Meski Diblokade Israel, Pemuda Gaza ini Sukses Bangun Startup Bisnis


Islamedia - Sebagai siswa yang lulus dari jurusan komputer dua tahun lalu, Mohammed Qudih awalnya takut tidak menemukan pekerjaan di Jalur Gaza, teritori yang porak poranda akibat perang di mana hampir separuh penduduknya tidak bekerja.


Sekarang, insinyur berusia 25 tahun tersebut bisa berbicara dengan bangga tentang perusahaan miliknya, dengan 25 karyawan tetap dan biaya sebesar $40,000 yang ia keluarkan untuk mendesain kantor dan furniturnya.


Perusahaan tersebut, yang diberi nama Haweya for Information Technology, mempunyai spesialisasi dalam branding bisnis baru atau bisnis yang mengalami restrukturisasi. Dalam bahasa Arab nama itu berarti “identitas.”


“Saya terkejut dengan keadaan kerja yang menyedihkan di Gaza; tidak ada pekerjaan dan sulit mendapatkan pekerjaan, sangat sulit. Ide saya datang dari situ,' kata Qudih, yang duduk di belakang laptop berwarna putih di meja kayunya yang berwarna gelap. seperti dilansir voaindonesia.com, Rabu (12/9/2015).


Ini adalah kisah sukses yang langka di Gaza, yang ekonominya terpukul oleh blokade Israel dan Mesir dan perang 50 hari antara Israel dan penguasa teritori Hamas tahun lalu.


Qudih mengatakan ia sudah memiliki ide untuk perusahaannya sejak masuk universitas pada tahun 2009. Lima tahun kemudian, Haweya melihat kesempatan saat menerima bantuan dari proyek Mobaderoon. Program tersebut, yang artinya “entrepreneur” atau pengusaha dalam bahasa Arab, dikelola oleh Asosiasi Kesejahteraan Palestina, sebuah badan pengembangan, dengan dana dari Dana Arab untuk Pengembangan Ekonomi dan Sosial yang berbasis di Kuwait.


Kini ada empat inkubator dan akselerator bisnis di Gaza, yang memberikan bimbingan dan bantuan keuangan kepada calon pengusaha teknologi tinggi.


“Kita bisa bilang ini tren,” kata Yousef Elhallaq dari Mobaderoon. “Ini fenomena di Gaza dan minat pada bidang ini, sebagian didorong oleh tingkat pengangguran.”[islamedia/voa/YL]