Pidato di Jerman, BJ Habibie Tegaskan Islam Tidak Identik Dengan Terorisme


Islamedia - Islam menjadi kembali sorotan dunia setelah serangan terorisme yang terjadi di Paris beberapa waktu lalu. Dunia seakan menuding ideologi radikal Islam berada dibalik memicu aksi teror itu.

Presiden Republik Indonesia ketiga, Bacharuddin Jusuf Habibie yang menjadi pembicara di sebuah seminar 'Demokrasi dan Islam di Berlin, secara tegas menolak tudingan Islam mengajarkan kekerasan dan berada di balik aksi-aksi terorisme.


Ia meyakinkan bahwa Islam sama sekali tidak identik dengan aksi kekerasan dan terorisme, dan sangat sesuai dengan nilai-nilai demokrasi. "Para pelaku teror itu tidak ada kaitan dengan Islam. Mereka adalah pelaku tindak kriminal," kata Habibie, seperti dikutip dari Republika, Kamis (10/12/2015).


Dalam acara yang digelar Harris Seidel Siftung tersebut, Habibie menjelaskan bagaimana Islam bisa sangat kompatibel dengan demokrasi di Indonesia. Hubungan serasi yang terus berjalan di Indonesia itu, lanjut Habibie, tentu saja bisa menjadi panutan dan pelajaran penting bagi Muslim di Jerman, tentang bagaimana mereka bisa bersatu dengan masyarakat lokal.


Ia menerangkan meski Indonesia menjadi negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, dengan 221,8 juta umat Islam, tapi tidak serta merta menjadi negara Islam. Habibie menuturkan kalau Indonesia sangat pluralistik. Terdapat ratusan suku dan etnis dengan agama yang berbeda-beda, akan tetapi agama dan budaya bisa berjalan beriringan.


Untuk menyatukan beragam agama, budaya, kelompok, etnis dan suku, Habibie mengungkapkan Indonesia memiliki Pancasila sebagai pengikat bangsa. Ia menyarankan kepada warga Jerman, termasuk mereka yang beragama Muslim, untuk mengadaptasikan budaya dan agama agar tidak terjadi benturan dengan berbau atau mengatasnamakan agama dan budaya.


“Budaya dan agama sangat erat berhubungan dan menentukan perilaku manusia dalam kehidupan bermasyarakat,” ujar pria yang akrab disapa Eyang tersebut.[islamedia/rol/YL]