Titip Doa untuk Mereka di Gaza Palestina


Islamedia - Di belahan bumi lain, Jalur Gaza Palestina, saat ini. Secara arogan, Zionis Israel memuntahkan ribuan ton amunisi ke rakyat Palestina. Pagi, siang hingga malam, pesawat-pesawat Zionis meraung-raung di udara Gaza, melepaskan bom dan peluru kendali menyasar negeri Muslim tersebut.


Korban pun tak terelakkan. Dewasa hingga anak-anak, meregang nyawa. Tak terhitung mereka yang cacat akibat terkena peluru panas. Fasilitas umum, seperti gedung-gedung sekolah, rumah sakit, gardu listrik, kantor bulog dan air minum serta fasilitas lainnya, hancur, rata dengan tanah.


Entah, berapa banyak anak-anak yang tertimbun reruntuhan bangunan. Entah berapa banyak anak-anak menjadi yatim piatu karena kehilangan orang tuanya. Entah berapa banyak dari mereka yang berhenti sekolah. Dan entah berapa banyak lagi dari mereka yang kini tak memiliki rumah. Sebuah beban dan penderitaan yang tak terperi.


Meskipun demikian saudaraku,
Rakyat Palestina, tidak pernah mengeluh dan berputus asa. Meski mendapat tekanan Zionis yang luar biasa, kewajiban menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya, tidak pernah ditinggal. Mushalla-mushalla penuh dipadati para pemuda dan dewasa yang menjalani shalat wajib berjamaah. Bahkan, jumlah yang shalat Subuh berjamaah di masjid, sama dengan mereka yang shalat Jum’at.


Walau embargo masih diberlakukan, namun shaum (puasa) sunnah Senin-Kamis, tetap dijalankan. Shalat Tahajud, zikir pagi-sore dan shalawat kepada Rasulullah Saw juga terus dilakukan. Bahkan, ini yang membuat hati ini terkagum-kagum, anak-anak Palestina tetap bersemangat mempelajari dan menghapal al-Qur’an.


Meski banyak fasilitas pendidikan rata dengan tanah, namun itu ternyata tak menjadi kendala bagi anak-anak Palestina untuk mencintai dan menghapal Qur’an. Mereka sulap kamp-kamp pengungsian yang fasilitas seadanya tersebut sebagai madrasah hifdzil Qur’an. Tak terbesit sedikit pun rasa takut, mereka, anak-anak Palestina belajar dan menghapalkan Qur’an di tengah-tengah bombardir tentara Zionis. Mereka pelajari Qur’an dengan sepenuh hati. Karenanya, tidak mengherankan bila di tengah-tengah tekanan Zionis, justru terlahir ribuan para penghapal Qur’an. Subhanallah.


Saudaraku,
Di negeri ini, negeri kita, saat ini. Dua ratus juta orang memeluk agama Islam. Umat Islam bebas menjalankan ibadahnya. Di negeri ini, ribuan, bahkan jutaan masjid, mushalla berdiri di berbagai pelosok negeri. Tak salah bila, negeri ini disebut juga negeri jutaan masjid karena masjid sangat mudah dijumpai di banyak tempat.


Di negeri ini, negeri kita, saat ini. Jutaan buku-buku Islam, buku motivasi Islam memenuhi banyak toko buku. Ribuan, mungkin juga puluhan juta mushaf al-Qur’an dicetak banyak penerbit Qur’an. Dari negeri ini, negeri kita, jutaan orang juga telah menjalani ibadah umrah dan haji ke Makkah-Madinah. Bahkan, negeri ini masih tercatat sebagai negeri yang terbesar mengirimkan jamaah hajinya ke Tanah Suci.


Di luar itu, masih banyak lagi fenomena menakjubkan yang menjadi keistimewaan negeri ini. Selain mayoritas berpenduduk Muslim, negeri ini juga dikenal memiliki kekayaan alam yang berlimpah. Negeri ini juga memiliki keindahan pemberian Allah SWT yang bakalan membuat setiap orang terpesona. Pastinya, negeri ini relatif damai, jauh dari konflik, seperti yang terjadi di belahan bumi lainnya, seperti Palestina dan Syuriah.


Namun, yang terjadi sebaliknya saudaraku,
Jutaan masjid dan mushalla berdiri, namun yang shalat Subuh berjamaah di masjid cuma beberapa shaf. Bahkan, di banyak mushalla, jamaah shalat Subuh dapat dihitung dengan jari. Berapa orang yang bangun untuk shalat malam? Entahlah...ada berapa banyak orang yang terbangun di tengah malam, kemudian bercengkrama dengan-Nya dalam shalat Tahajudnya.


Jutaan fasilitas pendidikan yang baik berdiri di negeri ini, namun waktu pelajaran Qur’an, sangatlah sedikit. Orang tua yang memasukkan anaknya ke pesantren atau madrasah penghafal Qur’an, jumlahnya juga bisa terhitung. Wajar saja jika negeri ini termasuk paling sedikit melahirkan para penghapal Qur’an. Padahal, negeri ini tercatat sebagai negeri berpenduduk Muslim terbesar di dunia.


Entah di mana salahnya, tidak sedikit generasi muda di negeri ini terjebak sikap hedonis, senang berhura-hura, ketimbang menyibukkan diri pada kegiatan yang bermanfaat. Ada juga sebagian yang justru terjerumus pada pergaulan bebas. Bahkan, banyak juga yang terperosok ketergantungan pada obat-obatan terlarang, narkotika, minum keras dan sejenisnya.


Ini lebih parah lagi. Terpengaruh tujuan pragmatis, secara tidak sadar, banyak orang tua yang menghancurkan anaknya sendiri. Untuk meraih popularitas cepat, mereka menjorokkan anak-anaknya mengikuti popularitas kelompok-kelompok pemuda yang tidak jelas, seperti Boy Friend, Super Junior, Big Bang, Girls Generation, Kara, EXID, Wonder Girls dan lainnya. Padahal, life style mereka sangat bertolak belakang dengan nilai-nilai Islam. Naudzubillahi mindzalik.



Saat ini, di negeri ini, begitu banyak fasilitas dan kemudahan Rabb berikan untuk kita. Bumi yang indah, menawan dan kaya dengan sumber daya alam, bak surga. Kondisi negeri yang aman tentram, jauh dari pertengkaran dan konflik yang berdarah-darah.


Namun, apakah ada yang menjamin Dia akan selamanya memberikan ketentraman dan kenyamanan itu di negeri ini? Adakah pula yang bisa menjamin negeri ini tidak jatuh ke jurang perselisihan yang berdarah-darah seperti yang terjadi di beberapa belahan dunia lainnya? Tidak ada seorang pun yang bisa menjawabnya. Semuanya menggeleng, semuanya tidak tahu. Ya, karena hal ini adalah rahasia Ilahi Rabbi.


Karenanya, jangan lagi menunggu waktu. Segeralah bertaubat, memohon ampunan atas segala khilaf dan kelalaian yang pernah kita lakukan selama ini. Datangilah Dia pagi, siang, sore dan malam hari. Bangunlah di waktu malam saat kebanyakan orang masih hanyut terlelap di atas kasur empuknya. Kemudian, bersungkur sujudlah di hadapan-Nya. Titip satu doa untuk saudara-saudara kita yang saat ini sedang berjuang melawan kezaliman di Palestina, Suriah, Mesir, di negeri ini dan di mana saja. Semoga Allah bantu mereka. Dia beri kekuatan iman dan Islam kepada mereka.


Rivai Hutapea