Tanpa Tarbiyah, Kita Punah


Tanpa Tarbiyah, Kita Punah

By: Nandang Burhanudin
*****

Mentarbiyah diri tak akan pernah purna hingga kita meraih surga. Tarbiyah perlu proses mujahadah. Tidak tergantung pada siapa dan apa marhalah. Karena pada faktanya, kupu-kupu tak mampu menyematkan nama kita pada kilau bintang di langit. Sebagaimana ikan tak lagi mampu menggoreskan asa kita di hamparan samudra.

Tarbiyah diri mendegupkan gema mahabbah di dalam jantung. Terus berpijar getar demi getar dalam ide-ide besar. Sibuk menebar jejak, melayangkan pandang. Tak lagi tergoda tarian burung atau menyimak percakapan pohon dan rerumputan. Tarbiyah diri mengokohkan jiwa, agar tak lagi risau dengan desau angin yang mengugurkan embun dari helai dedaunan.

Perih tajam kerikil, hingga kerongkongan tak lagi tersentuh hujan. Namun tarbiyah melarikan sebutir cahaya. Butiran air yang berkilau dari gugusan rembulan yang bulat penuh. Memang tak akan ada kilau pelangi. Namun cahaya itu, menguatkan sayap tak seperti bulu-bulu yang gugur dari sayap burung segagah burung gagak.

Tarbiyah tentang sekelumit cinta. Mendobrak dinding-dinding lapuk berlumut yang kerap menjadi petaka yang memenjara jiwa. Memupus gersang dengan gemercik sungai perhatian. Tarbiyah memaksa kita mengarungi malam demi malam, menepis debu demi debu, bahwa di atas semua ikhtiar manusia ada Allah Sang Maha Pecinta.

Jadi kawan. Mari kembali teguhkan diri. Tarbiyah sejati bukan merajut mimpi jaring laba-laba. Saatnya kita ikrarkan diri. Aku tak akan tidur atau terkubur. Aku bukan pula benih hampa. Aku tak akan terbelenggu ketidakberdayaan. Patut untuk dicatat sebuah kesadaran: tanpa proses tarbiyah diri, aku bukanlah siapa-siapa.

Sumber : Giralda Aufa Naim