As-Sisi lengser dari kursinya, demikian kantor berita Anadolu melaporkan sebagaimana diangkat Middle East Monitor pada Sabtu (2/1/2016) lalu.

"Mesir sedang diperhadapkan kepada gelombang kezaliman, penindasan, dan penyiksaan yang belum pernah terjadi sebelumnya dari rezim berkuasa," kata kedua kekuatan politik itu dalam sebuah pernyataan bersama. "Setiap warga Mesir dengan suara menuntut kebebasan seolah adalah bakal penghuni tahanan... Rezim sedang menghembuskan nafas kegagalan di semua tingkatan."

Pernyataan kedua kekuatan politik itu mengemuka setelah sebelumnya ada dua seruan serupa selama dua bulan terakhir, untuk mendesak agar As-Sisi mundur. Seruan pertama diutarakan partai politik Mesir Kuat yang dipimpin oleh mantan kandidat presiden Abdul-Monem Aboul Fotouh, dan lainnya dikeluarkan oleh kelompok Gerakan 6 April.

Pada akhir Desember tahun 2015 lalu, Partai Mesir Kuat (PMK) yang dipimpin Aboul Futuh, juga melancarkan kritik kerasnya terhadap aparat keamanan Mesir. Aparat itu dikritik sebagai masih mempraktikkan "represi, penculikan, dan penyiksaan terhadap pemrotes."

PMK juga menyatakan bahwa Revolusi 25 Januari "hadir untuk menentang praktik-praktik (menyimpang) dari pasukan keamanan terhadap rakyat Mesir."

"Pasukan keamanan tidak belajar dari pengalaman pada revolusi Januari," kata pernyataan PMK itu, seraya menekankan bahwa pasukan keamanan Mesir sekadar melanjutkan tindakan-tindakan zalim dari rezim pra-Revolusi 25 Januari.

Partai Aboul Futuh itu lebih lanjut mengecam kinerja rezim As-Sisi. "Kemarahan rakyat atas kinerja pemerintah terkait dengan berbagai mega proyek yang menghamburkan uang rakyat tanpa hasil yang jelas, kelaliman aparat polisi, krisis bendungan sungai Nil, memburuknya berbagai layanan untuk masyarakat, dan meruaknya kroniisme."

Anadolu juga melaporkan bahwa pada awal pekan di akhir tahun lalu, dilakukan operasi penangkapan aktivis secara luas. Operasi itu dibaca para analis sebagai langkah pencegahan dari rezim kudeta Mesir yang menyasar kekuatan oposisi, menjelang perayaan lima tahun Revolusi 25 Januari mendatang. (ismed/memo/aacomtr)