Intifadhah III dan Regenerasi Pejuang Palestina


Islamedia - Jika anaknya Mahmoud Abbas, kini berusia 62 tahun sibuk "menikmati" gemerlap DUGEM di Dubai. Meresapi tarian telanjang dan lagu-lagu erotis. Tidak demikian halnya anak-anak muda pejuang Palestina.


Tarbiyah Hamsawiyyah (Pendidikan ala HAMAS), mendorong anak-anak muda usia 10 -35 tahun, berada di garda terdepan Intifadhah III. Menyongsong kematian syahid, demi sebuah kehormatan yang tiap detik dilecehkan.


Generasi usia 10-35 tahun. Bahkan kebanyakan di bawah 20 tahun. Mereka adalah generasi yang belum ikut serta dalam 2 Intifadhah sebelumnya. Mungkin mereka hanya membaca dari buku sejarah atau kaleidoskop Palestina.


Generasi yang sejak lama menjadi garapan Jenderal Keith Dayton, Legiun perang AS yang menjadi Kepala Koordinator Keamanan Amerika di Timur Tengah, khususnya di Palestina dan Zionis Israel.


Dalam proposal proyek Dayton, solusi 2 negara Palestina-Israel akan tercapai jika generasi muda Palestina diikutsertkan dalam gerbong "kemakmuran ekonomi". Virus yang acap mematikan perlawanan terhadap penjajah di banyak belahan dunia.


Dalam kerjanya, Dayton membentuk Tim Koordinasi Keamanan Amerika atau yang disingkat dengan USSC (United States Security Coordinators Team). Tugas intinya: melemahkan jabhah sya'biyyah Palestiniyyah (Front Rakyat Palestina).


FRP terdiri dari anasir-anasir perlawanan di seluruh Palestina. Ada yang berhasil dilunakkan, dengan tidak lagi mengangkat senjata. Ada yang sibuk mengangkat spanduk-spanduk dalam demonstrasi damai.


Spanduk berisi seruan kepada dunia Islam untuk mengirimkan pasukan militernya. Hal yang diketahui Israel sangat mustahil saat ini. Di saat Israel membunuhi siapapun yang melawan walau hanya dengan lemparan batu.


Generasi muda Palestina ini, memberontak terhadap kebijakan kaum sepuh. Tak lagi peduli dengan Mahmoud Abbas, Uraiqat, atau Dahlan. Mereka merespon ajakan Jubir HAMAS, "Hadzza Huwal Khiyaar" (Pisau ini adalah pilihan) untuk berjuang.


Israel menghadapi kebangkitan Intifadhah III dengan senjata mematikan: Peluru tajam, granat, gas beracun, air kimia, plus senjata dengan peluru yang dapat membelah tubuh.


Tapi generasi ajaib ini tak ada takutnya. Pantas seorang menteri Israel memerintahkan untuk membunuhi kaum wanita Palestina dan membantai anak-anaknya yang masih bayi. Bandingkan dengan generasi muda Israel. Kelaut sudah pasti!


Pantas saja, Syaikh Ahmad Yasin, Ruh pejuang Palestina memprediksi. Tahun 2027 adalah awal dari kehancuran Israel. Apa sebabnya? Syaikh Ahmad Yasin menyebutkan. Sebabnya siklus 40 tahunan pergantian generasi.
Saya berhitung. Jika Intifadhah III didominasi generasi umur 15-20 tahun. Berarti tahun 2027, generasi ini akan menginjak umur: 27-35 tahun. Generasi segar, bugar, kekar, dan cetar bukan?


Intifadhah III, membuat 70 % warga penjajah di Al-Quds Timur dalam survey Lembaga Survey Israel berkeinginan kuat untuk hengkang dari wilayah pendudukan.


Generasi tua seperti Abbas, Dahlan, Uraiqat yang terbukti menggadaikanperlawanan Palestina untuk fasilitas mewah, akan sirna. Saat itu Palestina merdeka, bukan hanya kibaran bendera di PBB!


Bagaimana dengan Indonesia? Akankah kita biarkan generasi 70 tahun lebih mengelola negeri ini? Tidak! Kita siapkan generasi pejuang yang akan mengimplementasikan amanat UUD 45 dan Pancasila. "Kemerdekaan adalah hak segala bangsa!"


Allahu Akbar! Harapan itu selalu ada! Jadikan anak-anak kita harapan itu! Jauhkan anak-anak kita dari perilaku apatis, hobi mencaci maki keadaan tanpa bisa memberi solusi!



Nandang Burhanudin