Masyarakat Sunda dan Islam itu Beriringan


Masalah utama bukan di ‪#‎Campurracun‬ tapi adalah bagaimana Dedi Mulyadi sebagai pupuhu Purwakarta selalu menggunakan SUNDA sebagai alat untuk berkuasa, bukan sebagai pemersatu Etnis. Kang Dedi Mulyadi lupa, masyarakat Sunda dengan Islam itu selalu beriringan.

Sejarah kebudayaan Sunda dipengaruhi oleh agama Islam sehingga menjadi Sunda seperti dewasa ini.

Rakean Santang adalah tokoh yang sukses mengislamkan urang Sunda. Mengembalikan Sunda pada wiwitannya: beragama Tauhid, mengesakan Alloh SWT yang pada masa pra Islam dikenal karuhun kita dengan nama Sanghyang Tunggal.

Itulah mengapa peradaban Sunda tidak meninggalkan warisan patung, candi, dan sejenisnya yang menandakan SUNDA tidak mengenal perantara dalam beribadah. Sama seperti Islam, yang datang menyempurnakan syariat Sunda kembali ke asalnya: Tauhid, monoteis.

Ekspos pelesetan #campurracun yang diucapkan Habib Rizieq oleh segolongan komunitas yang mengaku Sunda, justru menunjukkan kekurangtahuan mereka akan sejarah dan kultur etnisnya sendiri.
Karuhun Sunda tidak pernah marah hanya oleh pelesetan sebuah kata yang pada esensinya sudah kehilangan makna pada masyarakat Sunda hari ini.

Sampurasun dan Rampes, memang menjadi identitas Sunda. Tetapi marah-marah hanya karena kata itu justru jauh dari semangat SILIHWANGI. Silih asah, silih asuh, silih asih.

Sumber : fb Ricky N. Sastramihardja