Nabi yang Mulia itu Bernama Isa (Alaihissalam)


Wanita yang mulia itu tetiba pergi menjauh dari keluarga dan khalayak ramai. Di dalam rahimnya yang suci, terdapat calon bayi yang kelak akan menjadi utusan Ilahi. Sebelumnya ia bertanya-tanya, bagaimana mungkin ia akan melahirkan seorang putera. Jangankan berzina, bersentuhan dengan lelaki yang bukan mahramnya saja tak pernah! Tapi, apa yang tak mungkin bagi Allah Yang Maha Kuasa lagi Perkasa.

Waktu terus berputar, da usia kehamilannya pun semakin tua, membuatnya payah dan lemah. Di sebuah pohon kurma, ia sandarkan tubuhnya. “Aduhai, alangkah baiknya jika aku mati sebelum ini, dan menjadi tak berarti lagi dilupakan”, keluhnya sambil menahan rasa sakit.

Ruhul Qudus, malaikat Jibril yang suci pun turun dari langit dan menghibur dirinya yang hampir putus asa. Beberapa saat kemudian, si bayi pun akhirnya terlahir ke dunia.
Kelak, ketika bayi itu ditunjukkan kepada kaumnya, mereka rasa tak percaya. Mereka memandang miring dan menganggap wanita itu telah berbuat yang tidak-tidak. “Ayahmu…”, kata salah seorang di antara mereka. “Sekali-kali bukanlah orang yang jahat, dan ibumu bukan pula seorang pezina!”

Dengan izin Allah, si bayi pun berbicara. Ya, berbicara! Ia bela kehormatan sang ibunda dengan perkataan yang tegas dan lugas. “Sesungguhnya, aku adalah hamba Allah. Dia memberikanku Kitab dan Dia menjadikanku seorang Nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi dimana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (untuk melaksanakan shalat), (menunaikan) zakat selama aku hidup, dan berbakti kepada ibuku. Dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Kesejahteraan semoga dilimpahkan padaku, pada hari kelahiranku, pada hari wafatku dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.”
————————

Itulah sepenggal episode perjalanan hidup Nabi Isa dan ibunya yang mulia, Maryam. Dalam bahasa Inggris, mereka dikenal dengan nama Jesus dan Maria. Kami, umat Islam diperintahkan untuk mengimani kenabian Isa, serta membenarkan risalah-risalah yang ia sampaikan kepada umatnya.

Sebagaimana Nuh, Ibrahim, Ismail, Ishak, Yusuf, Musa, Harun, Daud, Sulaiman, dan juga Muhammad SAW, Allah SWT mengutusnya untuk menyampaikan kabar gembira dan memberikan peringatan bagi mereka yang ingkar pada-Nya. Nabi Isa alaihissalam juga dititahkan oleh Allah SWT untuk mengajak kaumnya untuk beribadah, menyembah dan meminta hanya kepada-Nya semata. Tidak menyekutukan-Nya, tidak menduakan apalagi mentigakan-Nya dengan makhluk ciptaan-Nya. Maha Suci Allah dari itu semua. Tidak sah keimanan seorang Muslim. Sekali lagi, tidak sah keimanan seorang Muslim jika mereka tidak mengimani kenabian Isa alaihissalam.

Berbeda halnya dengan Muslim, orang Yahudi – yang menganggap bahwa mereka adalah bangsa pilihan Tuhan – memiliki pandangan yang berbeda terhadap Isa dan ibunya, Maryam. Mereka menganggap Isa sebagai “the False Messiah”, Messiah palsu. Bahkan yang ekstrim di antara mereka ada yang berpendapat bahwa Isa atau Jesus adalah “anak haram dari wanita pezina.”

Terhadap pribadi Isa, Muslim berada pada pihak yang moderat. Tidak mengagungkan secara berlebihan dan menganggapnya sebagai salah satu unsur Tuhan dan tidak pula memandangnya sebagai anak haram dari wanita pezina. Isa alaihissalam adalah manusia biasa – biasa makan, minum dan tidur sebagaimana kita – yang diutus oleh Allah SWT sebagai seorang Nabi dan Rasul. Dia memiliki mukjizat sebagaimana Ibrahim yang tak terbakar api yang membumbung tinggi mengangkasa, Musa yang membelah laut Merah dengan tongkatnya, atau juga Sulaiman yang bisa bercakap-cakap dengan binatang dengan segala rupa, semua atas izin-Nya semata. Dengan izin Allah pula, Isa bisa menyembuhkan mereka yang buta atau kusta, bahkan menghidupkan orang mati yang telah lama terkubur di dalam tanah.

Dan nanti pada akhirnya, di hari penghakiman kita akan tau siapa pribadi Isa yang sebenarnya. Di hadapan mereka yang dulu menyembahnya, dan juga seluruh umat manusia, Allah Yang Maha Agung akan bertanya padanya, “Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?”.

Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib”.

Isa juga mengatakan, “Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.” (QS. 5: 116-117)

Mudah-mudahan tidak ada ratapan penyesalan dari kita. Semoga Allah menuniukkan jalan-Nya yang lurus pada kita semua dan semoga keselamatan dianugerahkan kepada Nabi Isa dan Maryam, ibunya.

Sumber : faisalfatih